Dunia

Chichen Itza dan pesan Xi Jinping tentang dialog antarperadaban

CjkinzN000003_20260810_CBMFN0A001
Foto : Daniel Moore - beritaturah.com
Table of Contents
  1. Chichen Itza dan Pesan Xi Jinping tentang Dialog Antarperadaban
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Chichen Itza dan Pesan Xi Jinping tentang Dialog Antarperadaban

Beritaturah.com – Situs arkeologi Maya kuno Chichen Itza di Meksiko menyimpan jejak peradaban yang pernah mencapai kejayaan berabad-abad silam. Piramida batu dan kuil-kuilnya masih berdiri kokoh, menceritakan kisah masa lalu yang megah. Berasal dari abad ke-5 Masehi, tempat ini menjadi saksi bisu dialog antarperadaban ketika Presiden Tiongkok Xi Jinping melakukan kunjungan kenegaraan ke Meksiko lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

Pada bulan Juni 2013, Xi Jinping beserta istrinya, Peng Liyuan, menjejakkan kaki di Semenanjung Yucatan. Mereka didampingi oleh Presiden Meksiko kala itu, Enrique Pena Nieto, dan sang istri. Sepanjang perjalanan menyusuri area situs, termasuk Piramida Kukulkan, Lapangan Bola Besar, serta Kuil Prajurit, Xi mendengarkan dengan cermat penjelasan seputar sejarah dan budaya Maya.

Presiden Tiongkok itu tidak hanya pasif mendengarkan. Ia mengajukan pertanyaan mengenai makna pola-pola yang terukir pada reruntuhan. Xi juga menunjukkan ketertarikan pada kemiripan tertentu antara elemen budaya Maya dengan tradisi Tiongkok, khususnya citra yang berkaitan dengan naga.

Peristiwa tersebut mencerminkan gagasan sederhana namun mendalam: peradaban mungkin berbeda dalam sejarah dan tradisinya, namun mampu saling belajar dan memperkaya diri melalui dialog serta saling menghormati.

“Berbagai budaya dan peradaban yang berbeda, meski tetap mempertahankan keunikan masing-masing, harus saling bertoleransi dan hidup berdampingan dengan sikap terbuka agar dapat mencapai perkembangan dan kemakmuran bersama,” ujar Xi sebagaimana warta Xinhua.

Visi Luas tentang Pertukaran Antarperadaban

Selama bertahun-tahun, Xi Jinping terus menyerukan pencarian kearifan dari berbagai peradaban yang berbeda. Ia percaya bahwa menyatukan kekuatan dengan pihak lain penting untuk mengatasi tantangan bersama yang dihadapi umat manusia.

Dalam pidato bersejarahnya di Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) di Paris pada tahun 2014, Xi mengutip Victor Hugo, sastrawan terkemuka asal Prancis:

“Ada cakrawala yang lebih luas daripada laut, yaitu langit; ada cakrawala yang lebih luas daripada langit, yaitu jiwa manusia,” kata Xi.

Menurutnya, kita membutuhkan pemikiran yang lebih luas daripada langit saat berinteraksi dengan peradaban yang berbeda.

Kunjungan ke Chichen Itza merupakan salah satu contoh nyata dari visi Xi mengenai pertukaran antarperadaban. Di Paris, ia menceritakan kisah proses saling belajar antara peradaban Timur dan Barat. Empat Penemuan Besar Tiongkok—pembuatan kertas, bubuk mesiu, pencetakan huruf lepas, dan kompas—telah membawa perubahan bagi dunia, termasuk masa Renaisans di Eropa. Filsafat, sastra, pengobatan, sutra, porselen, dan teh Tiongkok juga menyebar ke Barat dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa pertukaran antarperadaban bukanlah proses satu arah, melainkan sumber kemajuan yang didorong oleh pembelajaran timbal balik.

Kesetaraan dan Kerendahan Hati dalam Memahami Peradaban

“Ini merupakan keyakinan yang saya rasakan secara mendalam bahwa sikap kesetaraan dan kerendahan hati diperlukan jika seseorang ingin benar-benar memahami berbagai peradaban,” tuturnya.

Xi menambahkan bahwa bersikap merendahkan terhadap suatu peradaban tidak akan membantu siapa pun menghargai esensinya, tetapi justru dapat menimbulkan permusuhan. Baik sejarah maupun kenyataan menunjukkan bahwa kesombongan dan prasangka merupakan dua hambatan terbesar bagi pertukaran dan pembelajaran timbal balik antarperadaban.

Pendekatan ini juga tercermin dalam perjalanan diplomatik Xi di seluruh dunia, di mana pertemuan dengan berbagai budaya telah menjadi bagian penting dari kunjungan-kunjungannya. Di Trinidad dan Tobago, ia memainkan alat musik steelpan bersama musisi setempat. Di Fiji, ia mendengarkan lagu-lagu masyarakat adat sembari mengenakan kemeja tradisional Bula. Di Uzbekistan, dirinya mengunjungi kota kuno Bukhara, yang dikenal sebagai “fosil hidup Jalur Sutra”.

Di Bukhara, rasa hormat Xi terhadap tradisi setempat meninggalkan kesan mendalam pada Anvar Kurbanov, seorang pengrajin ulung dari kota kuno tersebut.

“Saya masih ingat Presiden Xi mengamati kerajinan tangan yang dipamerkan dengan saksama. Saya dapat merasakan keinginan tulusnya untuk memahami dan menghormati budaya kami,” kata Kurbanov, mengenang kunjungan Xi ke kota itu pada 2016.

“Sejak kunjungan tersebut, semakin banyak wisatawan Tiongkok yang datang ke sini,” tambahnya, menandai dampak positif dari kunjungan tersebut terhadap hubungan bilateral dan pertukaran budaya.

Frequently Asked Questions

What is Chichen Itza dan pesan Xi Jinping?

Chichen Itza dan pesan Xi Jinping is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Chichen Itza dan pesan Xi Jinping matter?

Chichen Itza dan pesan Xi Jinping matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment