Key Strategy: 71.744 Sekolah di 3T & Daerah Bencana Dijadwalkan Revitalisasi 2026
Key Strategy – Program revitalisasi sekolah di tahun 2026 akan mengutamakan 71.744 unit pendidikan di daerah 3T (terpencil, terdegradasi, dan tertinggal) serta wilayah rawan bencana. Strategi ini diungkapkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, dalam inspeksinya ke Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Sikur, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada Minggu (17/5). Menurutnya, fokus pada daerah rentan bencana dan terpencil adalah langkah strategis untuk meningkatkan akses dan kualitas pendidikan.
Revitalisasi untuk Peningkatan Infrastruktur Pendidikan
Menurut Abdul Mu’ti, revitalisasi sekolah pada 2026 bertujuan mengatasi masalah infrastruktur yang tidak memadai di wilayah yang sering mengalami bencana seperti banjir, gempa, atau tanah longsor. Daerah 3T, yang cenderung kurang mendapat perhatian, juga akan menjadi prioritas. Ia menjelaskan bahwa program ini akan mencakup perbaikan gedung, peralatan, dan lingkungan belajar untuk memastikan keberlanjutan pendidikan di sana. “Key Strategy kami adalah menjamin bahwa setiap sekolah memiliki kondisi optimal untuk mendukung pembelajaran yang berkualitas,” kata dia.
Langkah Pemerintah untuk Mengatasi Tantangan Pendidikan
Revitalisasi ini diharapkan memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan siswa dan guru, terutama di daerah yang sulit mengakses layanan pendidikan. Selain itu, program ini akan didukung oleh anggaran besar yang berasal dari pusat dan daerah. Menurut data yang diungkapkan, total dana yang dialokasikan mencapai Rp5 triliun untuk 71.744 unit sekolah yang diprioritaskan. “Key Strategy ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk memperkuat sistem pendidikan di tengah tantangan alam,” tambahnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah memperkenalkan kebijakan khusus untuk daerah rawan bencana, seperti pelatihan kesiapan darurat, penggunaan bahan bangunan tahan bencana, dan penguatan sistem informasi pendidikan. Kini, revitalisasi sekolah dianggap sebagai bagian penting dari “Key Strategy” nasional dalam menghadapi perubahan iklim dan bencana alam yang semakin intens. “Ini bukan sekadar peningkatan fisik, tapi juga investasi dalam masa depan generasi muda,” ujar Abdul Mu’ti.
Program revitalisasi 2026 juga akan mengintegrasikan teknologi dalam pendidikan. Misalnya, pembangunan ruang belajar digital dan penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi untuk mempercepat proses pembelajaran di daerah yang terisolasi. Selain itu, pemerintah berencana menyelenggarakan pelatihan khusus bagi guru dan tenaga pendidik di 3T untuk meningkatkan kapasitas mereka. “Key Strategy ini menggabungkan infrastruktur dan sumber daya manusia untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih adaptif,” tambahnya.
Dalam wawancara terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Timur, Nurhadi, menyebutkan bahwa revitalisasi sekolah di daerahnya akan mencakup perbaikan kesiswaan dan pengembangan kurikulum yang lebih relevan dengan kebutuhan lokal. “Key Strategy ini sangat mendukung kami dalam meraih target pendidikan inklusif hingga 2026,” katanya. Selain itu, ia menambahkan bahwa sekitar 30% dari sekolah yang diperbaiki akan dikelola oleh masyarakat setempat melalui program kerja sama pemerintah dan swasta.
Revitalisasi sekolah di 3T dan daerah bencana juga menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan pendidikan di tengah krisis iklim. Proyek ini akan dilakukan secara bertahap, dengan pengecekan kesiapan setiap tahun sebelum pelaksanaan. “Key Strategy ini memastikan bahwa tidak ada sekolah yang tertinggal dalam pembangunan,” jelas Abdul Mu’ti. Dengan adanya revitalisasi ini, diharapkan akses pendidikan menjadi lebih merata, terutama di wilayah yang sebelumnya sulit terjangkau.
