Internasional

Topics Covered: Kedubes Australia: FSAI tambah satu kota baru untuk pemutaran film

Topics Covered: Kedubes Australia Buka Kota Baru untuk Pemutaran Film FSAI

Topics Covered kembali menjadi sorotan utama dalam rangkaian acara Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) yang berlangsung di Jakarta. Pada kesempatan pengumuman resmi FSAI tahun ini, pihak Kedubes Australia mengumumkan pengembangan lokasi baru sebagai bagian dari inisiatif memperluas akses dan pengalaman menonton film. Hal ini menandai tahun ke-11 penyelenggaraan festival yang sejak awal bertujuan memperkuat hubungan budaya melalui perfilman.

Kota Bogor Dijadikan Lokasi Pemutaran Luar Ruangan

Kedubes Australia menjelaskan bahwa kota Bogor menjadi pilihan strategis untuk menayangkan film dalam konsep “Screen on the Green.” Konsep ini menggabungkan kesenian film dengan alam terbuka, diharapkan memikat penggemar seni dan khalayak umum. “Bogor dipilih karena keindahan lingkungannya yang bisa menciptakan pengalaman unik bagi penonton,”

ungkap Kristopher Maslin, First Secretary of Public Diplomacy Kedubes Australia, dalam acara “Masterclass FSAI 2026: Storytelling through Lens” di Jakarta. Ia menekankan bahwa penambahan kota ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan keberagaman dalam penyajian film, sejalan dengan visi FSAI sebagai platform kreatif yang menghubungkan dua negara.

Dalam menjalankan konsep ini, Kedubes Australia bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bogor dan pengelola Kebun Raya Bogor. Kolaborasi ini memungkinkan pemutaran film di lingkungan alam yang indah, seperti taman kota atau area terbuka yang dipersiapkan khusus. Selain itu, kegiatan ini juga menawarkan ruang bagi dialog kreatif antara sineas Australia dan pemangku kepentingan lokal, seperti penulis naskah, produser, atau sutradara Indonesia.

Komitmen Australia dalam Penguatan Budaya dan Pemutaran Film

Kemitraan Kedubes Australia dengan komunitas kreatif Indonesia terus berkembang, termasuk dalam inisiatif FSAI. Maslin menjelaskan bahwa pilihan Bogor dilakukan setelah evaluasi menyeluruh terhadap potensi destinasi film. “Kami ingin menunjukkan bahwa Australia tidak hanya menghadirkan film, tetapi juga membawa nilai-nilai kultural dan pendekatan kreatif ke berbagai wilayah,”

lanjutnya. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan memperkenalkan budaya Australia kepada masyarakat Indonesia melalui visual dan narasi yang menarik. Dengan menyelenggarakan pemutaran film di alam terbuka, FSAI menghadirkan ruang yang lebih inklusif bagi berbagai kalangan.

Di samping Bogor, FSAI tahun ini juga menampilkan serangkaian acara yang lebih luas. Acara “Masterclass: Storytelling through Lens” menjadi salah satu komponen utama yang dihadiri oleh sinematografer dan produser Australia.

“Masterclass ini diharapkan menjadi jembatan untuk memperkaya keterampilan kreatif generasi muda Indonesia,”

kata Andrew Commis, salah satu peserta masterclass, dalam wawancara eksklusif.

Acara masterclass ini diselenggarakan di Gedung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Jakarta. Para peserta tidak hanya belajar teknik pemotretan, tetapi juga menggali cara menceritakan narasi yang menginspirasi. Irini Dewi Wanti, Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan RI, menambahkan bahwa FSAI menjadi wadah penting untuk pertukaran ide kreatif antar budaya.

Topics Covered juga mengupas pentingnya kota baru dalam menjangkau audiens yang lebih luas. Dengan melibatkan Bogor, FSAI bisa merangkul masyarakat dari berbagai daerah yang sebelumnya kurang terlayani. Maslin berharap kegiatan ini menjadi ajang untuk membangun minat masyarakat terhadap film internasional. “Dengan lebih banyak lokasi, FSAI semakin dekat dengan penonton,”

katanya. Selain itu, pihaknya juga menyiapkan program penjualan tiket digital dan penayangan film melalui platform online untuk memudahkan akses.

Keberhasilan FSAI tahun lalu menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan konsep baru. Dengan menghadirkan kota Bogor, festival ini menjawab kebutuhan akan pengalaman menonton yang tidak hanya bersifat konsumsi, tetapi juga interaktif dan edukatif. “Ini adalah langkah awal menuju penyajian film yang lebih berkelanjutan dan relevan dengan zaman sekarang,”

ungkap Irini Dewi Wanti. Ia menambahkan bahwa kerja sama antara Kedubes Australia dan lembaga kreatif Indonesia akan terus dikembangkan, termasuk dalam hal pendanaan dan pemasaran film.

Leave a Comment