Beritaturah.com – Ekonom – “`html
Panda Bond: Jalur Baru Indonesia Menuju Pasar Tiongkok
Jakarta – Josua Pardede, Kepala Ekonom PermataBank, menilai langkah penerbitan Panda Bond membuka peluang signifikan bagi Indonesia. Langkah ini tidak hanya memperluas jangkauan ke pasar domestik Tiongkok, tetapi juga membantu menetapkan acuan harga obligasi lokal di wilayah tersebut.
Meskipun pasar Panda menjanjikan peluang penerbitan yang lebih besar dan berkelanjutan, terdapat sejumlah tantangan administratif. Proses ini mencakup pelaporan dalam bahasa Mandarin, pemeringkatan lokal, persetujuan regulator, serta mekanisme pemindahan dana yang cenderung lebih kompleks dibandingkan instrumen lainnya.
“Obligasi Panda memberikan kedalaman pasar yang lebih baik, sementara obligasi Dim Sum menawarkan keluwesan pelaksanaan yang lebih tinggi,” ujar Josua saat diwawancarai ANTARA di Jakarta pada Kamis.
Perbedaan Mendasar Panda Bond dan Dim Sum Bond
Menurut Josua, titik tolak utama kedua instrumen ini terletak pada lokasi penerbitannya. Obligasi Panda dicetak di pasar domestik Tiongkok dan menyasar investor institusi yang memegang dana renminbi di dalam negeri Tiongkok. Sebaliknya, obligasi Dim Sum diterbitkan di luar Tiongkok, dengan Hong Kong sebagai pusat utamanya, serta menargetkan investor internasional yang mengelola dana renminbi luar negeri.
Implikasinya, Panda Bond memberikan akses yang lebih langsung kepada tabungan domestik Tiongkok, sedangkan Dim Sum Bond unggul dalam hal fleksibilitas penggunaan dan perpindahan dana antar negara.
Potensi Permintaan dan Faktor Penentu
Ketika ditanya mengenai prospek permintaan dari investor domestik Tiongkok, Josua menyatakan bahwa potensinya cukup kuat dengan catatan harga tetap kompetitif. Jumlah penerbitan perdana yang dibatasi sekitar 7 miliar renminbi dinilai relatif terkendali jika dibandingkan dengan kapasitas pasar domestik Tiongkok yang jauh lebih besar.
Dukungan dari Bank Sentral Tiongkok serta keterlibatan institusi keuangan besar menjadi nilai tambah penting. Beberapa bank yang terlibat antara lain Bank of China, Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), China International Capital Corporation (CICC), China International Trust Investment Corporation (CITIC), China Construction Bank, dan China Eximbank. Peringkat AAA domestik juga menjadi modal kepercayaan bagi investor.
Salah satu faktor krusial yang mempengaruhi minat investor adalah imbal hasil relatif dibandingkan obligasi pemerintah dan bank kebijakan Tiongkok. Investor akan menuntut premi risiko tambahan untuk menanggung ketidakpastian Indonesia, meskipun peringkat lokalnya sudah tinggi.
Faktor kedua menyangkut disiplin fiskal, arah rasio utang, kemampuan mempertahankan pertumbuhan, cadangan devisa, dan stabilitas nilai tukar rupiah. Lianhe memberikan peringkat tertinggi karena pertumbuhan Indonesia masih berada di atas 5 persen, cadangan devisa memadai, utang luar negeri relatif rendah, serta rasio utang pemerintah sekitar 40 persen terhadap PDB.
Aspek Operasional dan Strategi Jangka Panjang
Aspek lain yang perlu diperhatikan meliputi kemudahan pemindahan pembayaran, kepastian perpajakan, ketersediaan instrumen lindung nilai, likuiditas perdagangan pasca-penerbitan, serta keberadaan bank yang aktif menyediakan harga jual-beli.
“Investor juga akan menilai apakah pemerintah akan hadir secara teratur atau hanya melakukan penerbitan satu kali,” tambah Josua.
Penerbitan berulang dalam jumlah terukur diyakini dapat membentuk kurva imbal hasil dan meningkatkan likuiditas, sehingga biaya penerbitan berikutnya berpotensi menurun. Namun, kelebihan permintaan pada tahap awal tidak boleh langsung dianggap sebagai permintaan tanpa batas, karena bisa saja disebabkan oleh penawaran imbal hasil awal yang terlalu tinggi.
Secara keseluruhan, Josua menilai penerbitan obligasi Panda sebagai langkah strategis untuk memperluas basis investor, mengurangi konsentrasi pembiayaan dolar AS, memperdalam penggunaan renminbi, serta membuka jalur pembiayaan bagi penerbit Indonesia lainnya. Biaya kupon kemungkinan lebih rendah daripada obligasi global dolar AS, namun biaya pinjaman menyeluruh belum tentu lebih murah setelah memperhitungkan penukaran mata uang dan lindung nilai.
Pemerintah disarankan untuk mempertahankan pendekatan bertahap, antara lain membatasi penerbitan perdana, mengevaluasi biaya menyeluruh dalam rupiah, memantau perdagangan setelah penerbitan, dan kembali ke pasar hanya apabila terdapat penghematan nyata atau manfaat strategis yang jelas. Obligasi Panda harus ditempatkan sebagai pelengkap, bukan pengganti penuh obligasi dolar AS, karena pasar dolar tetap dibutuhkan untuk memperoleh pembiayaan berjangka sangat panjang dan menjangkau investor global.
“Yang perlu dihindari adalah menjadikan penerbitan renminbi sekadar simbol pengurangan ketergantungan terhadap,” pungkas Josua.
“`

