Bisnis

New Policy: Kemenperin pacu ekosistem industri bambu lewat akademi komunitas

Kemenperin Luncurkan New Policy untuk Ekosistem Industri Bambu

New Policy – Dalam upaya mendorong pertumbuhan ekosistem industri bambu, Kemenperin meluncurkan New Policy yang bertujuan memperkuat sumber daya manusia (SDM) serta sistem produksi bahan baku nasional. Program ini dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Industri Agro sebagai bagian dari strategi nasional untuk memaksimalkan potensi bambu sebagai sumber daya alam terbarukan. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa New Policy ini dirancang untuk menjawab tantangan pengembangan industri bambu dalam meningkatkan daya saing di pasar global.

Pendekatan Komunitas dalam Pelatihan Teknis

“Bambu bukan hanya sekadar tanaman, tetapi menjadi komoditas strategis yang mampu mendorong pertumbuhan sektor ekonomi hijau,” kata Menperin. New Policy ini mengandalkan pendekatan komunitas untuk menghasilkan SDM berkualitas yang mampu menjadi penggerak utama di industri hilir.

Program Akademi Komunitas Bambu (AKB) mengintegrasikan pelatihan teknis untuk penanaman, pengawetan, dan pengolahan bambu. Metode ini bertujuan menciptakan komunitas pelaku usaha yang menerapkan praktik terbaik dan mampu mendorong produksi bahan baku yang lebih efisien. New Policy ini juga mencakup pembentukan pusat logistik bahan baku siap pakai, yang akan mendukung rantai pasok yang lebih kuat dan terpadu.

Dalam penerapan awal, AKB di Bali telah menghasilkan 25 lulusan Master Bambu melalui training of trainers (ToT). Putu Juli Ardika, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro, menjelaskan bahwa keberhasilan ini menjadi contoh bagus untuk implementasi New Policy di wilayah lain. Program ini dirancang agar peserta utama, yaitu pengusaha bahan baku, mampu menjadi pelatih di tingkat lokal dan mengembangkan kapasitas masyarakat sekitar.

Penekanan pada Praktik Lapangan dan Kolaborasi Swasta

“New Policy ini memberikan kelebihan dengan menggabungkan teori dan praktik langsung, sehingga peserta bisa langsung terapkan di lapangan,” ujar Putu. Komposisi pelatihan diatur dengan 30 persen teori dan 70 persen praktek, yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan teknis sekaligus membangun ekosistem industri yang lebih solid.

Perluasan New Policy akan mencakup Daerah Istimewa Yogyakarta, di mana Kemenperin berencana bekerja sama dengan sektor swasta melalui skema CSR. Contohnya, kerja sama dengan PT KT&G untuk membangun fasilitas pendukung, seperti asrama pelatihan dan unit pengawetan bambu. Hal ini menunjukkan komitmen Kemenperin untuk menciptakan ekosistem industri yang inklusif dan berkelanjutan.

Kabupaten Bangli, Bali, dianggap sebagai lokasi strategis karena memiliki infrastruktur dan mesin pengolahan yang memadai. Dalam kunjungan kerja, pihak Kemenperin telah mengevaluasi kesiapan ekosistem bambu dan merencanakan dukungan yang lebih besar. New Policy ini bertujuan memastikan pertumbuhan industri bambu yang berkelanjutan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Menurut Putu, keberhasilan New Policy bergantung pada partisipasi aktif dari masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah daerah. Dengan kolaborasi yang baik, industri bambu diharapkan bisa menjadi sektor unggulan yang menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah produk. New Policy ini juga dirancang untuk memperkuat rantai pasok yang stabil, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan.

Program AKB di bawah New Policy menjadi langkah konkret dalam mengubah paradigma pengelolaan bambu dari sekadar bahan baku menjadi produk bernilai tinggi. Dengan pelatihan yang terstruktur dan pendekatan komunitas, Kemenperin berharap mampu menciptakan ekosistem industri yang resilien dan mampu bersaing di tingkat internasional. New Policy ini juga memberikan peluang bagi pengusaha kecil dan menengah untuk mengembangkan usaha mereka dengan dukungan teknis dan infrastruktur yang lebih baik.

Leave a Comment