Warta Bumi

BKSDA antisipasi peningkatan konflik satwa akibat karhutla di Kotim

1001739583
Foto : John Brown - beritaturah.com
Table of Contents
  1. BKSDA Kalteng Siaga Penuhi Ancaman Konflik Satwa Liar Pasca Karhutla di Kotim
  2. Related Reading

BKSDA Kalteng Siaga Penuhi Ancaman Konflik Satwa Liar Pasca Karhutla di Kotim

Beritaturah.com – Kalimantan Tengah menghadapi tantangan serius dalam menjaga keseimbangan ekosistem setelah musim kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda berbagai wilayah. BKSDA antisipasi peningkatan konflik satwa yang dipicu oleh hilangnya habitat alami hewan-hewan liar. Kejadian seekor orangutan yang terlihat berjalan di Jalan Jenderal Sudirman Km 15 Sampit menjadi sinyal penting bagi petugas konservasi untuk meningkatkan kewaspadaan. Tim BKSDA Kalimantan Tengah segera melakukan observasi langsung pada hari Senin, mulai pukul 09.00 hingga 11.30 WIB untuk memantau kondisi satwa tersebut.

Berdasarkan analisis awal yang dilakukan oleh tim petugas, kehadiran primata langka ini kemungkinan besar terkait erat dengan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di kawasan sekitar Sampit. Asap tebal yang terlihat di lokasi menjadi indikasi kuat bahwa orangutan tersebut sedang mencari tempat aman dari ancaman api. Muriansyah, Komandan BKSDA Resort Sampit, menjelaskan bahwa primata ini menghindari api dan asap kemudian masuk ke kebun atau ladang warga yang relatif lebih aman dari dampak karhutla.

Jejak Pergerakan Satwa Liar di Wilayah Terdampak

Sebelumnya, kejadian serupa juga dilaporkan di Desa Bapanggang Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, sekitar satu minggu lalu. Wilayah tersebut memang dilanda kebakaran hebat, sehingga orangutan diduga bergerak keluar dari habitat aslinya menuju perkebunan warga. Namun, pemantauan lanjutan di Bapanggang Raya belum menemukan kembali keberadaan orangutan tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa satwa liar terus berpindah mencari tempat yang lebih aman.

Komandan BKSDA Resort Sampit ini menjelaskan bahwa kehadiran satwa di sekitar kebun atau permukiman dapat menjadi bagian dari upaya mereka menyelamatkan diri dari kebakaran dan asap. Satwa seperti kukang, bekantan, maupun ular yang tidak mengganggu sebaiknya dibiarkan dan tidak diprovokasi. Petugas BKSDA juga mencatat bahwa beberapa jenis satwa lain mulai terlihat di area pemukiman akibat hilangnya sumber makanan di hutan.

Masyarakat juga diminta tidak menangkap, melukai atau membunuh satwa liar yang masuk ke kebun maupun ladang. Kalau bertemu satwa liar, jangan berusaha menangkap atau membunuhnya. Segera laporkan kepada petugas BKSDA agar bisa ditangani dengan aman. – Muriansyah, Komandan BKSDA Resort Sampit

Kebun, ladang, maupun kawasan sekitar permukiman menjadi pilihan karena relatif lebih aman akibat adanya aktivitas dan penjagaan masyarakat. Selain itu, kawasan perkebunan warga biasanya masih memiliki sumber air, seperti parit pembatas lahan dan sumur di sekitar pondok. Satwa juga dapat menemukan sumber pakan pengganti, seperti umbut kelapa sawit maupun nanas. Kondisi ini sekaligus meningkatkan potensi konflik antara satwa liar dengan manusia.

Strategi Pencegahan Konflik Jangka Panjang

Orangutan misalnya, dapat memakan umbut sawit atau nanas, sedangkan beruang dapat masuk ke kebun mencari nanas maupun memangsa ternak seperti ayam dan itik. Konflik dapat terjadi ketika masyarakat merasa dirugikan oleh keberadaan satwa. Dalam situasi tersebut, satwa liar justru berisiko menjadi pihak yang dirugikan karena dianggap mengganggu aktivitas dan tanaman milik warga.

Muriansyah menambahkan, laporan cepat diperlukan agar petugas dapat melakukan pemantauan dan mengambil langkah penanganan sebelum terjadi konflik antara satwa dan manusia. BKSDA juga meminta masyarakat segera memberikan informasi apabila kembali melihat orangutan maupun satwa liar yang dilindungi di sekitar perkebunan, ladang atau permukiman. Muriansyah di Sampit, Selasa, mengatakan pihaknya terus mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan api untuk membersihkan lahan.

Frequently Asked Questions (FAQ)

Apa yang harus dilakukan warga jika menemukan satwa liar di kebun? Warga diminta tidak menangkap, melukai, atau membunuh satwa liar. Segera hubungi petugas BKSDA terdekat untuk penanganan yang aman.

Mengapa satwa liar berpindah ke area pemukiman? Satwa liar berpindah ke area pemukiman karena habitat alami mereka terganggu oleh kebakaran hutan dan lahan, sehingga mereka mencari tempat aman dan sumber makanan.

Bagaimana cara mencegah konflik satwa dengan manusia? Cara terbaik adalah dengan tidak menggunakan api untuk membersihkan lahan, melaporkan keberadaan satwa liar, dan tidak memprovokasi satwa yang masuk ke kebun.

Apakah BKSDA memiliki tim respons cepat untuk kasus konflik satwa? Ya, BKSDA Kalimantan Tengah memiliki tim petugas yang siap melakukan pemantauan dan penanganan konflik satwa secara cepat dan profesional.

Leave a Comment