Humaniora

BNPB: Empat kabupaten di Jateng masih berjibaku dengan karhutla

Foto : Nancy Taylor - beritaturah.com

Tim Gabungan BNPB Terus Memadamkan Karhutla di Empat Wilayah Jawa Tengah

Beritaturah.com – BNPB – Jakarta – Situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jawa Tengah masih menjadi perhatian serius. Berdasarkan konfirmasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), personel gabungan yang terdiri dari BPBD, petugas pemadam kebakaran, TNI, Polri, serta dinas terkait terus melakukan upaya intensif di empat kabupaten. Laporan yang disampaikan oleh Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, pada hari Selasa di Jakarta, menyebutkan bahwa penanganan darurat mencakup wilayah Klaten, Grobogan, Blora, dan Wonogiri.

Insiden di Klaten dan Grobogan

Di Kabupaten Klaten, api mulai melanda pada Senin (27/7). Sekitar satu hektare area persawahan di Dukuh Srimulyo, Desa Kaligawe, Kecamatan Pedan terbakar akibat aktivitas warga yang membakar sampah tanpa kendali. Tim BPBD dan Damkar berhasil mengatasi situasi tersebut melalui metode manual. Sementara itu, di Kabupaten Grobogan, tim gabungan menghadapi tantangan lebih besar dengan luas kebakaran mencapai 3,4 hektare. Api membakar wilayah Desa Prigi di Kecamatan Kedungjati serta Desa Kaliwenang di Kecamatan Tanggungharjo. Insiden ini bermula dari pembakaran serasah sisa panen jagung pada Senin (27/7) siang. BPBD Grobogan merespons dengan cepat membuat sekat bakar untuk mencegah api menjalar lebih jauh.

Blora dan Wonogiri Juga Terdampak

Dua kabupaten lainnya, yaitu Blora dan Wonogiri, masing-masing mencatat kebakaran seluas satu hektare lahan. Kebakaran di Blora bukanlah kejadian pertama sepanjang bulan Juli. BNPB mencatat bahwa pada Rabu (22/7), api sempat menghanguskan lahan seluas tiga hektare di dua lokasi berbeda. Pertama, kawasan lahan tebu di Desa Kalangan, Kecamatan Tunjungan, kemudian disusul oleh kebakaran rumpun bambu di Desa Kebonrejo, Kecamatan Banjarejo. Kedua insiden tersebut berhasil dipadamkan sepenuhnya pada Kamis (23/7).

Abdul Muhari menyatakan bahwa rentetan peristiwa ini mempertegas bahwa pemerintah daerah, termasuk Jawa Tengah harus memiliki kesiapsiagaan penuh untuk merespons cepat kerawanan dampak minimnya curah hujan selama musim kemarau ini karena memperbesar potensi titik api kembali muncul.

Kesiapsiagaan yang optimal menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman karhutla yang semakin meningkat seiring dengan minimnya curah hujan selama musim kemarau berlangsung.

Leave a Comment