Proyek North Hub Selat Makassar: Investasi Strategis untuk Ketahanan Energi Indonesia
Beritaturah.com – Kepulauan Riau menjadi saksi sejarah pembangunan fasilitas produksi minyak dan gas yang ambisius. Pemotongan baja perdana untuk FPSO North Hub di Kabupaten Karimun menandai dimulainya era baru dalam industri hulu migas nasional. Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas, menyampaikan bahwa proyek ini merupakan salah satu investasi terbesar yang sedang berjalan di Indonesia.
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi menekankan bahwa proyek ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. Peluang baru untuk penerapan teknologi dan investasi dalam fabrikasi migas dalam negeri terbuka lebar melalui inisiatif ini.
Investasi Raksasa dan Kolaborasi Internasional
Proyek strategis ini dijalankan oleh Searah, perusahaan patungan antara Eni SpA dari Italia dan Petronas. Pengembangan ini melanjutkan jejak Eni SpA yang sebelumnya telah melakukan eksplorasi di wilayah tersebut. Integrasi antara Lapangan Geng North dan Lapangan Gehem di Cekungan Kutai lepas pantai Kalimantan Timur menjadi fondasi utama proyek.
Dengan total nilai investasi mencapai 15 miliar dolar AS, proyek ini mengalokasikan 3 miliar dolar AS khusus untuk pembangunan FPSO. Sisanya sebesar 12 miliar dolar AS dialokasikan untuk capex lainnya. Angka-angka ini mencerminkan komitmen serius dalam pengembangan sumber daya energi.
Fasilitas Produksi Ultra Deep Water Pertama di Indonesia
FPSO Bahtera Haluan Lestari dirancang dengan spesifikasi yang luar biasa. Kapal ini mampu mengolah hingga 1 miliar kaki kubik standar gas per hari atau 1 BSCFD. Selain itu, kapasitas pengolahan kondensat mencapai 80.000 barel per hari dengan penyimpanan hingga 1,4 juta barel.
Dimensi fisik FPSO juga sangat mengesankan. Dengan panjang 300 meter dan lebar 45 meter, fasilitas ini beroperasi di kedalaman 2.000 kilometer. Hal ini menjadikan North Hub sebagai fasilitas produksi pertama di perairan ultra deep water Indonesia.
“Harapannya proyek ini tidak hanya membantu namun menjadi mesin penggerak target produksi kita di tahun 2029-2030 untuk mencapai 900 sampai 1 juta barel oil per hari dan gas 12 miliar kaki kubik per hari,” ujar Djoko Siswanto.
Dampak Ekonomi dan Lapangan Pekerjaan
Fabrikasi topside modul FPSO tersebar di empat wilayah di Kepulauan Riau. Batam, Tanjung Balai Karimun, dan Bintan menjadi pusat pengerjaan dengan total bobot 4.000 ton baja. Konstruksi ini membuka kesempatan bagi 8.000 lapangan pekerjaan nasional.
Pembangunan ini merupakan bagian penting dari upaya menghadirkan sumber pasokan gas baru bagi Indonesia. Pemanfaatan potensi gas laut dalam menjadi kunci dalam strategi energi nasional jangka panjang.
Fase penting dalam pengembangan Kutai North Hub adalah dimulainya pembuatan modul kapal produksi, penyimpanan, dan bongkar muat terapung. Proses ini dipusatkan di fasilitas fabrikasi Saipem di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau.
“Ia berharap kolaborasi disiplin lintas sektor mulai dari kementerian, lembaga terkait, pemerintah daerah, Searah, dan para mitra yang terlibat dapat melakukan eksekusi dengan baik sehingga setiap tahapan proyek dapat berjalan dengan selamat, tepat waktu, dan berkualitas.”
Proyek ini ditargetkan mulai mengalirkan gas perdana pada kuartal keempat tahun 2028. Dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip kolaborasi dan kualitas, North Hub Development akan menjadi contoh keberhasilan pengembangan hulu migas Indonesia. Manfaat nyata bagi ketahanan energi nasional dan perekonomian bangsa akan terasa melalui proyek strategis ini.

