Rilis Pers

Latest Program: Optik Tunggal Tingkatkan Kompetensi Optometris Lewat Pelatihan Pediatric Vision Care

Optik Tunggal Tingkatkan Kompetensi Optometris dengan Pelatihan Spesialisasi Pemeriksaan Mata Anak

Latest Program –

Sebanyak 40 peserta yang berasal dari berbagai toko Optik Tunggal mengikuti pelatihan pediatric vision care yang digelar sepanjang Mei 2026. Program ini bertujuan memperkuat kemampuan optometris dalam memberikan layanan kesehatan mata yang sesuai dengan kebutuhan anak. Pelatihan ini diisi oleh Dr. Scarlett Cacayuran Salva, seorang spesialis optometri dan konsultan pediatric vision screening, yang menyampaikan materi terkait metode pemeriksaan visual untuk anak-anak serta pendekatan yang lebih efektif dalam menghadirkan pengalaman nyaman selama proses pemeriksaan.

Kehadiran anak-anak dalam usia dini semakin meningkatkan risiko gangguan penglihatan, terutama akibat paparan layar digital yang intensif. Dengan tren teknologi modern, kebutuhan akan layanan kesehatan mata untuk anak menjadi semakin kritis. Doli Rosmiaty, Direktur Operasional Retail Optik Tunggal, menjelaskan bahwa pemeriksaan mata anak memerlukan pendekatan yang berbeda dari metode standar yang digunakan pada orang dewasa. “Anak-anak memiliki kebutuhan visual yang unik dan kebiasaan respons yang berbeda, sehingga optometris harus mampu menyesuaikan diri dengan pola interaksi mereka,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (17/5).

Menurut Doli, pelatihan ini merupakan langkah strategis untuk memastikan staf Optik Tunggal mampu memberikan layanan yang terukur dan tepat sasaran. “Kami ingin membangun standar pemeriksaan yang lebih komprehensif, baik secara teknis maupun emosional, agar anak merasa lebih percaya diri saat menjalani pemeriksaan mata,” tambahnya. Kualitas layanan pediatric vision care, menurutnya, menjadi prioritas utama dalam menghadapi tantangan yang terus berkembang di masyarakat.

Program pelatihan ini mencakup berbagai topik, mulai dari teknik pemeriksaan visual yang diterapkan pada anak, cara komunikasi efektif dengan pasien muda, hingga desain ruang pemeriksaan yang ramah dan menyenangkan. Dr. Scarlett, yang juga seorang ahli dalam bidang ini, menyebut bahwa keberhasilan proses pemeriksaan tidak hanya bergantung pada alat atau metode, tetapi juga pada kemampuan optometris untuk membangun hubungan yang nyaman dengan anak.

Dalam pelatihan, peserta diberikan pembekalan tentang penggunaan alat-alat khusus untuk anak, seperti lensa bersifat menyesuaikan atau proyektor visual interaktif. Selain itu, materi juga fokus pada pembelajaran tentang psikologis anak, yaitu cara menciptakan rasa aman dan antusias selama proses pemeriksaan. “Anak-anak cenderung lebih rentan terhadap kecemasan atau ketidaknyamanan saat dihadapkan ke alat optik, jadi optometris harus mampu memastikan setiap langkah mereka menyesuaikan diri dengan karakteristik anak,” kata Dr. Scarlett dalam sesi diskusi.

Metode pelatihan ini dirancang untuk memperkaya kemampuan teknis sekaligus meningkatkan keterampilan komunikasi. Peserta diharapkan mampu mengaplikasikan pendekatan child-friendly dalam ruang pemeriksaan, seperti penggunaan lingkungan yang menarik, gambar interaktif, atau alat bantu yang lucu. Selain itu, mereka juga diberikan pelatihan tentang observasi visual yang teliti, termasuk kemampuan untuk menangkap sinyal nonverbal dari anak selama pemeriksaan.

Dr. Scarlett menekankan bahwa anak membutuhkan pendekatan yang berbeda karena sifat respons mereka terhadap lingkungan dan stimulasi visual. “Proses pemeriksaan mata anak tidak hanya tentang mengidentifikasi kebutuhan optik mereka, tetapi juga memahami cara mereka berinteraksi dengan dunia sekitar,” katanya. Ia menambahkan bahwa kesabaran dan kreativitas optometris sangat penting untuk membuat anak merasa terlibat, bukan hanya menjadi objek pemeriksaan.

Dalam sesi praktik, peserta diberikan kesempatan untuk melatih teknik pemeriksaan yang lebih fleksibel. Misalnya, mereka belajar bagaimana menggunakan gambar bergerak atau permainan sederhana untuk menarik perhatian anak, sekaligus mengumpulkan data yang akurat. “Anak-anak yang kurang kooperatif memerlukan strategi yang tidak hanya teknis, tetapi juga berbasis empati,” jelas Dr. Scarlett. Ia menyarankan bahwa pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kepuasan pasien, tetapi juga meminimalkan kesalahan diagnosis.

Program pelatihan ini juga menjadi bagian dari upaya Optik Tunggal dalam membangun ekosistem pediatric vision care yang lebih lengkap. Konsep Next Generation, yang dirancang khusus untuk anak, diharapkan menjadi wadah layanan kesehatan mata yang tidak hanya fungsional tetapi juga menyenangkan. “Kami ingin menciptakan lingkungan pemeriksaan yang lebih menghibur, sehingga anak tidak hanya merasa nyaman, tetapi juga antusias untuk menjalani proses,” kata Doli Rosmiaty.

Menurutnya, penerapan konsep ini akan membantu mengurangi rasa takut atau ketergantungan anak terhadap alat pemeriksaan. “Toko yang dirancang khusus untuk anak memiliki fasilitas dan tata letak yang memperhatikan kebutuhan mereka, seperti penggunaan warna-warna cerah dan desain ruangan yang interaktif,” ujarnya.

Optik Tunggal menargetkan peningkatan kemampuan SDM optometris menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan layanan kesehatan mata. Dengan adanya pelatihan pediatric vision care, mereka berharap mampu menjawab tantangan yang muncul akibat peningkatan kebutuhan penglihatan anak. “Kami percaya bahwa dengan kompetensi yang lebih baik, Optik Tunggal dapat menjadi mitra utama dalam menjaga kesehatan mata generasi muda,” tambah Doli.

Program ini juga memperkuat komitmen Optik Tunggal dalam mendorong kesehatan mata sejak dini. Dengan teknologi dan metode yang disesuaikan, mereka berharap mampu mendeteksi masalah visual secepat mungkin, sehingga mencegah komplikasi yang bisa berdampak jangka panjang. “Anak-anak yang menerima layanan optimal sejak kecil cenderung mengalami penglihatan yang lebih baik di masa dewasa,” kata Dr. Scarlett.

Kehadiran pelatihan ini diharapkan memberikan dampak positif pada pening

Leave a Comment