Key Discussion: Mentan Bangun Pertanian Berbasis Potensi Lokal di Papua
Key Discussion – Jakarta – Dalam pertemuan khusus yang diadakan di kediaman pribadinya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman secara tegas mengungkapkan komitmen untuk membangun sektor pertanian di Papua dengan memanfaatkan potensi lokal. Ia menekankan bahwa pengembangan pertanian tidak bisa hanya sekadar meniru model dari daerah lain, tetapi harus didasarkan pada kondisi geografis, budaya, dan kebutuhan warga setempat.
Pertanian Berbasis Potensi Lokal
Pertemuan tersebut dihadiri sekitar 150 mahasiswa dari berbagai wilayah di Tanah Papua, termasuk Papua Tengah, Pegunungan, Barat Daya, Selatan, dan Induk. Mereka membahas langkah-langkah konkret untuk mendorong pertanian berbasis lokal, termasuk penyusunan strategi pengembangan komoditas unggulan seperti ubi jalar, buah merah, kacang tanah, sagu, kopi, kakao, kelapa, serta sektor peternakan dan perikanan. Mentan menyoroti bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik unik yang bisa dijadikan dasar untuk membangun keunggulan kompetitif.
Salah satu peserta, Edron Tabuni dari Papua Tengah, menegaskan bahwa ubi jalar menjadi sumber pangan utama masyarakat setempat. Ia meminta dukungan untuk meningkatkan kualitas dan distribusi ubi jalar, serta memperluas akses pasar. “Kita perlu memastikan produk lokal tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga bisa bersaing di tingkat internasional,” tambahnya.
Kemitraan dan Partisipasi Generasi Muda
Mentan menyampaikan bahwa generasi muda Papua memiliki peran sentral dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui pertanian. Ia menekankan pentingnya keterlibatan aktif pemuda dan mahasiswa dalam merancang kebijakan serta menjalankan inovasi di bidang pertanian. “Kalian adalah harapan masa depan Papua. Saya mengundang kalian ke rumah pribadi karena kalian akan bertemu dengan kakakmu sendiri, saudara sejati,” ujarnya, menambahkan bahwa dirinya sebagai menteri yang berasal dari orang Papua memiliki komitmen khusus untuk membangun kemandirian sektor pertanian.
“Saya berasal dari gunung di Sulawesi Selatan, tetapi saudara-saudara saya banyak tinggal di Papua. Mengapa saya mengundang kalian ke rumah pribadi? Karena kalian akan bertemu dengan kakakmu sendiri, saudara sejati. Saya adalah menteri yang berasal dari orang Papua, dan kita harus membangun Papua bersama,” ujar Mentan.
Mentan menegaskan bahwa pertanian di Papua perlu disesuaikan dengan kekhasan wilayah dan kehidupan budaya warga setempat. Dalam Key Discussion ini, ia membahas tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, akses pasar, dan ketergantungan pada bantuan pemerintah. Namun, ia optimis bahwa dengan memanfaatkan potensi lokal, Papua bisa menjadi pusat pertanian yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Pertemuan ini juga membahas peluang untuk meningkatkan produktivitas melalui teknologi pertanian yang adaptif. Mentan menyarankan penggunaan metode pertanian organik dan pengolahan produk lokal yang lebih modern. “Jika kita bisa membangun sistem pertanian yang cocok dengan lingkungan dan budaya, maka hasilnya akan lebih baik dan berkelanjutan,” tuturnya. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah pusat untuk mengembangkan ekonomi daerah melalui pertanian yang berbasis pada sumber daya alam dan sosial.
