Latest Program: Wamenko Dorong Riset Sapi Tropis untuk Perkuat Industri Susu Nasional
Latest Program – Dalam upaya meningkatkan kemandirian industri susu nasional, Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengemukakan bahwa Latest Program menjadi salah satu langkah strategis untuk mengembangkan sapi perah yang cocok dengan iklim tropis. Ia mengungkapkan bahwa penguasaan teknologi dan data riset yang tepat akan mempercepat proses adaptasi sapi lokal, sehingga bisa menjadi penopang utama produksi susu dalam negeri. “Dengan Latest Program, kita bisa merancang model pertanian susu yang lebih sesuai dengan kondisi geografis Indonesia,” kata Hanif dalam acara Peringatan Hari Susu Nusantara 2026 di Jakarta.
Peran Sapi Tropis dalam Mendukung Susu Nasional
Sapi perah yang tinggal di daerah beriklim tropis memiliki keunggulan dibandingkan sapi subtropis. Menurut Hanif, sapi lokal ini lebih tahan terhadap cuaca ekstrem, membutuhkan pakan yang lebih sederhana, serta memiliki potensi produksi yang lebih stabil. “Menggunakan sapi tropis akan mengurangi ketergantungan pada impor, sekaligus memperkuat keberlanjutan sistem pangan,” tambahnya. Pada acara tersebut, ia juga menyoroti bahwa konsumsi susu di Indonesia saat ini masih rendah, sehingga pengembangan sapi tropis menjadi kunci untuk meningkatkan daya beli masyarakat.
“Riset harus menjadi pondasi utama Latest Program. Kita perlu memahami genetik sapi lokal agar bisa mengoptimalkan hasil produksinya,” ujar Hanif.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah menargetkan peningkatan produksi susu dari 1 juta ton per tahun menjadi 4 juta ton. Namun, hingga saat ini, sekitar 75 persen susu yang dikonsumsi masyarakat berasal dari impor. “Ini membuktikan bahwa kita masih perlu mempercepat Latest Program dalam pengembangan sapi perah,” imbuhnya.
Strategi Kolaborasi untuk Meningkatkan Produktivitas
Untuk mewujudkan Latest Program, Hanif menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor. Pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, serta pengusaha harus saling mendukung agar program ini bisa berjalan optimal. “Kolaborasi ini tidak hanya mempercepat proses, tapi juga memastikan bahwa penelitian dilakukan secara berkelanjutan,” katanya. Ia juga menyarankan penguatan sistem distribusi dan pemasaran susu nasional sebagai bagian dari Latest Program, karena pengelolaan rantai pasok yang efisien bisa mengurangi biaya produksi dan meningkatkan daya saing produk lokal.
“Tidak mungkin hanya Kementerian Pertanian saja yang menangani Latest Program. Semua pihak harus terlibat, termasuk masyarakat pengrajin susu dan pelaku usaha kecil menengah,” papar Hanif.
Selain itu, ia menekankan perlunya penggunaan teknologi digital dalam mengawasi kualitas susu dan efisiensi produksi. “Dengan data terpadu, kita bisa membuat keputusan yang lebih akurat dan cepat dalam mengejar Latest Program ini,” lanjutnya. Program tersebut juga diharapkan mampu menciptakan ekosistem usaha susu yang inklusif, terutama untuk daerah-daerah pedesaan.
Menurut Hanif, keberhasilan Latest Program akan menjadi batu loncatan menuju Indonesia Emas 2045 yang sehat dan mandiri. “Kita perlu memastikan susu nasional bisa menjadi bagian dari program pemerintah jangka panjang,” jelasnya. Untuk mencapai tujuan ini, pemerintah telah mengalokasikan dana riset dan melibatkan para ahli dari berbagai bidang. Ia juga menyebutkan bahwa sektor persusuan akan menjadi bagian integral dari strategi ketahanan pangan nasional, yang sejalan dengan kebijakan pengurangan ketergantungan pada barang impor.
“Kunci dari Latest Program adalah keberlanjutan dan inovasi. Jika kita bisa menciptakan sapi tropis yang produktif, maka industri susu Indonesia akan menjadi lebih kuat,” tegas Hanif.
Tantangan utama dalam program ini adalah kesadaran masyarakat tentang manfaat susu lokal. Hanif berharap kampanye edukasi dan promosi dapat menumbuhkan minat konsumen terhadap produk dalam negeri. “Kita perlu menggandeng media dan komunitas lokal untuk menyebarkan pesan ini,” lanjutnya. Dengan demikian, Latest Program tidak hanya menjadi inisiatif teknis, tapi juga strategi sosial yang bertujuan membangun kebiasaan konsumsi susu nasional.
Dalam rangka memastikan Latest Program berjalan sesuai rencana, Hanif menyarankan pendekatan berbasis data dan pengujian lapangan. “Kita harus menguji berbagai variasi pakan, lingkungan, dan teknik perawatan untuk menemukan model terbaik,” katanya. Ia juga menyinggung kebutuhan pelatihan bagi peternak lokal agar bisa memanfaatkan hasil riset secara maksimal. “Pelatihan ini menjadi bagian dari Latest Program, karena tanpa pengetahuan teknis, potensi sapi tropis tidak akan tergarap sepenuhnya,” imbuhnya.
Latest Program ini diharapkan bisa menjadi bagian dari transformasi industri susu nasional menjadi lebih modern dan berkelanjutan. Dengan pengembangan sapi tropis, Indonesia bisa memenuhi kebutuhan susu dalam negeri sekaligus mengurangi risiko ketergantungan pada pasokan luar negeri. “Ini adalah langkah penting dalam membangun ekonomi nasional, karena susu merupakan sumber protein yang vital bagi masyarakat,” tutup Hanif. Harapan besar pun ditempatkan pada pelaksanaan Latest Program, yang dianggap sebagai pilar utama dalam menegakkan kemandirian susu Indonesia.
