China Mengharapkan Eskalasi Timur Tengah Berakhir
Beritaturah.com – Pemerintah Tiongkok menyatakan harapannya agar ketegangan di wilayah Timur Tengah tidak semakin memburuk. Hal ini menyusul serangkaian aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran, terutama yang menyangkut jalur pelayaran di Selat Hormuz. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, menyampaikan pernyataan resmi dalam konferensi pers yang digelar di Beijing pada Kamis (23/7).
“Tiongkok sangat prihatin dengan perkembangan terbaru di kawasan Timur Tengah dan Teluk. Kami siap untuk terus bertindak berdasarkan empat usulan yang disampaikan oleh Presiden Xi Jinping, melakukan upaya lebih lanjut guna memfasilitasi penghentian pertempuran, serta bekerja tanpa henti untuk meredakan situasi dan memulihkan perdamaian di kawasan tersebut,” jelas Lin Jian.
Perjanjian Perdamaian dan Serangan Baru
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran telah menandatangani kesepakatan mengenai perdamaian dan penghentian konflik pada 18 Juni 2026, yang awalnya dimulai sejak akhir Februari. Namun, sejak 8 Juli, pasukan Amerika Serikat kembali melancarkan beberapa gelombang serangan terhadap Iran. Lin Jian menekankan bahwa hasil negosiasi tidak dicapai dengan mudah, pertempuran lebih lanjut tidak menguntungkan siapa pun, serta kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah negara-negara di kawasan tersebut harus dihormati dan dijunjung tinggi.
Pihak-pihak terkait, ungkap Lin Jian, perlu tetap tenang, menahan diri, menghentikan permusuhan, melanjutkan kembali komunikasi dan dialog, menyelesaikan sengketa melalui cara-cara politik dan diplomatik, serta mengupayakan gencatan senjata menyeluruh dan permanen sesegera mungkin.
Tanggapan Militer dan Pernyataan Resmi
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut merupakan tanggapan atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah. Presiden Donald Trump kemudian menyatakan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran tidak lagi berlaku.
Pada Rabu (22/7) malam, CENTCOM menyatakan telah menyelesaikan rangkaian serangan baru terhadap sasaran militer Iran, menandai malam ke-12 secara berturut-turut agresi militer ke Iran. CENTCOM menambahkan berbagai serangan itu menargetkan kemampuan maritim Iran, fasilitas penyimpanan rudal dan drone, berbagai pos pengawasan pesisir, serta sejumlah aset pertahanan udara.
“Serangan-serangan tersebut semakin melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal-kapal komersial,” kata CENTCOM.
Selain itu, CENTCOM menyebut pasukan AS telah mengalihkan rute sembilan kapal komersial dan melumpuhkan satu kapal dalam upaya mencegah kapal-kapal memasuki atau meninggalkan pelabuhan di Iran. Lebih dari 50.000 personel militer AS, lanjut CENTCOM, masih ditempatkan di seluruh kawasan Timur Tengah dan berada dalam kondisi yang sangat waspada, fokus, mematikan, dan siap.
Dampak Serangan dan Doktrin Pertahanan Iran
Media milik negara Iran melaporkan bahwa rudal AS menyerang lokasi-lokasi di dekat kota Ahvaz, Ramshir, dan Andimeshk di Iran barat, menghantam sebuah pembangkit listrik di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr di Iran selatan, dan menewaskan dua orang di Kota Shalamcheh di perbatasan Iran-Irak.
Pada Rabu yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengatakan di media sosial X bahwa Iran akan mengadopsi doktrin pertahanan “mata ganti mata”.
“Setiap agresi terhadap Iran, termasuk infrastruktur kami, akan dibalas dengan respons yang kuat dan tegas,” kata Araghchi.

