Humaniora

Facing Challenges: KPAI: Industri farmasi perlu diperketat cegah penyalahgunaan tramadol

KPAI: Industri farmasi perlu diperketat cegah penyalahgunaan tramadol

Facing Challenges – Menyikapi isu penyalahgunaan Tramadol yang semakin merajalela, Facing Challenges menjadi tantangan utama bagi pemerintah dalam mengawasi sektor farmasi. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan bahwa regulasi di bidang kesehatan perlu diperketat agar mencegah akses yang mudah oleh kalangan usia muda. KPAI menilai, perlu ada upaya lebih masif untuk menangkal penyalahgunaan obat ini, terutama di wilayah seperti Bogor dan Depok, Jawa Barat, yang menjadi sentral penyebaran narkoba.

Tantangan dalam Pengendalian Bahan Adiktif

Dalam wawancara di Jakarta, Senin, Wakil Ketua KPAI Jasra Putra menekankan perlunya Peraturan Pemerintah yang lebih tegas berdasarkan Undang-Undang Kesehatan. “KPAI menuntut pemerintah memperketat pengendalian bahan adiktif, produk rokok elektrik, dan vape, serta melarang konsumsi makanan atau minuman yang dikemas sebagai farmasi tanpa izin,” jelas Jasra. Ia menyoroti bahwa kebijakan saat ini tidak cukup mengatasi pergeseran lokus penyebaran yang terjadi di platform digital dan apartemen sewa.

“Dengan kebijakan yang tidak memadai, penyalahgunaan Tramadol bisa terjadi secara tersembunyi. Anak-anak, khususnya, rentan menjadi korban karena kurangnya kesadaran akan dampak jangka panjang dari penggunaan obat ini,” ujar Jasra. Ia menambahkan bahwa lingkungan sosial dan komunitas sekolah harus menjadi garda depan dalam mencegah adiksi di kalangan remaja.

Naiknya Kecanduan di Kalangan Anak Muda

Data dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat adanya 38.934 kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia sejak Januari hingga Oktober 2025. Angka ini menunjukkan bahwa Tramadol tidak hanya dikonsumsi oleh dewasa, tetapi juga semakin diminati oleh remaja. Jasra Putra mengungkapkan bahwa modus baru penyalahgunaan ini memanfaatkan tren rokok elektrik dan mengemas obat menjadi bentuk minuman harian.

“Penyalahgunaan Tramadol saat ini tidak hanya merugikan kesehatan fisik, tetapi juga menyebabkan gangguan perkembangan mental dan syaraf anak-anak. Mereka terkadang menjadi kurir atau pengguna aktif karena celah dalam aturan yang membedakan sanksi bagi anak di bawah umur dan orang dewasa,” tambah Jasra. Menurutnya, kebijakan yang tidak merata memberi ruang bagi pelaku narkoba untuk memanfaatkan anak-anak sebagai alat transaksi.

Strategi untuk Mencegah Tramadol di Kalangan Remaja

Menurut KPAI, solusi jangka panjang terletak pada peningkatan edukasi dan pengawasan lebih ketat terhadap industri farmasi. “Dengan memberikan pelatihan kepada produsen dan penjual, kita bisa meminimalkan risiko Tramadol digunakan untuk tujuan yang tidak semestinya,” kata Jasra. Ia juga menyarankan adanya kampanye nasional yang menargetkan anak-anak dan remaja sebagai sasaran utama.

Sejalan dengan itu, Jasra mengingatkan bahwa Facing Challenges dalam menyelaraskan regulasi antara sektor kesehatan dan pendidikan sangat krusial. “KPAI menekankan perlunya kemitraan antara pemerintah, sekolah, dan keluarga untuk membangun kesadaran sejak dini tentang bahaya Tramadol,” lanjutnya. Ia menambahkan bahwa berbagai inisiatif seperti pelatihan penggunaan alat digital dan monitoring sosial juga perlu ditingkatkan.

Menurut Jasra, penyalahgunaan Tramadol tidak hanya menciptakan masalah kesehatan, tetapi juga mengancam masa depan generasi muda. “Dengan menangani Facing Challenges secara dini, kita bisa mengurangi risiko anak-anak terjebak dalam kecanduan yang bisa berdampak serius di masa depan,” tegasnya. Ia menyoroti bahwa perlu ada regulasi yang lebih spesifik untuk mengatur distribusi dan penggunaan obat ini di kalangan usia muda.

Leave a Comment