Internasional

Hiroshima serukan hapus senjata nuklir pada peringatan 81 thn bom atom

Foto : Karen Anderson - beritaturah.com
Table of Contents
  1. Hiroshima Menggema Suara Penghapusan Senjata Nuklir di Ulang Tahun ke-81 Bom Atom
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Hiroshima Menggema Suara Penghapusan Senjata Nuklir di Ulang Tahun ke-81 Bom Atom

Beritaturah.com – Kota Hiroshima pada hari Kamis ini menggalakkan ajakan kepada para pemimpin dunia agar menghapuskan senjata nuklir. Seruan ini muncul di saat ketegangan global semakin memuncak, tepat pada momen peringatan 81 tahun jatuhnya bom atom buatan Amerika Serikat di kota ini.

Wali Kota Hiroshima, Kazumi Matsui, menyampaikan kekecewaan bahwa negara-negara besar masih memanfaatkan senjata nuklir sebagai “alat intimidasi” dalam konflik militer. Dalam Deklarasi Perdamaian yang dibacakan pada upacara tahunan tersebut, Matsui menegaskan:

Meremehkan sifat tidak manusiawi senjata nuklir dan menerima penggunaan kekuatan demi mengejar kemakmuran sendiri berisiko memicu siklus balas dendam yang pada akhirnya dapat berujung pada Hiroshima atau Nagasaki berikutnya.

Konteks Geopolitik yang Menegangkan

Peringatan ini datang setelah Konferensi Tinjauan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) gagal mencapai dokumen konsensus. Situasi ini diperparah oleh konflik-konflik yang masih berlangsung, termasuk perang yang dipimpin Amerika Serikat melawan Iran serta invasi Rusia ke Ukraina.

Matsui menambahkan dalam pidatonya:

Saya yakin Anda (para pembuat kebijakan) memahami bahwa penggunaan senjata nuklir dalam bentuk apa pun akan menimbulkan kerusakan yang sangat besar bagi umat manusia, dan bahwa isu non-proliferasi serta pelucutan senjata nuklir hanya dapat diselesaikan melalui upaya multilateral.

Ia juga menekankan pentingnya memberikan teladan bagi komunitas internasional.

Hening untuk Mengenang Korban

Pada pukul 08.15 waktu setempat, seluruh hadirin melakukan pengheningan cipta. Momen ini menandai tepat saat pesawat pengebom Enola Gay dari Amerika Serikat menjatuhkan bom uranium di atas Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Ledakan dahsyat tersebut diperkirakan menewaskan sekitar 140.000 orang hingga akhir tahun tersebut.

Tiga hari setelah serangan pertama menghancurkan Hiroshima, bom atom kedua dijatuhkan di Nagasaki, Jepang barat daya. Enam hari kemudian, Jepang menyerah kepada Pasukan Sekutu, menandai berakhirnya Perang Dunia II.

Posisi Jepang dan Tantangan Masa Depan

Perdebatan mengenai perlunya meninjau kembali tiga prinsip non-nuklir Jepang semakin menguat. Prinsip-prinsip tersebut mencakup tidak memproduksi, tidak memiliki, dan tidak mengizinkan senjata nuklir berada di wilayahnya. Di tengah memburuknya kondisi keamanan kawasan, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan bahwa Jepang tetap berpegang pada ketiga prinsip tersebut.

Konferensi Tinjauan NPT yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali berakhir tanpa menghasilkan dokumen konsensus untuk ketiga kalinya secara berturut-turut setelah berlangsung selama sebulan di New York.

Matsui menilai kegagalan konferensi tersebut disebabkan oleh “para pemimpin politik yang saling menyalahkan untuk membenarkan tindakan mereka sendiri.” Menurutnya, perkataan dan tindakan tersebut “mengguncang fondasi perdamaian dan stabilitas global sekaligus mengabaikan kewajiban yang diatur dalam NPT.”

Takaichi menyatakan bahwa meskipun konferensi menunjukkan betapa sulitnya mewujudkan penghapusan senjata nuklir, “kita tidak boleh menghentikan perjalanan ini.”

Seruan PBB dan Generasi Muda

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan dalam pernyataannya bahwa “norma dan mekanisme pengaman yang selama ini membantu mencegah bencana nuklir kini berada di bawah tekanan.” Ia juga menyebutkan bahwa “ancaman penggunaan senjata nuklir kembali digaungkan atas nama kekuasaan dan pemaksaan.”

Pernyataan tersebut dibacakan oleh Wakil Sekretaris Jenderal PBB sekaligus Perwakilan Tinggi Urusan Pelucutan Senjata, Izumi Nakamitsu. Guterres menyerukan agar dunia memilih “dialog daripada perpecahan, kerja sama daripada konfrontasi, dan keamanan bersama daripada kepentingan sempit.”

Seiring terus berkurangnya jumlah hibakusha atau penyintas bom atom, Matsui mengajak generasi muda menjadikan “penghapusan senjata nuklir sebagai akal sehat dalam komunitas internasional” serta “membantu menciptakan lingkungan yang tidak lagi memungkinkan para pembuat kebijakan bergantung pada strategi penangkalan nuklir.”

Matsui juga mendesak Jepang untuk berpartisipasi sebagai pengamat dalam Konferensi Tinjauan Perjanjian Pelarangan Senjata Nuklir yang akan digelar pada November mendatang. Jepang hingga kini belum bergabung dengan Perjanjian Pelarangan Senjata Nuklir karena masih mengandalkan payung nuklir Amerika Serikat sebagai bagian dari strategi penangkalannya.

Sebagai satu-satunya negara yang pernah mengalami kehancuran akibat serangan nuklir dalam perang, Jepang memiliki misi untuk terus berupaya mewujudkan dunia yang bebas dari senjata nuklir.

Frequently Asked Questions

What is Hiroshima serukan hapus senjata nuklir?

Hiroshima serukan hapus senjata nuklir is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Hiroshima serukan hapus senjata nuklir matter?

Hiroshima serukan hapus senjata nuklir matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment