Bamus Betawi Rancang Strategi untuk Jakarta yang Berusia Lima Abad
Key Discussion menjadi tema utama dalam kegiatan strategis yang digelar oleh Badan Musyawarah Masyarakat (Bamus) Betawi, dengan fokus pada perayaan Lima Abad Jakarta. Kegiatan ini dirancang untuk menyusun program kerja yang mendukung pembangunan kota tersebut, sekaligus memperkuat peran komunitas Betawi dalam menghadapi era baru. Ketua Umum Bamus Betawi, H. Riano P. Ahmad, menjelaskan bahwa rapat kerja ini bertujuan mengkoordinasikan upaya bersama dengan Pemerintah DKI Jakarta, khususnya dalam membangun visi kota yang modern namun tetap berakar pada budaya lokal.
Strategi untuk Kota Budaya dan Kota Global
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini mengusung tema “Menyongsong Lima Abad Jakarta, Kota Budaya dan Kota Global,” yang menyoroti dualitas identitas kota tersebut sebagai pusat kebudayaan Betawi sekaligus menjadi salah satu kota metropolitan terbesar di Asia Tenggara. Riano menekankan bahwa Key Discussion ini menjadi ajang diskusi utama untuk menyelaraskan kepentingan masyarakat Betawi dengan kebijakan pemerintah, sehingga mampu menciptakan sinergi yang lebih optimal.
“Key Discussion ini tidak hanya membahas program kerja Bamus Betawi, tetapi juga menjadi wadah untuk menggali aspirasi masyarakat Betawi dalam membangun Jakarta yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Riano, yang hadir sebagai pembicara utama.
Sebagai bagian dari persiapan menghadapi usia lima abad Jakarta, Bamus Betawi menyiapkan berbagai inisiatif kreatif, termasuk program pelatihan keahlian, pengembangan infrastruktur budaya, serta kolaborasi dengan instansi terkait untuk memastikan perayaan tersebut tidak hanya sekadar simbol, tetapi juga memiliki dampak nyata. Riano menyatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari perencanaan jangka panjang yang mengintegrasikan kearifan lokal dengan inovasi modern.
Peran Penting Masyarakat Betawi dalam Pembangunan Jakarta
Key Discussion ini juga menyoroti peran penting masyarakat Betawi sebagai bagian dari identitas Jakarta. Sejumlah tokoh Betawi dan pejabat DKI Jakarta, seperti Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi (MKB) Fauzi Bowo, serta narasumber dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta, Eky Darmayanti, hadir untuk memberikan masukan. Diskusi yang diadakan dalam ruang rapat di Kompleks Pemprov DKI Jakarta melibatkan berbagai kelompok, termasuk pemuda, seniman, dan organisasi Betawi, sehingga mencakup perspektif yang lebih luas.
Salah satu fokus utama Key Discussion adalah pemindahan Ibu Kota ke Nusantara, yang diharapkan tidak mengurangi peran Betawi dalam pembangunan Jakarta. Riano menjelaskan bahwa konsolidasi internal Bamus Betawi akan menjadi dasar untuk memastikan komunitas Betawi tetap aktif dalam menjaga kekayaan budaya dan sejarah kota ini. Ia menambahkan, pihaknya juga berencana menggandeng institusi pendidikan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya konservasi warisan Betawi.
Dalam rangkaian Key Discussion, pihak Bamus Betawi juga menyoroti pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam pengambilan kebijakan kota. Riano mengatakan, program strategis yang dihasilkan akan melibatkan partisipasi dari berbagai lapisan, termasuk usulan kebijakan yang memperkuat keberlanjutan lingkungan, serta pengembangan ruang publik yang representatif untuk budaya Betawi.
“Key Discussion ini adalah momentum penting untuk menggali ide-ide inovatif yang mampu menjawab tantangan pembangunan Jakarta di era baru, sambil tetap menghargai warisan budaya Betawi,” ujar Riano, yang menegaskan pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dalam menyukseskan perayaan lima abad.
Kolaborasi dengan Pemerintah dan Stakeholder Lainnya
Key Discussion yang diadakan Bamus Betawi diharapkan menjadi sarana untuk memperkuat hubungan dengan pemerintah DKI Jakarta dan berbagai stakeholder. Riano menegaskan bahwa hasil dari diskusi ini akan digunakan sebagai dasar untuk menyiapkan program kerja tahun 2026, yang berfokus pada pengembangan kearifan lokal serta integrasi budaya Betawi ke dalam kebijakan pembangunan kota.
Acara juga menjadi panggung bagi para pemangku kepentingan, seperti organisasi masyarakat, tokoh adat, dan pelaku seni Betawi, untuk saling berbagi pengalaman dan rencana aksi. Riano menyebutkan, kehadiran mereka menunjukkan komitmen kolektif untuk menjaga keberlanjutan budaya Betawi di tengah perubahan yang pesat. Selain itu, key discussion ini juga membuka peluang kolaborasi dengan perusahaan-perusahaan swasta yang tertarik mengembangkan proyek budaya berbasis masyarakat.
Dalam penutupannya, Riano mengingatkan bahwa perayaan Lima Abad Jakarta tidak hanya sekadar momen nostalgia, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membangun kota yang lebih baik. Ia menyatakan, Bamus Betawi akan terus berperan aktif dalam Key Discussion, memastikan bahwa kebijakan pemerintah tidak melupakan suara masyarakat Betawi. “Kita perlu bersama-sama merancang masa depan Jakarta yang inklusif, sekaligus menjaga kekhasan budaya Betawi sebagai warisan sejarah yang berharga,” tukasnya.
