Bisnis

Menhub: 35 izin pesawat asing perkuat penanganan karhutla Kalimantan

khrisna-edit-1788299620-9061ae5591
Foto : Jennifer Jackson - beritaturah.com
Table of Contents
  1. Armada Udara Asing Dipercepat untuk Padamkan Api di Kalimantan
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Armada Udara Asing Dipercepat untuk Padamkan Api di Kalimantan

Beritaturah.com – Menhub – Kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah kawasan di Kalimantan kini menempati posisi paling atas dalam daftar prioritas penanganan bencana nasional. Untuk menutupi kekurangan armada pemadam udara yang belum tersedia secara memadai di dalam negeri, pemerintah menerbitkan izin operasional bagi 35 pesawat berregistrasi asing. Langkah ini memungkinkan helikopter dan pesawat dari luar negeri segera diterjunkan ke titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau oleh sarana darat.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa otoritas penerbangan nasional tidak akan menunda pemberian izin selama kebutuhan pemadaman masih mendesak. Pernyataan itu ia sampaikan seusai mengikuti Rapat Kerja bersama Komisi V DPR RI di Jakarta, Selasa.

“Pada intinya kita akan selalu mendukung apa yang menjadi prioritas. Seperti penanganan kebakaran ini kan menjadi prioritas utama pada saat ini. Dalam jangka pendek ini juga harus segera dipadamkan.”

Dudy menjelaskan bahwa pesawat-pesawat tersebut didatangkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai respons atas eskalasi kebakaran yang melumpuhkan aktivitas masyarakat dan mengancam ekosistem di beberapa provinsi Kalimantan. Pemerintah pusat memberikan dukungan operasional penuh agar armada asing dapat langsung digunakan dalam misi pemadaman tanpa hambatan birokrasi.

“Kita membutuhkan segala prasarana, yang dibutuhkan untuk memadamkan termasuk pesawat-pesawat asing yang kebetulan tidak dimiliki di Indonesia. Jadi, kita datangkan, didatangkan oleh BNPB, kemudian digunakan untuk pemadaman dan kita memberikan izin.”

Mekanisme Perizinan dan Peran Kemenhub

Kementerian Perhubungan menjalankan tiga fungsi sekaligus dalam proses ini: mempercepat penerbitan izin penerbangan, menyediakan dukungan operasional di lapangan, serta melakukan pengawasan keselamatan penerbangan. Dengan mekanisme percepatan tersebut, seluruh izin bagi 35 pesawat asing telah diterbitkan sehingga armada dapat beroperasi tanpa menunggu prosedur administratif yang berlarut-larut.

Dudy memastikan tidak ada satu pun pesawat yang tertahan di tahap perizinan. Seluruh armada sudah aktif membantu upaya pemadaman dari udara selama masa darurat karhutla masih berlangsung.

“Oh ya pesawat-pesawat tersebut sudah beroperasi untuk menangani karhutla. Itu kan sudah kita berikan izin semua. Tadi kan ada sekitar 35 pesawat.”

Detail Armada: 11 Operator, Delapan Negara, 36 Helikopter

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa merinci bahwa 35 izin penggunaan pesawat registrasi asing yang telah diterbitkan mencakup 11 pemegang Air Operator Certificate (AOC) yang berasal dari delapan negara berbeda. Secara keseluruhan, armada yang beroperasi terdiri atas 36 helikopter — angka yang sedikit melebihi jumlah izin karena beberapa operator mengoperasikan lebih dari satu unit.

Negara asal armada tersebut meliputi Australia, Rusia, Amerika Serikat, Ukraina, Selandia Baru, Laos, Vietnam, dan Kanada. Keragaman asal negara ini mencerminkan keterbatasan armada pemadam udara domestik serta kebutuhan mendesak untuk mengerahkan kapasitas dari berbagai sumber internasional.

Lukman menyampaikan informasi tersebut saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin (24/7). Ia menekankan bahwa percepatan perizinan dilakukan tanpa mengorbankan standar keselamatan penerbangan. Setiap pesawat asing yang beroperasi di ruang udara Indonesia tetap tunduk pada regulasi yang berlaku dan pengawasan ketat dari otoritas penerbangan sipil.

Operator yang Terlibat

Sebelas AOC yang memperoleh izin penggunaan pesawat registrasi asing untuk misi karhutla Kalimantan adalah: Ersa Eastern Aviation, Genesa Dirgantara, Falcon Patriot Utama, Pegasus Air Service, Whitesky Aviation, Smart Cakrawala Aviation, Elang Nusantara Air, Intan Angkasa Air Service, Volta Pasifik Aviasi, Dabi Air Nusantara, dan Derazona Air Service. Sebagian besar dari operator ini mengoperasikan helikopter yang dirancang atau dimodifikasi untuk membawa dan menjatuhkan air atau bahan kimia pemadam di atas titik api.

Mengapa Helikopter Menjadi Pilihan Utama

Dudy menjelaskan bahwa mayoritas pesawat asing yang dikerahkan adalah helikopter karena jenis pesawat ini memiliki keunggulan operasional yang signifikan dalam konteks pemadaman kebakaran hutan. Helikopter mampu mendarat di area sempit, bermanuver di dekat kanopi pepohonan, dan melakukan pengisian ulang air secara cepat dari sumber terdekat. Kemampuan tersebut menjadikannya instrumen yang jauh lebih efektif dibandingkan pesawat fixed-wing untuk menjangkau titik-titik kebakaran yang tersebar di kawasan hutan Kalimantan yang topografinya kompleks.

Keterlibatan armada asing ini juga menyoroti fakta bahwa Indonesia belum memiliki armada pemadam udara khusus dalam jumlah yang memadai untuk merespons kebakaran berskala besar secara simultan di berbagai wilayah. Sementara itu, musim kebakaran tahunan di Kalimantan terus menuntut kapasitas pemadaman udara yang cepat dan fleksibel. Dengan mekanisme percepatan perizinan yang telah diterapkan Kemenhub, pemerintah berharap respons udara terhadap karhutla dapat dilakukan dalam hitungan jam, bukan hari, sehingga dampak kebakaran terhadap kualitas udara, kesehatan masyarakat, dan keanekaragaman hayati dapat ditekan secepat mungkin.

Frequently Asked Questions

What is Menhub?

Menhub is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menhub matter?

Menhub matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment