Internasional

Indonesia eksplorasi kerja sama pangan hingga AI dengan AS

Foto : Karen Anderson - beritaturah.com

Beritaturah.com – “`html

Indonesia dan AS Perkuat Kemitraan Ekonomi Lewat Berbagai Sektor

Jakarta — Hubungan ekonomi antara Indonesia dan Amerika Serikat terus mengalami penguatan melalui eksplorasi peluang kerja sama di berbagai bidang strategis. Mulai dari sektor pangan, penerbangan, pertambangan, pertahanan, teknologi, hingga pengembangan kecerdasan buatan (AI), kedua negara berkomitmen untuk memperdalam kolaborasi mereka.

Pertemuan yang diselenggarakan di Washington pada Selasa (28/7) menghadirkan Duta Besar RI untuk AS, Indroyono Soesilo, bersama perwakilan perusahaan-perusahaan Amerika. Inisiatif ini datang dari Dewan Bisnis AS-ASEAN yang bertujuan memperkuat ikatan perdagangan dan investasi bilateral.

“Hubungan ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat tidak boleh berhenti pada angka perdagangan,” ujar Dubes Indroyono dalam keterangan tertulis KBRI Washington DC yang diterima di Jakarta, Jumat.

Menurutnya, aspek yang lebih krusial adalah bagaimana perdagangan dan investasi mampu menciptakan nilai tambah, memperkuat industri nasional, membuka lapangan kerja, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta membawa teknologi baru ke Indonesia.

Investasi dan Perdagangan Bilateral

Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) New York, Tessal Maharizky Febrian, menyampaikan bahwa investasi Amerika Serikat ke Indonesia pada semester pertama 2026 telah mencapai sekitar 1,7 miliar dolar AS. Sementara itu, pada tahun 2025, nilai ekspor Indonesia ke AS mencapai sekitar 31 miliar dolar AS atau sekitar 11 persen dari total ekspor Indonesia secara global. Nilai perdagangan bilateral kedua negara tercatat sekitar 43,8 miliar dolar AS.

Komoditas utama ekspor Indonesia ke AS antara lain produk elektronika sekitar 6 miliar dolar AS, tekstil 4,9 miliar dolar AS, alas kaki 2,8 miliar dolar AS, minyak sawit 2,1 miliar dolar AS, furnitur 1,4 miliar dolar AS, serta produk perikanan sekitar 1,2 miliar dolar AS.

Di sisi lain, Indonesia mengimpor berbagai produk dari AS, antara lain kedelai, kapas, gandum, pesawat terbang dan produk ruang angkasa atau satelit, mesin, produk kesehatan, bahan kimia, serta teknologi informasi dan telekomunikasi.

Kolaborasi di Berbagai Sektor Industri

Pertemuan tersebut memperlihatkan luasnya spektrum kepentingan bisnis AS di Indonesia. Di sektor penerbangan, Boeing memiliki hubungan jangka panjang dengan Indonesia melalui penggunaan pesawat komersial oleh maskapai nasional, sekaligus membuka peluang penguatan rantai pasok dan industri komponen pesawat di dalam negeri.

Sedangkan di bidang pertahanan dan kedirgantaraan, Lockheed Martin menjadi salah satu perusahaan yang melihat peluang kerja sama dalam modernisasi alat utama sistem persenjataan serta penguatan kapasitas industri nasional. Sementara di sektor pertambangan, Freeport-McMoRan melalui PT Freeport Indonesia terus menjadi bagian penting dalam pengelolaan sumber daya mineral, termasuk investasi pada infrastruktur pertambangan dan fasilitas pengolahan serta pemurnian mineral.

Sektor pangan juga menjadi salah satu fondasi penting hubungan ekonomi kedua negara. Cargill memiliki peran dalam perdagangan komoditas seperti jagung, kedelai, dan gandum, sedangkan Caterpillar telah memasok peralatan berat untuk sektor pertambangan dan konstruksi di Indonesia sejak 1971. Di sektor konsumsi dan keberlanjutan, PepsiCo menjalankan berbagai inisiatif lingkungan, termasuk pengelolaan kemasan dan penanaman pohon.

Dimensi Baru Teknologi dan AI

Perkembangan teknologi menghadirkan dimensi baru dalam hubungan ekonomi Indonesia–AS. NVIDIA, misalnya, terlibat dalam pengembangan talenta AI bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI. Walmart Foundation turut mendorong penguatan rantai pasok berkelanjutan dan kesejahteraan petani, sedangkan Chubb berkontribusi dalam pengembangan literasi keuangan dan manajemen risiko.

Tantangan dan Peluang ke Depan

Menurut Dubes Indroyono, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Jakarta dan Washington memiliki fondasi yang kuat, tetapi masih menyimpan ruang pertumbuhan yang jauh lebih besar. Dengan pasar domestik yang besar, sumber daya alam yang strategis, posisi geografis yang penting, serta agenda transformasi digital dan industrialisasi yang terus berkembang, Indonesia memiliki peluang untuk memperluas kemitraan dengan perusahaan-perusahaan AS.

Namun demikian, ia menyoroti sejumlah hal yang dinilai perlu diperkuat, antara lain perlindungan hak cipta dan hak kekayaan intelektual, konsistensi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah, efisiensi logistik, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Di lain pihak, para pelaku usaha AS dalam pertemuan tersebut juga menyampaikan sejumlah masukan mengenai iklim investasi di Indonesia. Reformasi perizinan melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berbasis Risiko dinilai sebagai langkah positif yang perlu terus disempurnakan.

“`

Leave a Comment