Ekonom: Efek Belanja Pemerintah di Triwulan Mendatang Tak Sekuat di Q1
Ekonom – Jakarta, Sabtu — Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank, mengungkapkan bahwa belanja pemerintah tetap bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di triwulan berikutnya. Namun, ia menegaskan bahwa dampaknya tidak akan sekuat yang terjadi di kuartal pertama. “Tiga faktor utama memengaruhi hal ini,” jelasnya saat dihubungi ANTARA dari Jakarta.
Momentum Q1 Didorong oleh Faktor Khusus
Menurut Josua, pertumbuhan belanja pemerintah di triwulan I terutama dipengaruhi oleh efek dasar rendah, lonjakan belanja, THR, dan momentum Ramadan-Idul Fitri. Faktor-faktor ini mungkin menghilang di triwulan II dan III, sehingga kemampuan belanja untuk mendorong ekonomi akan berkurang.
“Faktor-faktor tersebut membuat belanja pemerintah di kuartal pertama terasa lebih kuat. Namun, ke depan, dorongan itu mungkin menurun,” kata Josua.
Ruang Fiskal dan Risiko Pembiayaan
Ia juga menyebutkan bahwa ruang fiskal menghadapi tekanan karena belanja negara tumbuh pesat dan kebutuhan pembiayaan meningkat. Sementara itu, rupiah masih melemah dan harga energi global tetap tinggi. Jika belanja pemerintah terus ditingkatkan tanpa perbaikan penerimaan atau efisiensi, risiko defisit dan peningkatan biaya pembiayaan bisa terjadi. Hal ini berpotensi menekan imbal hasil SBN serta mengurangi nilai tukar rupiah.
“Belanja pemerintah tetap penting sebagai penopang, tapi berisiko menurunkan pertumbuhan ekonomi jika jadi satu-satunya faktor utama,” tambah Josua.
Kualitas Efek Pengganda Belanja
Josua menekankan bahwa kualitas efek pengganda belanja pemerintah tidak bisa diandalkan sepenuhnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan. Hal ini sangat bergantung pada jenis belanja yang dilakukan. Belanja yang paling efektif adalah yang berdampak pada sektor produktif, seperti perbaikan infrastruktur dasar, percepatan distribusi pangan, penguatan kesehatan, dan pendidikan, serta peningkatan partisipasi usaha kecil dalam rantai pasok lokal.
“Belanja yang hanya meningkatkan konsumsi jangka pendek tanpa memperluas kapasitas produksi akan cepat habis dampaknya,” kata Josua.
Impor Lebih Tinggi Daripada Ekspor
Ia menyoroti pentingnya mengendalikan tekanan impor, karena impor pada triwulan I tumbuh lebih tinggi dibandingkan ekspor. Data menunjukkan impor naik 7,18 persen secara tahunan, sementara ekspor hanya meningkat 0,90 persen. Kondisi ini bisa menggeser potensi pertumbuhan ekonomi domestik ke luar negeri melalui impor bahan baku, barang modal, hingga komoditas energi.
“Efek pengganda akan lebih besar jika belanja pemerintah menyerap produk dalam negeri, bukan hanya barang impor,” imbuh Josua.
Data Belanja Negara dan Konsumsi Pemerintah
KSSK mencatat realisasi belanja negara di triwulan I 2026 mencapai Rp815,0 triliun, naik 31,4 persen yoy. Belanja pusat sebesar Rp610,3 triliun, sedangkan transfer ke daerah mencapai Rp204,8 triliun. Dari sisi konsumsi pemerintah, BPS melaporkan kenaikan sebesar 21,81 persen yoy dalam PDB selama periode tersebut.
