Libur Sekolah, Peneliti BRIN Ajak Warga Tetap Berperan dalam Pengawasan MBG
Strategi Utama: Libur Sekolah Jadi Momentum Evaluasi MBG
Key Strategy – Selama masa libur sekolah, Yanu Endar Prasetyo, peneliti dari Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap aktif dalam mengawasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menilai periode libur ini menjadi kesempatan emas untuk mengevaluasi seluruh aspek infrastruktur dan pengelolaan program tersebut secara lebih mendalam. Dengan partisipasi aktif warga, BRIN berharap program MBG dapat terus berjalan efektif, meski kegiatan belajar mengajar sedang berhenti sementara.
Masyarakat, menurut Yanu, harus tetap waspada dan memantau lingkungan sekitar, terutama kondisi siapnya fasilitas di sekolah maupun dapur penyedia makanan. Hal ini penting agar program gizi nasional tetap bisa mencapai tujuan utamanya, yaitu meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama anak-anak. Dengan pengawasan yang intens, kelemahan atau kekurangan dalam pelaksanaan program bisa teridentifikasi lebih cepat dan diperbaiki sebelum memengaruhi hasil akhir.
“Saya rasa itu penting juga untuk konsumsi kita semua karena kritik kadang juga kalau disampaikan dalam bentuk yang lucu, mungkin bisa lebih menyentuh oleh pembuat kebijakan,” ujarnya.
Yanu menekankan bahwa Key Strategy dalam pengawasan MBG tidak hanya melibatkan pihak berwajib, tetapi juga warganet. Meski kritik sering disampaikan secara kreatif melalui komedi, meme, atau konten viral, ia mengapresiasi pendekatan ini karena dapat memicu respons yang lebih kuat dari pihak terkait. Strategi ini membantu menciptakan kesadaran publik mengenai pentingnya keterlibatan dalam memastikan program tetap berjalan transparan dan akuntabel.
Dalam Key Strategy ini, Yanu juga mendorong partisipasi aktif masyarakat melalui berbagai saluran, baik laporan resmi maupun media sosial. Partisipasi masif, katanya, menjadi kunci agar program MBG mampu mencapai prinsip presisi, yaitu tepat sasaran, tepat porsi, dan tepat harga. Dengan memanfaatkan platform digital, warga bisa memberikan masukan langsung dan mempercepat proses evaluasi.
Kritik dari masyarakat, menurut Yanu, seperti obat yang bisa menyembuhkan. Daripada mengabaikannya, ia berharap masukan tersebut bisa dijadikan alat untuk memperbaiki kinerja program. “Kritik itu kan kadang pahit, tapi seperti obat bisa menyembuhkan. Daripada kita gula terus, manis, tapi bisa menjadi penyakit,” terangnya.
Di samping itu, Yanu menyarankan Badan Gizi Nasional (BGN) membangun sistem pengawasan yang lebih menyeluruh. Ini mencakup audit internal hingga transparansi setiap dapur atau mitra terkait. BRIN, katanya, juga mendorong pemerintah menyediakan dasbor informasi terbuka agar publik bisa memantau alur dana APBN di program MBG. Strategi ini diharapkan mampu memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap keberlanjutan program.
“Lalu melibatkan media, masyarakat sipil, dan seterusnya sebagai auditor independen untuk program ini. Saya rasa ketika semua pihak itu diberi kesempatan yang sama, yang terjadi memang perbaikan dari waktu ke waktu,” lanjut Yanu Endar Prasetyo.
Kegiatan pengawasan selama libur sekolah, kata Yanu, tidak hanya terbatas pada laporan formal. Dengan memanfaatkan platform media sosial, masyarakat bisa membagikan pengalaman, kritik, atau saran secara real-time. Ini memberi peluang untuk mempercepat respons dari pihak terkait, sehingga program MBG bisa terus ditingkatkan sesuai kebutuhan masyarakat. Key Strategy ini menjadi bagian dari upaya BRIN dalam mengoptimalkan peran publik dalam pengelolaan program.
