Bisnis

Bapanas salurkan 610,3 ribu ton beras SPHP hingga 8 Agustus 2026

E9A3406D-1197-4E14-93E3-ED73348EFD19
Foto : Christopher Moore - beritaturah.com
Table of Contents
  1. Program SPHP Capai 610,3 Ribu Ton Beras di Awal 2026
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Program SPHP Capai 610,3 Ribu Ton Beras di Awal 2026

Beritaturah.com – Stabilitas inflasi nasional terus membaik seiring berbagai langkah yang diambil pemerintah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka inflasi Indonesia pada Juli 2026 sebesar 2,88 persen secara tahunan, menurun dari 3,34 persen yang tercatat di bulan Juni. Secara bulanan, negara juga mengalami deflasi sebesar 0,14 persen. Penguatan stabilitas pangan menjadi salah satu faktor penting dalam pencapaian tersebut.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) melaporkan bahwa penyaluran beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) telah mencapai 610,3 ribu ton hingga 8 Agustus 2026. Angka ini merupakan upaya strategis untuk menjaga kestabilan harga beras serta memperkuat ketersediaan di tingkat masyarakat. “Salah satu dukungan utama intervensi harga pangan dilakukan melalui penyaluran beras SPHP,” jelas Kelik Budiana, Kepala Pusat Data dan Informasi Bapanas.

Menurut keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta pada hari Selasa, realisasi tersebut telah mencapai 73,71 persen dari total target sebesar 828 ribu ton. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang diselenggarakan di Kantor Kementerian Dalam Negeri. Perum Bulog berperan penting dalam menyalurkan beras SPHP berdasarkan penugasan resmi dari Bapanas.

Kualitas dan Harga Beras SPHP

Distribusi beras dilakukan dalam kemasan berukuran 5 kilogram dengan kualitas medium. Tingkat pecahan beras mencapai sekitar 25 persen sementara kadar air berada pada 14 persen sesuai standar pemerintah. Selain itu, kini juga disiapkan opsi kemasan 2 kilogram untuk kebutuhan yang lebih fleksibel. “Bahkan kini disiapkan kemasan 2 kg,” ujarnya.

Harga beras SPHP mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berbeda berdasarkan wilayah. Zona 1 mencakup Jawa, Lampung, Sumatra Selatan, Bali, dan NTB dengan harga Rp12.500 per kilogram. Zona 2 meliputi Sumatra selain Lampung dan Sumsel, NTT, serta Kalimantan dengan harga Rp13.100 per kilogram. Sementara itu, zona 3 yang terdiri dari Maluku dan Papua menjual beras seharga Rp13.500 per kilogram.

Perubahan Pola Penyaluran dan Bantuan Pangan

Penyaluran beras SPHP pada tahun 2026 dilakukan secara berkelanjutan sepanjang tahun tanpa jeda. Hal ini berbeda dengan pola sebelumnya yang bersifat berkala dan mengikuti kondisi puncak panen untuk menjaga harga di tingkat petani. Kelik menjelaskan bahwa stabilitas harga pangan terus menunjukkan perkembangan positif seiring berbagai langkah yang diambil.

“Penguatan intervensi dari sisi pasokan, distribusi hingga harga terus dilakukan untuk mendukung daya beli masyarakat sekaligus menjaga inflasi tetap terkendali,” tegasnya. Penguatan stabilitas pangan juga diwujudkan melalui bantuan pangan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Pada Februari dan Maret 2026, setiap keluarga penerima manfaat (KPM) menerima 10 kilogram beras dan dua liter minyak goreng per bulan. Program tersebut menjangkau 33,2 juta KPM dengan realisasi hingga 30 Juni 2026 mencapai 664,8 juta kilogram beras dan 132,7 juta liter minyak goreng atau 99,70 persen. “Bantuan pangan ini dilanjutkan selama tiga bulan untuk periode Juli sampai September 2026 berdasarkan Rakortas Kemenko Pangan tanggal 9 Juni 2026, kepada penerima desil 1 sampai 4,” kata Kelik.

Gerakan Pangan Murah dan Sektor Peternakan

Akses masyarakat terhadap pangan dengan harga terjangkau juga terus diperluas melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) yang dilaksanakan bersama para pemangku kepentingan. Hingga 7 Agustus 2026, kegiatan tersebut telah digelar sebanyak 7.586 kali dan menjangkau 38 provinsi serta 448 kabupaten atau kota. Luasnya pelaksanaan kegiatan tersebut menunjukkan kuatnya kolaborasi dalam menjaga ketersediaan dan keterjangkauan pangan di berbagai wilayah.

Dukungan stabilisasi juga menyentuh sektor peternakan. Untuk menjaga harga jagung dan telur di tingkat peternak, SPHP jagung telah disalurkan kepada peternak telur ayam ras. Hingga 8 Agustus 2026, realisasi penyalurannya telah mencapai 110.573 ton atau 45,93 persen dari target 213.200 ton. “Dalam rangka stabilisasi harga jagung dan telur di tingkat peternak, Badan Pangan Nasional telah menyalurkan SPHP jagung pada peternak telur ayam ras,” kata Kelik.

“Dalam rangka stabilisasi harga jagung dan telur di tingkat peternak, Badan Pangan Nasional telah menyalurkan SPHP jagung pada peternak telur ayam ras. Penyaluran SPHP jagung ini dalam rangka stabilisasi harga telur dan daging ayam ras,” kata Kelik.

Pemantauan Harga dan Proyeksi ke Depan

Berbagai langkah tersebut berjalan seiring dengan pemantauan perkembangan harga pangan di tingkat produsen. Berdasarkan Panel Harga Pangan per 9 Agustus 2026, harga sejumlah komoditas tercatat berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP). Komoditas tersebut meliputi bawang merah, ayam ras, sapi hidup, dan kedelai biji kering lokal yang menjadi bagian dari dinamika harga di tingkat produsen.

Perhatian juga terus diberikan terhadap harga telur ayam ras yang berada 12,78 persen di bawah HAP dan segera dilakukan intervensi. Pemantauan secara berkala memungkinkan langkah stabilisasi dilakukan sesuai perkembangan komoditas, sehingga keseimbangan harga dapat terus dijaga bagi produsen maupun konsumen.

Frequently Asked Questions

What is Bapanas salurkan 610 3 ribu ton beras?

Bapanas salurkan 610 3 ribu ton beras is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Bapanas salurkan 610 3 ribu ton beras matter?

Bapanas salurkan 610 3 ribu ton beras matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment