Kemlu Siapkan Revitalisasi Museum KAA Bandung
Main Agenda – Revitalisasi Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA) Bandung menjadi salah satu Main Agenda utama Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia. Dalam persiapan ini, Kemlu menyiapkan strategi untuk memperkuat kawasan bersejarah sebagai simbol diplomasi dan perjuangan kemerdekaan. Presiden Joko Widodo pernah menyebutkan bahwa MKAA adalah pusat penggerak semangat bangsa yang selama ini dianggap sebagai bagian integral dari arsip sejarah nasional. Juru Bicara Kemlu Yvonne Mewengkang mengungkapkan bahwa revitalisasi tersebut merupakan bagian dari upaya menata ulang identitas historis bangsa dalam rangka memperkuat diplomasi budaya dan pendidikan publik.
Strategi Revitalisasi Kawasan Bersejarah
Revitalisasi MKAA Bandung akan dilakukan dalam tiga fase, yaitu preservasi fisik bangunan, digitalisasi koleksi, serta pemanfaatan maksimal arsip dan perpustakaan sejarah. Yvonne Mewengkang menjelaskan bahwa preservasi melibatkan perbaikan struktur bangunan yang kini mulai menunjukkan tanda-tanda usang, termasuk penambahan fasilitas khusus untuk pengunjung dan peneliti. Di sisi lain, digitalisasi diharapkan meningkatkan aksesibilitas informasi sejarah secara global, memanfaatkan teknologi modern seperti augmented reality dan database interaktif. Selain itu, inisiatif ini juga bertujuan untuk menghubungkan generasi muda dengan nilai-nilai konferensi tahun 1955 melalui media sosial dan program edukasi.
“Revitalisasi Museum KAA tidak hanya tentang perawatan fisik, tetapi juga tentang menjadikan ruang sejarah sebagai pembawa pesan diplomasi ke masa depan,” kata Yvonne dalam persiapan taklimat media.
Menurut rencana, kawasan ini akan menjadi pusat studi sejarah internasional, khususnya dalam kaitannya dengan peran Indonesia dalam mengisi celah geopolitik pasca-perang dunia. Kementerian Luar Negeri menekankan bahwa pengembangan MKAA adalah bagian dari Main Agenda untuk menunjukkan komitmen negara dalam memperkuat identitas nasional melalui bentuk-bentuk kegiatan sosial budaya. Proyek ini diharapkan bisa menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara, serta menjadi tempat diskusi internasional tentang hubungan antarbangsa.
Kerja Sama Internasional dalam Revitalisasi
Dalam menjalankan Main Agenda revitalisasi MKAA, Kemlu berencana menjalin kerja sama dengan negara-negara anggota Konferensi Asia Afrika, terutama Jepang, yang memiliki kontribusi signifikan dalam pembentukan Dasasila Bandung. Pada 17–19 Juni 2026, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu, Heru Subolo, melakukan kunjungan ke Jepang untuk menegaskan kolaborasi dalam hal preservasi dan pemanfaatan arsip KAA. Heru mengatakan, KAA akan menjadi contoh nyata pembelajaran kemitraan antarnegara dalam menyatukan ruang sejarah dengan kepentingan diplomasi masa kini.
“MKAA akan memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Jepang melalui pertukaran penelitian, pameran bersama, dan program pelatihan teknis,” ungkap Heru dalam kunjungan tersebut.
Kerja sama dengan Jepang juga melibatkan Museum Nasional Tokyo, yang akan menjadi mitra dalam pengembangan teknologi pengelolaan arsip sejarah. Noviasari Rustam, Kepala MKAA, menambahkan bahwa revitalisasi akan mencakup peningkatan kualitas layanan, termasuk sistem pengelolaan yang lebih modern dan pelayanan multibahasa. Selain itu, MKAA akan menjadi tempat yang lebih interaktif, dengan fasilitas digital seperti virtual tour dan aplikasi mobile yang menyajikan sejarah konferensi secara lebih menarik dan mudah dipahami.
Kerja sama dengan Jepang juga termasuk dalam Main Agenda pengembangan kawasan sejarah, yang bertujuan menciptakan ekosistem sejarah yang lebih luas dan berkelanjutan. Dua lembaga terkait, yaitu Arsip Nasional Jepang (NAJ) dan Pusat Catatan Sejarah Asia Jepang (JACAR), menyambut baik inisiatif ini. KAA akan menjadi bukti keberhasilan Kemlu dalam menggabungkan aset budaya dengan program kerja diplomatik yang relevan.
Penekanan pada Budaya dan Pendidikan
Main Agenda revitalisasi MKAA juga menitikberatkan pada pendidikan sejarah yang lebih inklusif. Dengan adanya fasilitas digital dan pameran interaktif, kawasan ini akan menjadi tempat belajar yang menarik bagi pelajar, akademisi, serta wisatawan. Noviasari Rustam menegaskan bahwa revitalisasi ini tidak hanya tentang menjaga bentuk fisik bangunan, tetapi juga tentang menyalurkan pesan politik dan diplomatik yang dibawa oleh bangsa Indonesia pada masa lalu.
“Dengan revitalisasi, kita bisa memastikan bahwa semangat Bandung tetap hidup dan bisa diakses oleh generasi muda,” jelas Noviasari dalam wawancara terpisah.
Kemlu juga berencana menggandeng lembaga pemerintah daerah serta masyarakat lokal dalam pengembangan kawasan ini. Keterlibatan masyarakat akan memastikan bahwa revitalisasi tidak hanya menjadi proyek pemerintah, tetapi juga sebuah warisan kolektif yang dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, upaya ini akan berdampak pada penguatan identitas nasional dan kerja sama internasional, sebagai bagian dari Main Agenda Kementerian Luar Negeri dalam membangun citra Indonesia di dunia internasional.
Revitalisasi Museum KAA Bandung diharapkan menjadi contoh sukses dalam pemanfaatan sejarah sebagai alat diplomasi. Dengan memperkuat ekosistem sejarah melalui kolaborasi internasional dan teknologi, Kemlu menunjukkan komitmen untuk menjadikan kawasan bersejarah sebagai pusat pendidikan dan perkenalan budaya. Pemimpin program ini menyebutkan bahwa revitalisasi akan selesai dalam 3–5 tahun ke depan, dengan pemanfaatan dana yang berasal dari beberapa sumber, termasuk anggaran Kementerian Luar Negeri dan kemitraan dengan pihak swasta.
