Timur Tengah dan Perusahaan PV Tiongkok Mempercepat Transisi ke Energi Hijau
Special Plan – Nanchang, Tiongkok (ANTARA) – Sejumlah perusahaan energi dari berbagai negara di wilayah Timur Tengah, termasuk Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi, tengah berkolaborasi dengan produsen panel surya (PV) Tiongkok untuk mempercepat proses beralihnya ke energi hijau. Baru-baru ini, JinkoSolar, salah satu perusahaan produsen PV terkemuka di Tiongkok, menyepakati kesepakatan pasokan modul 2 GW dengan Masdar, perusahaan energi UEA, dalam proyek Round-The-Clock (RTC). Proyek ini merupakan inisiatif terpadu yang menggabungkan teknologi PV dengan sistem penyimpanan baterai, yang diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2027.
Inisiatif tersebut menandai komitmen kuat UEA untuk membangun infrastruktur energi berkelanjutan. Dengan dana investasi lebih dari 22 miliar dirham UEA (1 dirham = Rp4.816), proyek ini diperkirakan akan mengurangi emisi karbon sekitar 5,7 juta ton per tahun. Ahli utama dalam proyek ini, Ahmed Ali Alshamsi, CEO Emirates Water and Electricity Company (EWEC), salah satu investor utama, menjelaskan bahwa langkah ini menjadi bagian dari strategi transisi energi UEA. Ia menekankan bahwa kolaborasi tersebut mendukung upaya Abu Dhabi untuk mencapai target 60 persen kebutuhan energinya berasal dari sumber terbarukan dan bersih pada 2035.
“Negara-negara di Teluk sangat terbuka terhadap teknologi canggih dan inovatif,” kata Qian Jing, wakil presiden JinkoSolar.
Proyek RTC, yang menggunakan modul Tiger Neo dari JinkoSolar, dirancang agar dapat menjamin keandalan produksi energi dalam berbagai kondisi lingkungan. Modul-modul ini dibuat untuk tetap efisien meskipun terjadi penurunan cahaya, seperti saat matahari terbit atau terbenam, serta kondisi alam seperti badai pasir yang sering mengganggu kinerja sistem tenaga surya. Teknologi ini berpotensi meningkatkan durasi efektif pembangkitan listrik, yang sangat penting dalam daerah-daerah dengan lingkungan yang berubah drastis.
Dalam beberapa tahun terakhir, JinkoSolar telah berinvestasi lebih dari 22 miliar yuan Tiongkok (1 yuan = Rp2.597) untuk pengembangan sel surya dan modul yang lebih canggih. Hasilnya, teknologi mereka berhasil menurunkan biaya listrik di Abu Dhabi hingga 1,32 sen dolar AS per kilowatt-jam. Di Arab Saudi, modul TOPCon generasi baru JinkoSolar digunakan dalam proyek produksi hidrogen industri, yang mencapai biaya energi di bawah 1 sen dolar AS per kilowatt-jam. Capaian ini menggambarkan potensi signifikan dari sinergi antara keahlian teknis Tiongkok dan kebutuhan energi Timur Tengah.
Kolaborasi Teknologi dan Adaptasi Lokal
China, sebagai produsen panel surya terbesar dunia, terus mencari peluang untuk menyesuaikan teknologinya dengan tantangan spesifik Timur Tengah. Salah satu contoh adalah JA Solar Technology, yang memperkenalkan lapisan kaca berlapis nano pada modul PVnya. Solusi ini secara signifikan mengurangi akumulasi debu di permukaan panel, memperlambat degradasi kemampuan penyerapan cahaya, dan menurunkan biaya perawatan secara keseluruhan.
Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat kapasitas produksi energi terbarukan, tetapi juga mendorong transformasi industri lokal. Dalam konteks ini, proyek RTC bertujuan sebagai pusat energi utama untuk menyokong operasional pusat data kecerdasan buatan (AI), superkomputer, dan ekonomi digital. Selain itu, perusahaan Tiongkok juga mengeksplorasi aplikasi seperti integrasi antara pertanian dan teknologi PV, serta pengembangan solusi desalinasi air laut. Upaya ini bertujuan mempercepat pembangunan fasilitas manufaktur lokal yang bisa mengurangi ketergantungan pada ekspor dan meningkatkan efisiensi logistik.
Proyeksi Energi Surya di Timur Tengah dan Afrika Utara
Laporan Prospek Surya (Solar Outlook Report) 2025 dari Asosiasi Industri Surya Timur Tengah memprediksi bahwa tenaga surya akan menjadi komponen utama dalam pengembangan bauran energi di wilayah tersebut. Diperkirakan, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya akan melebihi 180 GW pada tahun 2030. Angka ini menunjukkan tren yang signifikan, seiring dengan kebijakan pemerintah regional untuk mengurangi emisi karbon dan memperkuat keberlanjutan lingkungan.
Mengingat Tiongkok telah lama menjadi pusat inovasi dalam bidang PV, kolaborasi dengan Timur Tengah menciptakan momentum kuat untuk kerja sama bilateral. Selain memanfaatkan sinar matahari yang melimpah di kawasan itu, perusahaan Tiongkok juga menyesuaikan teknologi dengan kondisi lokal, seperti mengatasi suhu tinggi dan fenomena alam seperti badai pasir. Faktor ini menjadikan Timur Tengah sebagai pasar yang sangat menjanjikan untuk pertumbuhan industri PV global.
“Kami berkomitmen untuk memperluas dimensi kerja sama dan mempercepat implementasi solusi China ke pasar global,” ujar Mohamed Jameel Al Ramahi, CEO Masdar.
Proyek RTC, misalnya, bukan hanya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi juga menjadi contoh nyata tentang bagaimana teknologi Tiongkok bisa diintegrasikan ke dalam sistem infrastruktur regional. Dengan memadukan panel surya dengan sistem penyimpanan baterai, proyek ini mampu menjaga stabilitas pasokan energi di tengah perubahan iklim dan kondisi cuaca yang tidak menentu.
Di samping itu, pihak Tiongkok juga terus mengeksplorasi inovasi dalam bidang lain. Kaca berlapis nano dari JA Solar, yang dirancang untuk lingkungan gurun, menunjukkan bagaimana perusahaan lokal dapat menyesuaikan teknologi dengan tantangan geografis spesifik. Solusi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga mengurangi biaya operasional jangka panjang. Kombinasi inovasi dan adaptasi teknis ini memperkuat ekspektasi bahwa kerja sama antara Tiongkok dan Timur Tengah akan terus berkembang di masa depan.
Kemitraan antara produsen PV Tiongkok dan negara-negara Timur Tengah juga berpotensi memberikan dampak ekonomi yang luas. Dengan mengakselerasi produksi energi hijau, wilayah tersebut bisa menurunkan biaya energi secara signifikan, sekaligus meningkatkan daya saing dalam industri yang semakin hijau. Di sisi lain, perusahaan Tiongkok mendapatkan akses ke pasar yang berkembang dan mendukung pengembangan teknologi mereka di lingkungan yang berbeda.
Dengan berbagai proyek yang sedang berlangsung, seperti RTC dan inisiatif desalinasi air, kolaborasi ini menggambarkan pendekatan holistik dalam transisi energi. Tiongkok, yang selama ini dikenal sebagai pemasok teknologi global, kini juga menjadi mitra strategis dalam membangun ekosistem energi bersih yang berkelanjutan. Dukungan dari pemerintah Timur Tengah dan pengembangan solusi yang khusus disesuaikan dengan lingkungan lokal memastikan langkah-langkah ini akan memberikan manfaat jangka panjang bagi keduanya.
Dalam jangka panjang, potensi pengembangan energi
