Humaniora

Pakar UGM: Pelaksanaan kurban harus kedepankan prinsip halal dan aman

Pakar UGM: Prinsip Halal dan Aman Jadi Fokus Utama dalam Kurban

Pakar UGM kembali menjadi sorotan dalam membahas pentingnya keberlanjutan prinsip halal dan aman dalam pelaksanaan kurban. Kurban, yang merupakan bagian dari tradisi keagamaan Islam, tidak hanya tentang pengorbanan hewan, tetapi juga tentang cara menangani hewan ternak dari awal hingga akhir proses penyembelihan. Dalam rangka mendukung hal tersebut, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan pelatihan khusus yang bertujuan memastikan semua pihak, baik panitia maupun masyarakat umum, memahami standar operasional dan prosedur terbaik untuk meminimalkan risiko kesalahan. Dosen senior dari fakultas tersebut, Cuk Tri Noviandi, mengatakan bahwa Pakar UGM memandang pelaksanaan kurban sebagai kesempatan untuk mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan kepercayaan spiritual.

Standar Proses Penyembelihan yang Perlu Dipenuhi

Menurut Noviandi, beberapa aspek dalam proses penyembelihan hewan kurban sering kali diabaikan, terutama oleh panitia yang kurang terlatih. Hal ini berpotensi menyebabkan kualitas daging menurun dan membawa risiko kesehatan bagi konsumen. “Kurban bukan sekadar proses penyembelihan, tetapi juga bagaimana kita memastikan hewan diperlakukan secara adil, prosedur penyembelihan aman bagi manusia, serta hasilnya layak dikonsumsi,” katanya. Pakar UGM menekankan bahwa keberhasilan kurban tidak hanya diukur dari kualitas daging, tetapi juga dari cara proses dilakukan, mulai dari pemilihan hewan hingga distribusinya.

Salah satu hal yang sering dianggap remeh adalah kondisi hewan sebelum disembelih. Pakar UGM mengingatkan bahwa hewan ternak yang dipilih harus sehat, terbebas dari penyakit, dan tidak mengalami stres berlebihan. Stres pada hewan bisa menyebabkan pelepasan hormon seperti kortisol, yang berdampak pada kualitas daging dan rasa yang dihasilkan. “Proses penyembelihan yang tidak memenuhi standar bisa mengurangi nilai nutrisi daging dan meningkatkan risiko kontaminasi,” ujar Noviandi. Ia juga menambahkan bahwa Pakar UGM memberikan panduan terperinci tentang cara mengurangi stres hewan, seperti menghindari suara bising, menjaga kelembapan lingkungan, dan memberikan makanan yang cukup sebelum hari penyembelihan.

Integrasi Ilmu Pengetahuan dan Kepercayaan Spiritual

Pelatihan yang digelar Pakar UGM mencakup berbagai aspek teknis, termasuk cara memotong daging secara sempurna, menghindari kontaminasi, dan memastikan proses tidak mengganggu kesehatan manusia. “Kurban memerlukan kesempurnaan di setiap tahap, dari pemeriksaan hewan hingga penyimpanan daging,” tutur Prof Budi Guntoro, Dekan Fakultas Peternakan UGM, dalam wawancara dengan antaranews.com. Ia menegaskan bahwa Pakar UGM telah mengembangkan sistem sertifikasi kompetensi yang bertujuan meningkatkan kualitas pelaksanaan kurban secara nasional. “Kurban adalah bagian dari identitas budaya dan agama, tetapi untuk tetap relevan di masa kini, kita harus memadukan ilmu pengetahuan dengan prinsip spiritual,” ujarnya.

Dalam pelatihan tersebut, Pakar UGM juga mengupas teknik penyembelihan yang sesuai dengan hukum syariat Islam. Teknik ini melibatkan pemotongan leher hewan dengan alat yang tajam dan bersih, serta penggunaan tali untuk memastikan hewan tidak mengalami penderitaan berlebihan. “Pemotongan yang tepat tidak hanya memenuhi aturan fikih, tetapi juga meningkatkan keamanan makanan bagi masyarakat,” kata Noviandi. Selain itu, Pakar UGM memasukkan panduan tentang penggunaan sarung tangan selama proses penyembelihan, agar tidak terjadi kontak langsung antara tangan dan daging, yang bisa menjadi sumber bakteri.

Pakar UGM juga membahas pentingnya pengemasan daging secara ramah lingkungan. “Menggunakan besek bambu atau kemasan biodegradable lebih baik daripada plastik sekali pakai, karena meminimalkan dampak lingkungan,” jelas Rio Olympias Sujarwanto, dosen lain dari Fakultas Peternakan UGM. Ia menjelaskan bahwa daging yang tidak disimpan dengan benar bisa cepat mengalami penurunan kualitas, terutama di daerah dengan suhu tinggi. “Pakar UGM merekomendasikan penyimpanan daging di kulkas atau tempat sejuk, serta penggunaan kemasan yang tahan lama dan aman,” tambahnya. Dengan adanya panduan ini, Pakar UGM berharap masyarakat dapat lebih memahami bahwa kurban adalah kesempatan untuk memperkuat kepercayaan terhadap produk halal dan aman.

Dalam keseluruhan pelatihan, Pakar UGM memberikan penekanan pada pentingnya kolaborasi antara pihak berwenang, panitia kurban, dan masyarakat. “Kurban tidak bisa dilakukan sendirian, tetapi memerlukan komitmen bersama untuk menjaga kebersihan, keamanan, dan kualitas,” kata Noviandi. Ia juga menyoroti peran media dalam menyebarkan informasi tentang standar kurban, sehingga masyarakat dapat memilih panitia yang terpercaya. “Dengan adanya penjelasan yang jelas, masyarakat bisa memastikan bahwa kurban yang mereka terima benar-benar layak dikonsumsi,” ujarnya.

Pakar UGM berharap pelatihan ini menjadi referensi bagi kegiatan kurban di berbagai daerah. “Kurban adalah tradisi yang penting, tetapi kita harus menjamin bahwa prosesnya tidak hanya memenuhi syariat agama, tetapi juga kesehatan dan keamanan masyarakat,” kata Budi Guntoro. Ia menambahkan bahwa Fakultas Peternakan UGM telah mengembangkan kurikulum yang melibatkan praktik kurban dalam pembelajaran mahasiswa, sehingga mereka terbiasa dengan proses ini sejak awal kariernya. “Dengan pendekatan ini, Pakar UGM ingin menciptakan generasi muda yang memahami nilai-nilai kurban secara menyeluruh,” pungkasnya. Dengan langkah-langkah ini, Pakar UGM berkomitmen untuk menjadikan kurban sebagai bagian dari kehidupan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Leave a Comment