Nilai ekonomi jamu tembus Rp1,2 triliun, BPOM dorong inovasi herbal
Nilai ekonomi jamu tembus Rp1 2 triliun – Industri jamu Indonesia menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan, dengan nilai ekonomi mencapai Rp1,2 triliun per tahun. Angka ini terungkap dalam Kick Off Pekan Jamu 2026 di Jakarta, Selasa, yang dipimpin oleh Kepala BPOM, Taruna Ikrar. Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa potensi pasar global untuk produk jamu dan kesehatan bisa mencapai hingga Rp350 triliun setiap tahun jika biodiversitas herbal Indonesia dimanfaatkan secara optimal. Nilai ekonomi jamu tembus Rp1,2 triliun ini menjadi dasar untuk menggerakkan inovasi di sektor herbal yang kini menjadi fokus utama pembangunan ekonomi kesehatan nasional.
Pertumbuhan Ekonomi dan Potensi Global
Dari data yang disebutkan, nilai ekonomi jamu di Indonesia mencapai Rp1,2 triliun. Namun, Taruna Ikrar mengungkapkan bahwa pertumbuhan pasar global wellness dan kesehatan masih belum tergarap secara maksimal. Ia menambahkan, khususnya dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan tentang senyawa aktif dari tanaman herbal. “Nilai ekonomi jamu saat ini sekitar Rp1,2 triliun. Potensi pasar global wellness dan kesehatan diperkirakan mencapai sekitar Rp350 triliun untuk Indonesia apabila biodiversitas herbal dapat dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya. Ini menunjukkan bahwa sektor jamu memiliki jalan untuk berkembang lebih luas, terutama jika mampu memanfaatkan kekayaan sumber daya alam lokal.
Dalam konteks ekonomi nasional, nilai ekonomi jamu tembus Rp1,2 triliun menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur kinerja sektor herbal. BPOM memperkenalkan konsep Obat Herbal Terstandar (OHT) dan fitofarmaka sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas produk. Dengan menggali potensi biodiversitas tanaman lokal, Indonesia bisa memperkuat posisinya di pasar global dan menawarkan solusi kesehatan yang lebih kompetitif.
Strategi BPOM Meningkatkan Nilai Ekonomi Jamu
BPOM menekankan bahwa inovasi dalam bidang herbal adalah kunci untuk mengejar pertumbuhan industri jamu. Dengan memperkuat riset tentang senyawa aktif tanaman, produk jamu bisa menjadi lebih diminati di pasar internasional. Misalnya, senyawa kurkumin dalam kunyit dan temulawak memiliki manfaat yang tidak kalah dengan ginseng dari Asia Timur, seperti efek antioksidan, antiinflamasi, dan vasodilator. “Indonesia mampu bersaing dengan Korea Selatan dan negara-negara lain, tetapi pengelolaan, penelitian, dan hilirisasi produk herbal masih perlu ditingkatkan,” tambah Taruna Ikrar. Hal ini menunjukkan bahwa BPOM menempatkan penelitian ilmiah sebagai pilar utama untuk meningkatkan daya saing produk jamu.
Dalam upaya meningkatkan nilai ekonomi, BPOM memperkenalkan konsep Obat Herbal Terstandar (OHT) dan fitofarmaka. Saat ini, sekitar 22 ribu produk jamu telah terdaftar dengan Nomor Izin Edar (NIE), tetapi hanya 71 produk yang menjadi OHT dan 21 produk yang tergolong fitofarmaka. “Kenaikan status jamu menjadi OHT dan fitofarmaka memerlukan penelitian ilmiah yang lebih kuat, termasuk uji praklinis, uji stabilitas, penelitian bioavailabilitas, serta pembuktian khasiat. Semakin tinggi tingkat pembuktian ilmiah, semakin besar nilai ekonomi yang dihasilkan,” jelas Taruna. Dengan pendekatan ini, industri jamu tidak hanya bisa menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga memperluas pangsa pasar global.
Penelitian terhadap senyawa aktif tanaman herbal juga menjadi jaminan kualitas produk jamu. Taruna Ikrar menegaskan bahwa pemahaman mendalam tentang komposisi dan manfaat senyawa tersebut sangat penting untuk menarik minat konsumen di tingkat internasional. Dalam konteks ini, BPOM aktif melakukan pengawasan terhadap produksi jamu untuk memastikan keamanan dan efektivitas produk. Selain itu, lembaga ini juga mendorong kolaborasi antara peneliti, produsen, dan pemerintah dalam mengembangkan produk jamu yang inovatif dan memiliki daya tarik pasar global.
Nilai ekonomi jamu tembus Rp1,2 triliun ini tidak hanya mencerminkan potensi industri, tetapi juga menunjukkan pentingnya inovasi dalam menjaga kualitas produk. Dengan menggali biodiversitas herbal yang kaya, Indonesia bisa menawarkan solusi kesehatan yang unik dan berdaya saing. “Biodiversitas tanaman lokal Indonesia memiliki keunggulan dalam hal keberagaman senyawa aktif yang tidak ditemukan di negara lain,” kata Taruna. Ia menambahkan, BPOM berkomitmen untuk mendorong pengembangan produk jamu yang tidak hanya diminati dalam negeri tetapi juga dapat menembus pasar internasional.
Kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah menjadi faktor kunci dalam mewujudkan visi ini. BPOM juga berencana memperluas aksesibilitas produk jamu melalui pengawasan yang lebih ketat terhadap standar produksi dan kemasan. “Dengan meningkatkan kualitas dan standarisasi, produk jamu bisa menjangkau konsumen yang lebih luas, baik di Indonesia maupun di luar negeri,” terang Taruna. Dukungan dari pemerintah dalam berbagai bentuk, seperti insentif pajak atau pendanaan riset, diharapkan dapat mempercepat proses hilirisasi tanaman herbal dan meningkatkan nilai ekonomi jamu tembus Rp1,2 triliun.
Kelimpahan tanaman herbal di Indonesia, seperti kunyit, temulawak, dan beberapa bahan alami lainnya, menawarkan peluang besar untuk pengembangan industri jamu. Dengan memanfaatkan kekayaan alam ini secara bijak, nilai ekonomi jamu tembus Rp1,2 triliun bisa terus bertumbuh. BPOM optimis bahwa dengan dukungan inovasi dan penelitian, Indonesia bisa menjadi pusat produksi produk herbal berkualitas tinggi yang diminati dunia. “Ini adalah peluang besar untuk meningkatkan ekonomi kesehatan nasional,” kata Taruna, menegaskan pentingnya kolaborasi dan komitmen bersama dalam mengembangkan industri jamu.
