Sampel Chang’e-6 Buka Rahasia Tumbukan Asteroid di Sistem Bumi-Bulan
Sampel Chang e 6 ungkap rahasia – Beijing – Misi Chang’e-6 yang mengumpulkan sampel Bulan telah memberikan wawasan baru tentang dinamika tumbukan asteroid di sistem Bumi-Bulan. Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari Institut Geologi dan Geofisika Akademi Ilmu Pengetahuan China (IGGCAS) mengungkap pergeseran signifikan dalam jenis asteroid yang menabrak sistem tersebut antara 4,3 miliar hingga 2,8 miliar tahun lalu. Temuan ini menunjukkan peralihan dari dominasi asteroid tak berkarbon ke asteroid berkarbon.
Analisis Sampel dan Peran Bulan sebagai Arsip Tumbukan
Tim peneliti mengisolasi 40 fragmen batuan (clast) dari tumbukan yang mengandung partikel logam kecil dari sisi jauh Bulan. Fragmen-fragmen ini berfungsi sebagai “kapsul waktu” karena menyimpan jejak tumbukan purba. Dengan meneliti komposisi mineral terkait partikel logam, para ilmuwan mengklasifikasikannya menjadi dua kelompok berbeda.
Bahan yang terkonsentrasi dalam puing basaltik merepresentasikan fragmen asteroid yang terakumulasi sejak erupsi basaltik 2,8 miliar tahun silam, sementara bahan dari anortosit dataran tinggi Bulan yang lebih tua mencerminkan peristiwa tumbukan yang terjadi sekitar 4,3 miliar tahun lalu.
“Bulan berfungsi sebagai arsip murni sejarah tumbukan sistem Bumi-Bulan,” ujar Lin Yangting, seorang peneliti dari IGGCAS.
Analisis menunjukkan perbedaan mencolok dalam jenis benda penumbuk dari masa ke masa. Dari 13 clast purba, sebagian besar partikel logam berasal dari kondrit biasa dan meteorit besi dari bagian dalam Tata Surya, sementara logam asteroid berkarbon hanya menyumbang kurang dari 8 persen. Namun, pada 27 clast yang lebih muda, proporsi logam dari asteroid berkarbon meningkat hingga sekitar 26 persen. Perubahan ini mengindikasikan kenaikan signifikan kontribusi asteroid berkarbon selama periode tersebut.
Temuan ini memiliki dampak penting pada pemahaman tentang asal air di Tata Surya bagian dalam. Meski asteroid berkarbon kaya akan air dan materi organik serta dianggap sebagai sumber utama air Bumi, studi ini menunjukkan bahwa sejarah tumbukan mereka menunjukkan “keterlambatan” atau jeda waktu. Hal ini karena asteroid kaya air muncul lebih lambat, ketika intensitas tumbukan telah menurun drastis, sehingga volume air dan zat volatil yang dibawa ke sistem Bumi-Bulan kemungkinan lebih terbatas dibandingkan estimasi sebelumnya.
Para ilmuwan mengaitkan fenomena ini dengan tiga kemungkinan mekanisme, yaitu migrasi planet raksasa yang menghamburkan asteroid berkarbon ke arah dalam, efek Yarkovsky yang memicu pergeseran orbit secara bertahap, atau pecahnya benda besar berkarbon akibat tabrakan hingga menghasilkan puing yang luas. Dengan mengambil sampel dari berbagai masa di wilayah Bulan dengan usia geologis berbeda, para peneliti dapat mengoptimalkan pola evolusi asteroid, yang pada akhirnya akan memperdalam pemahaman tentang sejarah tumbukan di Tata Surya bagian dalam serta memberikan parameter penting bagi dinamika evolusi orbit benda langit.
