Humaniora

PKM Unib bangun model pengelolaan sampah desa berbasis partisipatif

1000839286
Foto : Susan Thomas - beritaturah.com
Table of Contents
  1. Model Partisipatif Pengelolaan Sampas Desa di Bengkulu Tengah
  2. Related Reading

Model Partisipatif Pengelolaan Sampas Desa di Bengkulu Tengah

Beritaturah.com – Desa Kelindang Atas, yang terletak di Kecamatan Merigi, Kabupaten Bengkulu Tengah, kini menjadi lokasi penerapan model baru dalam menangani permasalahan sampah. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Universitas Bengkulu (Unib) telah merancang pendekatan berbasis partisipasi masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak tingkat rumah tangga. Inisiatif ini hadir sebagai respons terhadap meningkatnya volume sampah di wilayah perdesaan yang belum diimbangi dengan sistem pengelolaan yang memadai.

Fondasi Perubahan Perilaku

Menurut Ketua Tim PKM Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unib, Diyas Widiyarti, transformasi perilaku menjadi elemen krusial dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa pemahaman masyarakat terhadap dampak kebiasaan sehari-hari akan memicu perubahan dari dalam diri, bukan karena tekanan eksternal. Pendekatan ini menekankan pentingnya edukasi yang menyentuh aspek psikologis dan sosial masyarakat.

“Perubahan perilaku merupakan fondasi utama dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Ketika masyarakat memahami dampak dari setiap kebiasaan yang dilakukan, perubahan akan muncul dari kesadaran, bukan karena paksaan,” ujar Diyas di Bengkulu pada hari Jumat.

Program yang mengusung tema ‘Membangun Perilaku Sadar Lingkungan Melalui Edukasi Pengelolaan Sampah Berbasis Partisipatif Mendukung Kebersihan Desa’ ini dirancang lebih dari sekadar penyampaian informasi. Pendekatan ini bertujuan membangun kesadaran lingkungan yang dimulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga. Melalui pendekatan holistik, masyarakat diajak untuk melihat sampah bukan sebagai masalah, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dikelola dengan baik.

Mengatasi Kebiasaan Membuang Sampah Sembarangan

Diyas menyoroti bahwa tantangan pengelolaan sampah di wilayah perdesaan tidak hanya berasal dari keterbatasan fasilitas. Faktor dominan lainnya adalah kebiasaan masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan atau membakarnya di pekarangan rumah. Praktik ini memiliki potensi besar untuk mencemari lingkungan, menurunkan kualitas udara dan air, serta meningkatkan risiko penyakit. Selain itu, pembakaran sampah secara terbuka juga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca.

Untuk mengatasi hal tersebut, tim PKM mengadopsi pendekatan edukasi partisipatif yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama perubahan. Selain kegiatan sosialisasi di balai desa, tim bekerja sama dengan kader kesehatan desa dan anggota Karang Taruna untuk melakukan kunjungan door-to-door. Melalui metode ini, warga dapat berdiskusi secara langsung mengenai persoalan pengelolaan sampah rumah tangga. Kolaborasi antar-generasi ini terbukti efektif dalam menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

“Kami mengajak masyarakat memulai dari langkah sederhana, yaitu memilah sampah sejak dari dapur. Kebiasaan kecil ini apabila dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar terhadap pengelolaan sampah yang berkelanjutan sekaligus menciptakan lingkungan desa yang lebih bersih dan sehat,” ucap Diyas.

Kolaborasi untuk Keberlanjutan

Keberlanjutan program ini didukung oleh kolaborasi multipihak dengan pemerintah desa, kader kesehatan desa, dan Karang Taruna yang diproyeksikan menjadi agen perubahan dalam menjaga budaya sadar lingkungan. Pemerintah Desa Kelindang Atas juga telah menyiapkan penyusunan Peraturan Desa mengenai tata kelola lingkungan serta mengalokasikan dana desa untuk mendukung penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan sampah. Langkah ini menunjukkan komitmen jangka panjang dalam menangani permasalahan sampah.

Melalui model pengelolaan sampah desa berbasis partisipatif tersebut, tim PKM menargetkan lebih dari 75 persen rumah tangga di Desa Kelindang Atas berpartisipasi aktif dalam kegiatan pemilahan sampah. Program itu juga diproyeksikan mampu mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) hingga 40–50 persen melalui pengolahan mandiri dan penerapan ekonomi sirkular berbasis masyarakat. Dengan demikian, PKM Unib bangun model pengelolaan yang tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga berkelanjutan secara sosial.

Pertanyaan Umum

Apa itu PKM Unib bangun model pengelolaan sampah berbasis partisipatif? Ini adalah program pengabdian masyarakat dari Universitas Bengkulu yang melibatkan masyarakat Desa Kelindang Atas dalam mengelola sampah secara mandiri melalui pendekatan edukasi dan partisipasi aktif.

Berapa target partisipasi rumah tangga dalam program ini? Tim PKM menargetkan lebih dari 75 persen rumah tangga di Desa Kelindang Atas untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pemilahan sampah.

Bagaimana program ini mengurangi sampah ke TPA? Program ini memproyeksikan pengurangan volume sampah ke TPA hingga 40–50 persen melalui pengolahan mandiri dan penerapan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.

Siapa saja pihak yang terlibat dalam kolaborasi program ini? Pihak yang terlibat meliputi pemerintah desa, kader kesehatan desa, dan Karang Taruna yang berperan sebagai agen perubahan dalam menjaga budaya sadar lingkungan.

Leave a Comment