Idul Adha sebagai Momentum Berbagi dan Kebersamaan
What Happened During – Jakarta – Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa Idul Adha tidak hanya berupa ritual ibadah yang rutin dijalani umat Muslim, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat nilai-nilai kepedulian sosial. Menurutnya, momentum ini seharusnya menjadi sarana bagi seluruh lapisan masyarakat untuk saling berbagi, baik melalui kurban maupun program sosial yang dirancang untuk memperluas manfaat gizi hewani.
“Idul Adha adalah momen yang penuh makna, bukan sekadar perayaan agama, tapi juga ajang kebersamaan. Kami ingin semua orang merasakan manfaat dari kesempatan ini, terutama dalam hal kesejahteraan dan keterjangkauan makanan bergizi,” kata Menag dalam wawancara khususnya.
Dalam konteks ini, Idul Adha tidak hanya dianggap sebagai tradisi tahunan, tetapi juga sebagai kegiatan yang bisa diikuti oleh siapa pun, termasuk non-Muslim. Momen tersebut menjadi platform untuk memperluas kesadaran masyarakat tentang pentingnya berbagi, terutama dalam menghadapi kebutuhan makanan yang meningkat di bulan suci ini. Menag menekankan bahwa berbagi tidak hanya dalam bentuk daging kurban, tetapi juga melalui program-program yang terencana dan berkelanjutan.
Pengelolaan Hewan Kurban yang Terstruktur
Menurut Menag, masjid besar seperti Masjid Istiqlal menerapkan sistem pengelolaan hewan kurban yang berbeda dari yang umum dilakukan umat Muslim. Terdapat tiga jenis penyerahan: kurban, Dam, dan bantuan sosial. Sistem ini bertujuan agar semua orang, termasuk perusahaan atau individu non-Muslim, dapat ikut berkontribusi tanpa terikat pada aturan syariat Islam.
“Kurban, Dam, dan bantuan sosial adalah tiga mekanisme yang berbeda, tapi tujuannya sama: memastikan daging hewan bisa sampai ke masyarakat yang membutuhkan. Ini memperlihatkan bagaimana Idul Adha bisa menjadi momen What Happened During, di mana partisipasi aktif semua pihak mendorong keberlanjutan sosial,” ujar Menag.
Pengelolaan hewan kurban terbagi menjadi tiga skema. Skema pertama berupa hewan yang disembelih sebagai kurban wajib atau sunah. Skema kedua melibatkan penitipan Dam untuk jamaah haji yang ingin menyumbangkan denda mereka. Skema ketiga fokus pada bantuan sosial atau CSR, yang menerima kontribusi dari perusahaan dan individu non-Muslim. Sistem ini menciptakan kesempatan bagi semua golongan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang berkaitan dengan Idul Adha.
Keterlibatan Masyarakat Luas dalam Berbagi
Saat ini, Masjid Istiqlal telah menerima sejumlah besar hewan kurban, seperti 63 ekor sapi, 18 ekor kambing, dan satu domba. Proses penyembelihan dimulai pada 28 Mei 2026, dan daging hasilnya didistribusikan secara transparan kepada berbagai lembaga seperti masjid, panti asuhan, mushalla, serta institusi pendidikan Islam. Sistem ini menggambarkan bagaimana What Happened During Idul Adha bisa menjadi cerminan kepedulian bersama.
“Setiap hewan yang disumbangkan memiliki tujuan, baik untuk keagamaan, kegiatan sosial, atau pengelolaan yang lebih luas. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya What Happened During pada hari raya, tapi juga membangun kebiasaan berbagi sepanjang tahun,” tambah Menag.
Menurut Menag, partisipasi masyarakat non-Muslim dalam menyerahkan hewan kurban menjadi bukti bahwa nilai-nilai sosial dari Idul Adha bisa diakses oleh siapa pun. Dengan kontribusi dari berbagai latar belakang, Masjid Istiqlal berhasil memenuhi kebutuhan masyarakat luas, termasuk kelompok yang tidak terwakili dalam tradisi kurban biasa. Ini menunjukkan bagaimana Idul Adha bisa menjadi jembatan untuk memperkuat kebersamaan di tengah perbedaan agama.
Idul Adha juga memberikan peluang untuk menyebarluaskan kepedulian sosial ke berbagai kalangan. Dengan adanya program bantuan sosial, banyak warga yang kurang mampu bisa mendapatkan manfaat dari daging hewan kurban, sehingga kegiatan ini tidak hanya sebagai ritual, tetapi juga sebagai What Happened During yang membawa dampak nyata bagi masyarakat.
