Humaniora

Key Discussion: Mahasiswi Indonesia di China: “Saya merasa aman dan nyaman”

Mahasiswi Indonesia di Tiongkok: “Saya merasa aman dan nyaman”

Key Discussion – Maria, seorang mahasiswi asal Kota Kediri, Jawa Timur, kini sedang menempuh pendidikan pascasarjana di Universitas Ningxia, Tiongkok. Baginya, negara ini bukan hanya tempat belajar, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan yang penuh makna. Dalam wawancara dengan media, Maria mengungkapkan kepuasan atas pengalaman yang dijalani selama beberapa tahun terakhir di Tiongkok.

“Selama beberapa tahun belajar di Tiongkok, saya merasa nyaman dan aman, serta menikmati pengalaman yang bermakna. Saya berharap bisa tetap tinggal dan bekerja di sini,” ujar Maria, yang saat itu mengenakan batik tradisional dengan motif elegan.

Sebelum melanjutkan studi di Tiongkok, Maria memulai pendidikan tingkatannya di Surabaya International Institute of Business and Technology (SIIBT), Surabaya. Di sana, ia mempelajari Bahasa dan Sastra Mandarin. Pada 2018, melalui program kerja sama internasional “2+2”, ia memutuskan mengikuti studi lanjutan di Chongqing, Tiongkok. Keputusan ini mengubah jalannya, mengajaknya mengenal budaya dan bahasa Tiongkok secara lebih mendalam.

Bahasa Mandarin, menurut Maria, memang tidak mudah dipelajari. Ia mengatakan bahwa bahasa Indonesia relatif sederhana dalam pelafalan, sedangkan Mandarin mengandalkan karakter ideografis yang memiliki makna kompleks. “Pelafalan dan arti kata dalam Mandarin berbeda secara signifikan,” jelasnya. Selain itu, ia juga menyoroti perbedaan cara penyampaian pesan antara kedua bahasa tersebut.

“Walaupun sulit, justru di situlah letak menariknya Mandarin. Bahasa ini sangat menantang sekaligus membuat saya penasaran,” lanjut Maria. Dalam menjalani studi, ia berusaha meningkatkan kemampuan berbicara, mendengar, dan menulis melalui berbagai metode, seperti membaca buku, menyanyi lagu, dan menonton film.

Maria tidak hanya fokus pada pelajaran bahasa, tetapi juga aktif mengikuti kegiatan budaya. Ia belajar seni tradisional seperti kaligrafi, gunting kertas, dan tai chi. “Budaya Tiongkok penuh pesona. Setiap aktivitas yang dilakukan selama belajar memberi saya wawasan baru tentang sejarah dan keunikan negeri ini,” katanya.

Dalam masa studi sarjana, Maria sempat mengajar di dua lembaga pendidikan: sebuah sekolah tiga bahasa di Bali dan sekolah nasional plus di Surabaya. Pengalaman ini memberinya wawasan tentang perbedaan budaya dan cara komunikasi antara masyarakat Indonesia dan Tiongkok. “Saya melihat banyak keberagaman dalam cara orang berpikir dan berbicara,” ujarnya.

“Di Indonesia, masyarakat keturunan Tionghoa cukup banyak, dan minat belajar Mandarin terus meningkat. Banyak keluarga dari berbagai suku ingin anak-anak mereka menguasai bahasa ini. Ini menjadi peluang besar bagi kami untuk berkontribusi di bidang pendidikan,” jelas Maria.

Setelah menyelesaikan studi sarjana, Maria memutuskan kembali ke Tiongkok untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana. “Kembali belajar di sini membuat saya sangat bersemangat,” kata mahasiswi berusia 28 tahun itu. Ia menilai bahwa suasana belajar di Universitas Ningxia berbeda dari di Indonesia. Di sana, ruang belajar lebih ramai, dan tempat duduk harus diperjuangkan sebelum jam kuliah dimulai.

Maria mengungkapkan bahwa kebiasaan belajar para teman Tiongkok menjadi motivasinya. “Mereka sangat rajin, bahkan menghabiskan waktu di perpustakaan tanpa henti. Melihat itu, saya semakin termotivasi untuk lebih giat belajar,” tuturnya. Di waktu senggang, ia juga sering berinteraksi langsung dengan masyarakat Tiongkok, mengikuti diskusi budaya, dan mempelajari pola pikir mereka.

Di Indonesia, Maria mengaku masih merasa tertarik belajar bahasa Mandarin, tetapi ia ingin memperdalam pemahaman budaya Tiongkok secara lebih intens. “Mendalami budaya ini akan membantu saya dalam membangun hubungan yang lebih kuat dengan masyarakat sini,” jelasnya. Dengan latar belakang akademik dan pengalaman mengajar, ia berharap bisa mengembangkan kariernya di bidang pendidikan.

Sebagai mahasiswa pascasarjana, Maria berharap bisa mengajarkan Bahasa Indonesia di kampus Tiongkok atau kembali ke Indonesia untuk terus berkontribusi di bidang pendidikan. “Apa pun pilihan saya nanti, hubungan dengan Tiongkok dan Mandarin akan terus berlanjut,” ujarnya dengan optimis.

Kehadiran Maria di Tiongkok juga menjadi contoh bagus bagi mahasiswa Indonesia lainnya yang tertarik mempelajari bahasa dan budaya Negeri Panda. Ia menekankan pentingnya adaptasi dan ketekunan dalam menghadapi tantangan belajar bahasa. “Budaya dan bahasa saling berkaitan. Memahami satu berarti mengenal yang lain,” katanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, Maria merasa bahwa Tiongkok menawarkan lingkungan yang mendukung. Ia menyoroti kebijakan pemerintah Tiongkok dalam meningkatkan penggunaan bahasa Mandarin, yang membuatnya semakin percaya bahwa minat terhadap bahasa ini akan terus berkembang.

Maria juga berharap bisa menjadi jembatan antara budaya Indonesia dan Tiongkok. “Saya ingin menyebarluaskan keindahan budaya Indonesia di sini, sekaligus memperkaya pengetahuan saya tentang Tiongkok,” ujarnya. Dengan semangat belajar yang tidak pernah berhenti, ia yakin akan mampu mengejar impian tersebut.

Sebagai penutup, Maria menyampaikan harapan agar lebih banyak mahasiswa Indonesia tertarik belajar di Tiongkok. “Negara ini punya banyak peluang, baik dalam pendidikan maupun karier. Saya percaya bahwa kehidupan di Tiongkok akan membawa banyak manfaat bagi kami,” pungkasnya.

Leave a Comment