Special Plan: Rupiah Melemah karena Ekspektasi Sikap Hawkish The Fed
Special Plan – Rupiah terus mengalami pelemahan, menguatkan pernyataan bahwa ekspektasi terhadap sikap hawkish The Fed menjadi faktor utama dalam pergerakan mata uang lokal. Pada hari Rabu, kurs rupiah turun 37 poin atau 0,21 persen, mencapai Rp17.743 per dolar AS dibandingkan level penutupan sebelumnya di Rp17.706. Pelemahan ini terjadi di tengah atmosfer pasar yang masih terpengaruh oleh dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat.
Faktor Utama yang Mempengaruhi Pelemahan Rupiah
“Sikap hawkish The Fed tetap menjadi katalis utama bagi ketidakstabilan rupiah, dengan investor berusaha mengantisipasi kenaikan suku bunga yang mungkin dilakukan lembaga tersebut,” jelas Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank, dalam wawancara dengan ANTARA di Jakarta, Rabu.
Pasar obligasi AS memberikan indikasi kuat tentang ekspektasi tersebut, dengan imbal hasil obligasi 10 tahun meningkat 8 basis points (bps) menjadi 4,67 persen. Angka ini mencerminkan kecemasan investor terhadap kemungkinan The Fed mengambil langkah lebih agresif dalam menjaga inflasi yang kembali naik. Selain itu, obligasi tenor panjang mencapai level tertinggi sejak 2007, yang berdampak pada aksi jual di pasar keuangan domestik.
Pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh kinerja IHSG yang turun 3,46 persen pekan ini. Penurunan indeks saham yang signifikan membuat investor lebih cenderung menjual aset berisiko, termasuk mata uang lokal, dan beralih ke instrumen aman seperti obligasi AS. Morgan Stanley Capital International (MSCI) sempat menghapus beberapa perusahaan dari indeks global, memperkuat persepsi pasar tentang ketidakpastian ekonomi.
Special Plan menyoroti bahwa pelemahan rupiah tidak terlepas dari kebijakan moneter global. Ekspektasi The Fed untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat membuat dolar AS semakin kuat, sementara rupiah cenderung tergerus. Selain itu, tekanan inflasi di Indonesia yang terus meningkat memaksa Bank Indonesia (BI) untuk tetap waspada terhadap tekanan dari luar.
Tantangan dan Prospek Rupiah di Masa Depan
Analisis Josua Pardede menunjukkan bahwa kurs rupiah hari ini berada dalam rentang Rp17.650–Rp17.800 per dolar AS. Pergerakan ini diprediksi akan terus berlanjut selama ekspektasi sikap hawkish The Fed belum terpenuhi. Selain itu, kinerja ekspor dan impor Indonesia juga menjadi faktor penting dalam menentukan kekuatan rupiah, terutama jika terjadi perubahan arah permintaan dari luar negeri.
Special Plan menekankan bahwa strategi BI dalam menyesuaikan kebijakan moneter harus seimbang. Meski kebijakan BI berpotensi menjadi penyelamat, peningkatan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 5,00 persen di Mei 2026 dianggap perlu untuk mengurangi tekanan inflasi dan memperkuat nilai tukar rupiah. Namun, keputusan tersebut juga berisiko memperkuat dampak dari sikap hawkish The Fed.
Dalam jangka pendek, rupiah diprediksi akan terus mengalami tekanan, terutama jika The Fed memutuskan untuk mengambil langkah moneter yang lebih ketat. Namun, dalam skenario terbaik, BI bisa menggunakan kebijakan suku bunga yang tepat untuk mengembalikan stabilitas, terlepas dari dinamika global. Kenaikan suku bunga nasional dan tindakan stabilisasi ekonomi lokal menjadi kunci dalam menentukan arah Special Plan.
