Finansial

Meeting Results: Ekonom: Kenaikan BI-Rate 50 bps tepat, jadi jangkar stabilitas rupiah

Ekonom: Kenaikan BI-Rate 50 bps tepat, jadi jangkar stabilitas rupiah

Meeting Results – Jakarta, Rabu (20/5) – Fakhrul Fulvian, Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, mengatakan keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) dianggap tepat sebagai upaya memperkuat rupiah dalam menghadapi tekanan global. Menurutnya, langkah ini mengirimkan sinyal bahwa kebijakan moneter Indonesia masih stabil dan siap merespons perubahan dinamika ekonomi.

“Keputusan BI sudah tepat. Ini bukan sekadar kenaikan suku bunga, ini adalah pernyataan bahwa policy anchor Indonesia masih dijaga. Dalam situasi seperti ini, Bank Indonesia tidak boleh terlambat. Kalau terlambat, biaya stabilisasi akan jauh lebih mahal,”

Dalam konteks tersebut, Fakhrul menekankan bahwa kenaikan BI-Rate menjadi respons proaktif terhadap fase tekanan eksternal yang semakin intens. Ia mengungkapkan, kebijakan ini mencegah rupiah terus melemah dan menunjukkan komitmen BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Ekspektasi Penguatan Rupiah

Fakhrul memperkirakan rupiah akan mulai stabil setelah BI-Rate dinaikkan. Ia menyebut Rp17.300 per dolar AS sebagai level kunci yang bisa menjadi titik balik, sebelum rupiah bergerak ke keseimbangan baru di Rp16.800. “Rupiah sudah selesai fase overshooting-nya. Dengan respons BI yang tegas, pasar sekarang punya jangkar baru. Level Rp17.300 menjadi titik berhenti pertama, dan apabila koordinasi kebijakan berjalan baik, rupiah bisa bergerak menuju Rp16.800,” jelasnya.

Selain itu, Fakhrul menilai pelaku pasar kini tidak perlu terlalu waspada terhadap dolar AS. Kombinasi kenaikan BI-Rate, intervensi valas, penguatan DNDF/NDF, serta perluasan transaksi CNH-Rupiah dan local currency transaction (LCT) diharapkan memperkuat keyakinan investor bahwa tekanan rupiah mulai terkendali.

Kepastian Pasar dan Tantangan Mendatang

Menurut Fakhrul, normalisasi yield curve sangat penting agar pasar bisa berfungsi dengan baik. Kurva imbal hasil yang lebih sehat akan membantu investor kembali menaruh kepercayaan pada obligasi jangka panjang, mendukung pembiayaan pembangunan, dan memperbaiki ekspektasi terhadap rupiah. “Setelah BI-Rate naik, SRBI tidak boleh terlalu lama menjadi magnet utama likuiditas. Kalau SRBI terlalu menarik, dana akan terus terkonsentrasi di instrumen pendek. Ini bisa mengganggu pasar SBN, menekan yield curve, dan membuat transmisi kebijakan tidak sehat,” ujarnya.

Ia juga meminta konsistensi antara BI dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam mengelola kebijakan. “BI menjaga jangkar stabilitas, Kemenkeu menjaga kredibilitas fiskal. Kalau keduanya berjalan bersama, rupiah bisa menguat, yield bisa lebih sehat, dan pasar akan kembali percaya pada cerita besar Indonesia,” tambahnya.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026, BI-Rate diputuskan naik 50 bps menjadi 5,25 persen dari 4,75 persen. Suku bunga deposit facility juga dinaikkan 50 bps ke 4,25 persen, sementara lending facility mencapai 6 persen. Kenaikan ini menjadi langkah penyesuaian pertama setelah BI mempertahankan suku bunga acuan di 4,75 persen sejak September 2025. Sepanjang 2025, BI telah memangkas bunga acuan lima kali dengan total penurunan 125 bps.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini naik 52 poin atau 0,29 persen ke Rp17.654 per dolar AS dari Rp17.706 per dolar AS sebelumnya. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga bergerak ke level Rp17.685 per dolar AS, dibandingkan Rp17.719 per dolar AS sebelumnya.

Leave a Comment