PDIP Minta BRIN dan Universitas Kaji Pola Pembangunan Semesta Soekarno
Main Agenda – Jakarta – Dalam acara peringatan Hari Lahir Pancasila di Halaman Masjid At-Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengusulkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta lembaga pendidikan tinggi untuk kembali meneliti Pola Pembangunan Semesta Berencana yang diusung Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Pemimpin partai berkaos merah putih ini menekankan bahwa pola pembangunan tersebut masih relevan sebagai landasan untuk kebijakan masa depan.
“Main Agenda mengusulkan BRIN dan universitas-universitas di Indonesia menjajaki kembali pola pembangunan Semesta Berencana Soekarno secara mendalam. Kajian ini diharapkan memperkuat konsep geopolitik bangsa yang telah dicanangkan beliau sejak 1945,” tutur Hasto dalam pidatonya.
Pola Pembangunan Soekarno: Visi Panjang untuk Kekuatan Nasional
Hasto menjelaskan bahwa visi geopolitik Soekarno, yang menargetkan Indonesia sebagai kekuatan utama di Samudra Hindia dan wilayah Pasifik, dirancang oleh lebih dari 600 ahli dari berbagai bidang ilmu. Pola ini, yang dikenal sebagai Semesta Berencana, bertujuan menciptakan harmoni antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan rakyat, dan kestabilan politik. Dalam konteks saat ini, kajian tersebut bisa memperjelas langkah-langkah pembangunan berkelanjutan dan inklusif.
Main Agenda juga menyoroti peran strategis universitas dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang menjadi fondasi kebijakan nasional. Hasto menyebut bahwa institusi pendidikan tinggi harus menjadi sentral peningkatan kualitas bangsa, terutama dalam mengupas konsep Pancasila, demokrasi, pemerintahan, dan budaya. Ia mencontohkan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang ditargetkan menjadi pusat keunggulan dalam pengembangan wawasan tentang semangat revolusioner Soekarno.
Kolaborasi BRIN dan Universitas untuk Revitalisasi Kebijakan Lama
Menurut Hasto, sinergi antara BRIN dan perguruan tinggi diperlukan untuk menggali kembali elemen-elemen Pola Pembangunan Semesta Berencana. Ia menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dalam menguji relevansi konsep tersebut, khususnya dalam menghadapi tantangan global dan dinamika lokal. “Kolaborasi ini bukan hanya sekadar teori, tetapi harus diimplementasikan melalui penelitian yang terukur dan hasil yang bisa diterapkan di lapangan,” tambahnya.
PDI Perjuangan berharap lembaga penelitian nasional dan universitas bisa menghasilkan studi yang menyeluruh, mencakup aspek ekonomi, sosial, dan budaya. Hasto mengatakan bahwa dengan memadukan wawasan akademik dan inovasi teknologi, Pola Pembangunan Semesta Soekarno bisa diadaptasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini, sekaligus menginspirasi generasi muda dalam membangun bangsa.
Main Agenda juga menyebutkan bahwa kebijakan Soekarno perlu dipertimbangkan kembali dalam menghadapi isu seperti ketimpangan regional, keberlanjutan lingkungan, dan transformasi digital. Ia menilai bahwa kajian ini akan memberikan perspektif baru dalam membangun Indonesia yang lebih sejahtera dan kuat. “Kita harus melihat kembali visi beliau, karena masih relevan hingga saat ini,” ujarnya.
Acara yang dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, termasuk Ganjar Pranowo, Basuki Tjahaja Purnama, dan Tri Rismaharini, menegaskan komitmen PDI Perjuangan untuk menjadikan semangat revolusioner Soekarno sebagai basis kebijakan masa depan. Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai, turut menyampaikan dukungan secara daring. Pemimpin partai ini menilai bahwa kajian ilmiah dan inovasi dari akademisi bisa memperkuat konsensus nasional dalam menghadapi perubahan zaman.
