New Policy: Google Izinkan Situs Web Tolak Kontennya Tampil di Hasil Pencarian AI
New Policy – Dalam upaya meningkatkan pengendalian atas hasil pencarian berbasis kecerdasan buatan, Google meluncurkan New Policy yang memberi pemilik situs web opsi untuk menolak konten mereka ditampilkan dalam fitur AI seperti AI Overviews dan AI Mode. Perubahan ini diperkenalkan melalui Search Console, dengan penambahan tombol pengaturan yang memungkinkan pengelola situs menentukan apakah halaman mereka bisa digunakan sebagai sumber data oleh layanan pencarian generatif Google. New Policy ini bertujuan memperkuat keseimbangan antara kebebasan pengguna internet dan kepentingan penerbit konten.
Uji Coba di Inggris: Awal dari Perubahan Global
Langkah New Policy pertama kali diuji coba pada sejumlah situs web di Inggris, sebelum diperluas ke pasar internasional. Google menegaskan bahwa opsi opt-out ini tidak akan memengaruhi peringkat situs dalam hasil pencarian biasa. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons terhadap tekanan dari Otoritas Persaingan dan Pasar Inggris (CMA), yang meminta perusahaan teknologi raksasa itu memberikan mekanisme untuk mengatur penggunaan konten oleh sistem AI. New Policy dianggap sebagai bagian dari upaya Google meningkatkan transparansi dalam ekosistem pencarian digital.
“Kebijakan New Policy diterapkan karena dominasi Google di pasar pencarian digital, di mana perusahaan tersebut dianggap memiliki posisi strategis yang menguntungkan,” kata CMA.
Menurut CMA, New Policy bertujuan untuk memastikan penerbit berita memiliki kontrol lebih dalam terhadap bagaimana konten mereka diakses dan digunakan. Pemerintah Inggris telah memaksa Google menyediakan fitur ini sejak Januari 2026, sebagai langkah untuk mendorong perusahaan menciptakan keseimbangan antara inovasi teknologi dan hak pemilik konten. Selain itu, CMA juga ingin memastikan bahwa keberadaan AI tidak mengurangi nilai sumber daya manusia dalam proses penyebaran informasi.
Fitur Terbaru di Search Console: Transparansi dan Analisis Data
Selain opsi opt-out, Google juga memperkenalkan metrik baru di Search Console. Metrik ini membantu pemilik situs melacak halaman mana yang terpilih untuk ditampilkan dalam hasil pencarian AI, serta memahami asal geografis pengguna yang mengakses konten tersebut. New Policy memungkinkan pemilik situs mengambil data tersebut untuk mengevaluasi dampak AI terhadap lalu lintas dan visibilitas situs mereka. Perusahaan berencana mengembangkan metrik analitik ini berdasarkan masukan dari berbagai pihak, termasuk penerbit, kreator, dan regulator.
Google menekankan bahwa New Policy ini merupakan bagian dari dialog terus-menerus dengan para pemangku kepentingan. Perusahaan mengatakan sedang bekerja sama dengan penerbit, kreator konten, serta badan pengawas untuk menyempurnakan alat yang tersedia. Dengan adanya fitur opt-out, pengguna situs web diharapkan bisa lebih fleksibel dalam mengatur bagaimana konten mereka digunakan oleh teknologi AI, yang kini semakin menjadi pusat perhatian dalam industri digital.
Perubahan Perilaku Pengguna: Dari Klik ke Ringkasan
Dengan New Policy, Google mencoba mengakomodasi perubahan cara pengguna berinteraksi dengan informasi online. AI Overviews dan AI Mode yang diperkenalkan sebelumnya memungkinkan pengguna mendapatkan ringkasan konten secara langsung tanpa perlu mengklik situs web. Namun, kritik muncul karena dianggap mengurangi jumlah kunjungan ke sumber asli, yang menjadi pendapatan utama bagi banyak penerbit digital. New Policy memberi solusi dengan memberikan opsi untuk menolak konten ditampilkan dalam format ringkasan AI.
Pelaku media menilai New Policy sebagai langkah penting untuk mengembalikan kontrol terhadap visibilitas konten mereka. Meski AI Overviews dan AI Mode memberikan kecepatan akses informasi, perusahaan-perusahaan berita tetap khawatir bahwa metode ini mengubah pola penggunaan internet, memicu penurunan trafik, dan mengurangi dampak konten mereka dalam mendidik publik. Dengan New Policy, Google memberikan alat untuk menghadapi tantangan ini secara lebih proaktif.
Pelaku Media: Antusiasme dan Keberatan
Banyak penerbit merasa New Policy membuka peluang baru untuk mengatur visibilitas konten mereka di era AI. Namun, ada pihak yang masih mempertanyakan efektivitas fitur ini dalam menyeimbangkan keuntungan dan kerugian bagi industri media. Dalam sebuah wawancara, seorang editor online mengatakan, “Meski New Policy memberi opsi, pengguna masih cenderung memilih hasil ringkasan karena lebih praktis dan cepat. Kita perlu lihat bagaimana respon masyarakat terhadap perubahan ini.”
Google menyatakan New Policy ini akan terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pemilik konten. Perusahaan juga berharap fitur opt-out bisa menjadi bantuan bagi situs web yang ingin menjaga kualitas konten mereka di tengah meningkatnya kompetisi di ranah digital. Dengan New Policy, Google ingin memastikan bahwa teknologi AI tetap menjadi alat yang bermanfaat, bukan ancaman terhadap eksistensi penerbit.
Kesimpulan: Era Pencarian AI Berubah
Perkenalan New Policy menandai pergeseran signifikan dalam cara Google mengelola pencarian berbasis AI. Fitur opt-out ini memungkinkan pemilik situs web menyesuaikan strategi mereka dengan perubahan perilaku pengguna, sementara Google tetap memperluas kemampuan teknologi AI. Dengan New Policy, keseimbangan antara inovasi dan hak penerbit ditegakkan, sekaligus memberi ruang bagi pengguna untuk memilih antara akses cepat ke ringkasan atau pengalaman lengkap melalui situs asli. Perubahan ini diharapkan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap peran Google dalam digitalisasi informasi.
