Bisnis

Special Plan: Kementan minta pabrik gula percepat CPCL kejar target 97 ribu ha tebu

Kementan Dorong Special Plan CPCL untuk Target Tebu 97.970 Ha 2026

Special Plan – Jakarta – Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian kembali menekankan pentingnya percepatan proses penetapan calon petani dan calon lokasi (CPCL) dalam rangka mengejar target pengembangan kawasan tebu nasional hingga 97.970 hektare pada 2026. Dalam sebuah pertemuan strategis, Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Ali Jamil menyatakan bahwa kebijakan Special Plan ini bertujuan memastikan ketersediaan lahan untuk produksi tebu yang konsisten dan berkelanjutan.

Percepatan CPCL sebagai Pilar Utama

Langkah percepatan CPCL dianggap sebagai elemen kunci dalam Special Plan yang diusung pemerintah untuk meningkatkan kapasitas produksi gula nasional. Ali Jamil menegaskan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada keterlibatan aktif seluruh pabrik gula, baik yang berbentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta. “Dengan menyelesaikan CPCL secara efisien, kami berharap mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan ekspor,” jelasnya.

Dalam Special Plan ini, Kementan menekankan bahwa penguatan sektor tebu bukan hanya tentang ekspansi areal tanam, tetapi juga memastikan sistem hilirisasi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Mekanisme kolaborasi antara pabrik gula, pemerintah daerah, serta instansi terkait menjadi strategi utama untuk mempercepat realisasi target tersebut. Selain itu, pihaknya juga memberikan dukungan teknis dan bantuan keuangan kepada pemilik lahan potensial.

“Kita ingin Indonesia mampu memenuhi kebutuhan gula dari produksi dalam negeri. Karena itu, Special Plan ini dirancang untuk memperkuat ekosistem industri gula nasional,” ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam sebuah pidato resmi.

Percepatan CPCL juga diharapkan menjadi salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan pada bantuan impor gula. Dengan mengembangkan area tebu secara lebih luas, Kementan berupaya menyeimbangkan antara pertumbuhan produksi dan keberlanjutan lingkungan. “Tebu tidak hanya sekadar tanaman, tetapi juga menjadi aset strategis dalam Special Plan keberlanjutan pertanian,” tambah Ali Jamil.

Sejumlah lahan yang belum tergarap, seperti milik TNI, Perhutani, dan Perhutanan Sosial, menjadi fokus perhatian Kementan. Langkah pemanfaatan lahan ini dilakukan untuk menutupi selisih antara lahan yang telah diidentifikasi dan target nasional. “Kementerian Pertanian terus mengoptimalkan peluang lahan baru dalam Special Plan untuk mempercepat realisasi,” katanya.

Target Swasembada Gula dan Hilirisasi

Program Special Plan ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan swasembada gula yang telah ditetapkan pemerintah. Menteri Amran Sulaiman menegaskan bahwa pembangunan ekosistem industri gula nasional mencakup peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, serta penguatan hilirisasi. “Dengan Special Plan, kami ingin menciptakan ketergantungan ekonomi yang lebih besar pada gula lokal,” kata dia.

Ali Jamil menambahkan bahwa verifikasi data CPCL di tingkat kabupaten dan provinsi menjadi bagian penting dari Special Plan. Proses ini harus cepat dan transparan untuk memastikan tidak ada kehilangan kesempatan pengembangan. “Kami telah menetapkan kerangka kerja yang jelas agar CPCL dapat diselesaikan tepat waktu dalam Special Plan ini,” jelasnya.

Menurut data Kementan, sektor tebu telah menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dengan Special Plan yang dipercepat, pihaknya berharap angka ini bisa meningkat lagi. “Kami optimistis bahwa target 97.970 hektare bisa tercapai dalam lima tahun ke depan,” tegas Ali Jamil.

Leave a Comment