Bisnis

Meeting Results: Asaki dorong pembahasan suplai gas untuk pacu industri keramik

Asaki Dorong Suplai Gas untuk Dorong Industri Keramik

Meeting Results – Dalam meeting results yang diumumkan hari ini, Jakarta – Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, penyedia gas, dan pengusaha dalam menangani masalah pasokan serta tarif gas bumi. Kepala Asaki, Edy Suyanto, mengungkapkan bahwa gas bumi menjadi faktor utama yang menentukan kelangsungan industri keramik nasional. Dengan melihat hasil meeting results ini, tampak bahwa keberlanjutan industri keramik memerlukan kebijakan yang lebih terpadu.

Gas Bumi: Penentu Kinerja Industri Keramik

Edy menjelaskan bahwa kenaikan harga gas bumi telah berdampak signifikan pada operasional perusahaan keramik. Ia menyoroti bahwa permasalahan ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dirasakan oleh negara-negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Dalam meeting results yang disampaikan, Edy menekankan bahwa pemerintah harus terlibat aktif dalam mencari solusi untuk mengatasi tantangan tersebut.

“Dengan kondisi harga gas yang terus meningkat, kita perlu melakukan evaluasi menyeluruh untuk memastikan industri tetap berjalan optimal,” tutur Edy.

Menurut data yang diberikan, harga gas di Thailand telah naik dari 9 dolar AS per MMBTU menjadi 12 dolar AS per MMBTU. Di Malaysia, kenaikan harga gas tercatat dari 9,4 dolar AS per MMBTU ke 10-11 dolar AS per MMBTU. Sementara itu, di Indonesia, industri keramik hanya menerima 40 persen pasokan gas dengan tarif khusus sebesar 7 dolar AS per MMBTU, sedangkan kebutuhan sisanya harus dibayar dengan harga lebih tinggi. Hal ini membuat biaya produksi secara umum meningkat, mengganggu kemampuan industri kompetitif.

Strategi Pemerintah untuk Stabilkan Pasokan Gas

Edy menambahkan bahwa dalam meeting results ini, Asaki menyarankan adanya transparansi dari pihak penyedia gas terkait struktur harga. Ia mengatakan bahwa harga gas yang diberikan harus selaras dengan kondisi pasar global agar tidak terjadi kesenjangan yang berlebihan. “Jika harga gas ekspor Indonesia berada di kisaran 8 dolar AS per MMBTU, industri domestik justru harus membeli dengan harga yang sama atau lebih tinggi. Kondisi ini perlu dikaji bersama,” ujarnya.

Menyikapi masalah tersebut, pemerintah terus berupaya menegaskan kebijakan yang mendorong ketersediaan gas bumi. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat bahwa kapasitas produksi industri keramik mencapai sekitar 650 juta meter persegi per tahun, dengan tingkat utilisasi sebesar 73 persen. Sejumlah perusahaan yang beroperasi di wilayah Jawa dan Sumatra, misalnya, mengalami tekanan signifikan akibat kenaikan biaya energi.

“Kebijakan yang diambil dalam meeting results ini diharapkan bisa menjadi dasar untuk konsultasi lebih lanjut antara pemerintah dan industri,” jelas Edy.

Dalam upaya menangani krisis suplai gas, Asaki mengusulkan adanya peningkatan investasi di sektor energi. Edy menegaskan bahwa industri keramik membutuhkan kepastian pasokan dan harga yang stabil agar bisa berproduksi secara optimal. Dengan adanya dukungan yang lebih baik dari pemerintah, industri ini diperkirakan bisa meningkatkan utilisasi hingga 80 persen dalam dua tahun ke depan.

Leave a Comment