Bisnis

New Policy: Wamentan: RI buka peluang ekspor unggas ke China dan Timur Tengah

Wamentan: Indonesia Buka Peluang Ekspor Unggas ke Tiongkok dan Timur Tengah

New Policy – Baru-baru ini, Kementerian Pertanian Indonesia mengumumkan kebijakan baru yang membuka peluang ekspor produk unggas ke Tiongkok dan kawasan Timur Tengah. Langkah ini bertujuan memperluas pasar ekspor, menyerap kelebihan produksi, serta meningkatkan kesejahteraan para peternak nasional. Dalam pernyataannya, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyatakan bahwa kebijakan tersebut diluncurkan sebagai respons terhadap permintaan pasar global yang terus meningkat.

Kebijakan ekspor baru ini memberikan dorongan signifikan bagi sektor pertanian, khususnya industri unggas. Sudaryono menjelaskan bahwa ekspor bukan hanya tentang kualitas produk atau harga, tetapi juga memerlukan strategi yang matang dalam mengeksplorasi peluang pasar di luar negeri, termasuk negara-negara seperti Tiongkok dan Timur Tengah,” katanya dalam jumpa pers di Jakarta, Sabtu.

Menurut Sudaryono, kebijakan tersebut dirancang untuk mengatasi ketergantungan pasar dalam negeri yang terjadi akibat surplus produksi unggas. “Dengan mengembangkan ekspor, kita dapat mengurangi tekanan pada harga jual di dalam negeri dan menjamin stabilitas pasokan,” jelasnya. Ia menekankan bahwa kebijakan ini juga diharapkan mendorong kerja sama bilateral dengan negara-negara tujuan ekspor untuk memastikan keberlanjutan dan kualitas produk yang sesuai standar internasional.

Kebijakan Ekspor Unggas: Tantangan dan Strategi

Pembukaan peluang ekspor unggas ke Tiongkok dan Timur Tengah bukan hanya kebijakan bisnis, tetapi juga hasil dari upaya diplomasi antarnegara yang dilakukan Kementerian Pertanian. Sudaryono mengungkapkan bahwa pemerintah terus memperkuat hubungan ekonomi dengan negara-negara tersebut untuk memastikan produk unggas Indonesia dapat masuk ke pasar global. “Selain harga, kita juga harus memperhatikan proses verifikasi dan standarisasi produk yang dilakukan negara penerima,” tambahnya.

Dalam konteks kebijakan baru, Kementerian Pertanian berkomitmen untuk meningkatkan daya saing produk unggas Indonesia. Kebijakan ini bertujuan menciptakan keseimbangan antara pasokan dan permintaan, terutama di tengah tantangan inflasi dan perubahan pola konsumsi masyarakat. Sudaryono menegaskan bahwa pemerintah terus memantau kondisi pasar dan mengambil langkah strategis untuk mengoptimalkan peluang ekspor, termasuk melalui koordinasi dengan lembaga terkait,” katanya.

Adapun surplus produksi unggas yang terjadi, khususnya di Pulau Jawa, menjadi alasan utama pemerintah untuk mengembangkan ekspor. “Kita memiliki kelebihan pasokan, tetapi tidak selalu berarti kelebihan keuntungan. Kebijakan ini adalah cara untuk memanfaatkan produksi yang ada dan memastikan penyerapan yang optimal,” terang Sudaryono. Ia juga menyebutkan bahwa Kementerian Pertanian akan terus berupaya memperluas distribusi produk unggas ke daerah-daerah yang masih membutuhkan, baik secara lokal maupun internasional.

Kondisi Pasar dan Dukungan dari BGN

Dalam upaya menjaga keseimbangan pasar, Kementerian Pertanian juga berkolaborasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memastikan program makan bergizi gratis (MBG) dapat menyerap komoditas pangan dalam negeri. “Kebijakan baru ini tidak hanya fokus pada ekspor, tetapi juga pada pengelolaan distribusi dan pemanfaatan produksi lokal secara lebih efektif,” kata Sudaryono. Ia menambahkan bahwa koordinasi dengan BGN akan menjadi salah satu strategi untuk mendorong penyerapan produk unggas ketika terjadi penurunan harga di tingkat peternak.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah mencatatkan ekspor produk unggas mencapai 545 ton dengan nilai Rp18,2 miliar pada Maret 2026. Produk tersebut diekspor ke Singapura, Jepang, dan Timor Leste, menandakan bahwa kebijakan baru ini merupakan bagian dari upaya memperluas pasar komoditas pangan strategis. “Kebijakan ini juga mendukung pencapaian swasembada pangan dengan menyalurkan produk unggas ke pasar internasional yang siap menerima,” ujarnya.

Kebijakan baru ini dinilai mampu memberikan dampak positif pada sektor pertanian, terutama bagi para peternak ayam dan telur. Dengan ekspor yang semakin meluas, harapan besar muncul bahwa permintaan pasar di luar negeri dapat menekan harga jual dalam negeri dan meningkatkan pendapatan para peternak. Sudaryono berharap kebijakan ini akan menjadi langkah penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sektor unggas dan mengurangi risiko surplus yang terus berlanjut.

Leave a Comment