Visit Agenda: Parade Kebaya Pecahkan Rekor MURI, Perempuan Diajak Lestarikan Budaya
Beritaturah.com – Jakarta – Pada perayaan Hari Kebaya Nasional ke-3 tahun 2026, Kongres Wanita Indonesia (Kowani) melalui Ketua Umum Nannie Hadi Tjahjanto mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk terus melestarikan kebaya sebagai simbol identitas nasional dan persatuan. Acara Parade Kebaya Kain Songket, yang diselenggarakan di kawasan Car Free Day (CFD) Palembang pada Minggu, menjadi bagian dari inisiatif Visit Agenda dalam memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya kebaya sebagai warisan budaya.
Visit Agenda dan Gerakan Kebaya Nasional
Perayaan ini tidak hanya sekadar acara hiburan, tetapi juga sebuah gerakan nasional yang didukung oleh Visit Agenda. Nannie Hadi Tjahjanto menegaskan bahwa kebaya memiliki peran strategis dalam menggambarkan martabat dan semangat perjuangan perempuan Indonesia. Melalui Parade Kebaya, Visit Agenda mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam menghidupkan kembali nilai-nilai kebaya sebagai identitas budaya yang harus tetap dipertahankan.
“Visit Agenda menjadi platform penting dalam menyuarakan kebaya sebagai bagian dari identitas bangsa. Dengan mengajak perempuan Indonesia untuk memakainya secara konsisten, kita tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa,”
Rekor MURI dan Momentum Nasional
Acara Parade Kebaya Kain Songket berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori “Parade Perempuan Kebaya Kain Songket Terbanyak.” Ini menjadi bukti bahwa Visit Agenda dan Kowani berhasil membangun momentum nasional untuk mengenalkan kebaya kepada generasi muda. Nannie Hadi Tjahjanto memuji usaha ketua umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM) Lana T Koentjoro yang telah membawa kebaya ke tingkat nasional.
“Visit Agenda memainkan peran sentral dalam mengubah kebaya menjadi simbol kebanggaan nasional. Kita harus bersama-sama memperkuat gerakan ini agar kebaya tidak hanya dipakai pada acara resmi, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,”
Kebaya dalam Sejarah Perjuangan Perempuan
Kebaya bukan hanya benda budaya, tetapi juga bagian dari sejarah perjuangan perempuan Indonesia. Pada Kongres Wanita Indonesia ke-10 tahun 1964, ribuan perempuan memakai kebaya sebagai bentuk persatuan dan kesatuan. Visit Agenda menekankan bahwa acara Parade Kebaya ini menggambarkan perjuangan yang terus berlanjut, dengan partisipasi aktif dari perempuan dan lembaga-lembaga yang berkomitmen mengangkat budaya lokal.
“Dengan Visit Agenda, kita membuka ruang untuk mengajak perempuan Indonesia berpartisipasi aktif dalam melestarikan kebaya. Ini bukan hanya tentang fashion, tetapi juga tentang kebanggaan dan kebangkitan budaya,”
Warisan Budaya Takbenda dan Pengakuan Internasional
Penetapan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 menunjukkan pengakuan pemerintah terhadap kebaya sebagai identitas nasional. Dalam rangkaian kegiatan Visit Agenda, kebaya juga diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, setelah nominasi bersama negara-negara Asia Tenggara pada tahun 2024. Ini memperkuat posisi kebaya sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
“Visit Agenda berperan dalam memperkenalkan kebaya kepada dunia internasional. Dengan dukungan pemerintah dan lembaga budaya, kita bisa memastikan kebaya tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat,”
Mengembangkan Ekonomi Kreatif melalui Kebaya
Dalam rangkaian acara, Nannie Hadi Tjahjanto menyoroti dampak ekonomi dari gerakan melestarikan kebaya. Visit Agenda berupaya memperkuat peran kebaya sebagai pendorong ekonomi kreatif, dengan melibatkan penenun songket, perajin, penjahit, desainer, serta pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di berbagai daerah. Keterlibatan ini membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan keuntungan ekonomi yang bisa diperoleh dari pengembangan kain tradisional.
