Pasien thalasemia di Gaza berjuang hidup di tengah krisis obat
Pasien thalassemiadi Gaza berjuang hidup di tengah – Pasien thalasemia di Jalur Gaza terus berjuang melawan penyakit yang memperparah kondisi mereka dalam situasi krisis pasokan obat. Sebagai salah satu negara dengan tingkat ketergantungan tinggi pada bantuan medis luar, Gaza saat ini menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan pengobatan pasien thalasemia. Krisis obat, yang semakin parah akibat konflik berkepanjangan dan gangguan logistik, telah menyebabkan ratusan pasien kehilangan akses teratur terhadap terapi yang diperlukan untuk menjaga kesehatan mereka. Selama perayaan Hari Thalasemia sedunia, para profesional kesehatan menyoroti betapa mengguncangnya kondisi ini bagi masyarakat yang membutuhkan perlakuan konsisten.
Krisis pasokan obat mengancam kesehatan pasien thalasemia
Kurangnya pasokan obat seperti desferal atau deferoxamine, yang digunakan untuk mengatasi akumulasi besi berlebih pada pasien thalasemia, menjadi tantangan serius. Dengan keterbatasan alat uji laboratorium dan unit darah, banyak pasien tidak bisa menjalani prosedur transfusi secara rutin. Tantangan ini kian memperumit kehidupan mereka, terutama di tengah pengungsian yang berulang dan ancaman kekurangan energi listrik untuk menyimpan obat. Menurut laporan dari pusat kesehatan, keterlambatan pengiriman obat menyebabkan risiko komplikasi yang meningkat, seperti penyakit hati atau ginjal.
“Tidak ada obat yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pasien thalasemia. Kondisi ini memaksa mereka berjuang setiap hari tanpa perlindungan yang memadai,” ungkap dokter dari Rumah Sakit Al-Quds.
Thalasemia: penyakit yang mengubah hidup pasien
Thalasemia adalah gangguan genetik yang menyebabkan kurangnya produksi hemoglobin normal di sel darah merah. Penyakit ini sering ditemukan di wilayah Timur Tengah, termasuk Jalur Gaza, dan memerlukan perawatan jangka panjang. Pasien yang mengidap thalasemia membutuhkan transfusi darah mingguan atau bulanan, serta penggunaan obat penjelit besi, untuk mencegah komplikasi serius. Dalam krisis saat ini, banyak pasien tidak bisa mengikuti protokol pengobatan yang tepat, sehingga kondisi kesehatan mereka semakin terancam.
Menurut para ahli, kehilangan akses ke fasilitas medis yang layak dapat menyebabkan diagnosa terlambat dan peningkatan angka kematian. Pasien thalasemia yang kekurangan perlakuan rutin sering mengalami gejala seperti kelelahan ekstrem, pembengkakan organ, dan kesulitan bernapas. Anak-anak yang terkena penyakit ini terutama rentan, karena pertumbuhan fisik mereka memerlukan nutrisi dan medis yang lebih intensif.
Pengungsi thalasemia menghadapi perjuangan ekstra
Dalam kondisi darurat, pasien thalasemia yang tinggal di pengungsian sering kali menghadapi kesulitan tambahan. Ruang pelayanan kesehatan yang padat dan kurangnya staf medis membuat antrian panjang menjadi hal biasa. Para keluarga harus berjuang ekstra untuk memastikan pasien mereka tetap mendapat perawatan, terutama di tengah kekacauan perekonomian dan pengurangan bantuan internasional. Kondisi ini juga mengakibatkan kepanikan di kalangan masyarakat yang rentan, seperti ibu hamil dan anak-anak.
“Kita terus berjuang mencari cara agar pasien thalasemia bisa tetap hidup. Tapi setiap hari lebih berat karena kita kehabisan obat dan alat bantu medis,” keluh seorang ibu yang memiliki anak thalasemia.
