Lifestyle

Dokter: Terapi hormon pertumbuhan pada anak harus berdasar diagnosis

Foto : Karen Anderson - beritaturah.com

Terapi Hormon Pertumbuhan pada Anak: Peran Penting Dokter dalam Diagnosis

Beritaturah.com – Dokter – Menurut Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp.Endo(K), FAAP, FRCPI (Hon.), FIAP (Hon.), penggunaan terapi hormon pertumbuhan pada anak-anak tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Dokter spesialis anak dengan subspesialisasi endokrinologi ini menegaskan bahwa setiap pemberian terapi harus didasarkan pada diagnosis medis yang jelas dan akurat. Terapi ini bukan sekadar solusi instan untuk menambah tinggi badan anak, melainkan pendekatan medis yang memerlukan evaluasi menyeluruh. Dokter yang menangani kasus ini menekankan pentingnya pemahaman mendalam mengenai penyebab gangguan pertumbuhan sebelum menentukan jenis terapi yang tepat.

Menyampaikan pandangannya dalam acara temu media secara daring di Jakarta pada hari Rabu, Prof. Aman menekankan bahwa waktu yang tepat untuk memulai terapi adalah sedini mungkin. Penentuan waktu ini bergantung pada penyebab spesifik dari gangguan pertumbuhan yang dialami anak. Lulusan Universitas Indonesia tersebut menambahkan bahwa anak-anak yang memiliki gangguan pertumbuhan dan dapat ditangani dengan terapi akan memiliki peluang lebih luas untuk mengoptimalkan potensi mereka. Dokter yang berpengalaman dalam bidang ini juga mencatat bahwa intervensi dini dapat memberikan hasil yang lebih optimal dibandingkan penanganan yang tertunda.

Usia Pertumbuhan dan Contoh Nyata dari Dokter

Prof. Aman menjelaskan bahwa potensi penambahan tinggi badan pada anak masih terbuka hingga mereka mencapai usia sekitar 17 hingga 18 tahun. Hal ini terutama berlaku bagi anak-anak yang mengalami keterlambatan dalam masa pubertas. Sebagai ilustrasi, ia menyebutkan pemain sepak bola Lamine Yamal yang tinggi badannya masih berpotensi bertambah meskipun sudah berusia 17 tahun. Dokter ini juga menambahkan bahwa setiap anak memiliki timeline pertumbuhan yang berbeda-beda, sehingga evaluasi individual menjadi kunci utama. Tidak ada pendekatan satu ukuran untuk semua dalam menentukan kapan terapi harus dimulai.

“Yang terpenting adalah diagnosis. Begitu penyebabnya diketahui, terapinya bisa diberikan sesuai kondisi anak,” kata Prof. Aman.

Dengan pengalaman menangani pasien selama kurang lebih 30 tahun, Prof. Aman menyatakan bahwa tidak semua anak yang bertubuh pendek memerlukan terapi hormon pertumbuhan. Pendekatan terapi harus disesuaikan dengan akar masalah yang menyebabkan gangguan pertumbuhan. Misalnya, anak dengan masalah hormon tiroid akan menerima terapi hormon tiroid, sementara anak dengan kelainan tulang akan menjalani terapi untuk memperkuat struktur tulangnya. Remaja yang mengalami keterlambatan pubertas juga dapat menjalani terapi hormon reproduksi sesuai indikasi medis. Dokter yang menangani berbagai kasus ini mencatat bahwa setiap diagnosis memerlukan pendekatan yang berbeda-beda.

Mitos Tubuh Pendek dan Peringatan dari Dokter

Secara tradisional, tubuh pendek sering dikaitkan dengan kekurangan gizi. Namun, kondisi ini sebenarnya juga dapat disebabkan oleh masalah hormonal atau berbagai kondisi medis lainnya. Prof. Aman memberikan peringatan penting mengenai pola makan anak. Memberikan makanan dengan kandungan kalori dan protein tinggi secara berlebihan dengan harapan anak akan tumbuh lebih tinggi dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan jika tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh anak. Dokter ini juga mengingatkan bahwa overfeeding dapat menyebabkan masalah metabolik yang serius.

“Kalau memang ada gangguan pertumbuhan dan bisa diterapi, tentu anak memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengembangkan potensinya,” kata lulusan Universitas Indonesia itu.

Konsumsi berlebihan makanan tinggi kalori dan protein berpotensi menyebabkan kelebihan berat badan dan obesitas. Kondisi ini selanjutnya dapat memicu berbagai masalah kesehatan serius di masa depan. Oleh karena itu, pendekatan medis yang tepat melalui diagnosis yang akurat menjadi kunci keberhasilan terapi hormon pertumbuhan pada anak. Dokter yang menangani kasus-kasus ini selalu menekankan pentingnya konsultasi rutin untuk memantau perkembangan anak secara berkala.

Leave a Comment