Humaniora

Akademisi Undiksha kembangkan aplikasi konseling cegah kekerasan anak

khrisna-edit-1788193270-10cadc7842
Foto : Christopher Moore - beritaturah.com
Table of Contents
  1. Undiksha Hadirkan Platform Digital yang Membaca Gelotak Otak Siswa demi Cegah Kekerasan di Sekolah
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Undiksha Hadirkan Platform Digital yang Membaca Gelotak Otak Siswa demi Cegah Kekerasan di Sekolah

Beritaturah.com – Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap kasus kekerasan yang menimpa anak-anak di lingkungan sekolah, sebuah tim akademik dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Bali, meluncurkan sistem informasi konseling bernama SI-Konseling Pro. Platform berbasis web ini menggabungkan pembacaan gelombang otak melalui Electroencephalography (EEG), kecerdasan buatan, serta filosofi lokal Tri Kaya Parisudha untuk membangun lapisan pencegahan baru terhadap kekerasan anak di satuan pendidikan.

Proyek ini lahir di bawah payung Program Hilirisasi Riset Strategis–Skema Pengujian Produk Tahun 2026 yang pendanaannya berasal dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Dengan kata lain, pemerintah pusat secara langsung membiayai upaya agar temuan laboratorium tidak menguap di tumpukan jurnal, melainkan benar-benar menyentuh ruang kelas.

Tim Pengembang dan Jejaring Kemitraan

Prof. Dr. Kadek Suranata memimpin tim pengembang dari Singaraja. Dalam keterangannya pada Senin, ia menegaskan bahwa proyek ini tidak berjalan sendiri. Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) serta Pengurus Daerah Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PD ABKIN) Bali dilibatkan sejak tahap perancangan. Dukungan kelembagaan juga datang dari sejumlah instansi Pemerintah Kota Denpasar dan Pemerintah Kabupaten Buleleng, sehingga implementasi di lapangan memiliki payung administratif yang jelas.

“Kami ingin riset dosen tidak berhenti sebagai publikasi atau prototipe, tetapi dapat dihilirkan menjadi inovasi yang benar-benar dimanfaatkan. Karena itu, kami memadukan EEG dan AI dengan pendekatan konseling serta nilai Tri Kaya Parisudha agar inovasi ini relevan dengan kebutuhan sekolah.”

Pernyataan tersebut merangkum filosofi di balik proyek: teknologi bukan pengganti guru BK, melainkan instrumen yang memperketat skrining awal dan pendampingan siswa secara lebih terukur. Guru tetap memegang kendali klinis; sistem hanya menyajikan data tambahan yang membantu mereka mengambil keputusan lebih cepat.

Apa yang Bisa Dilakukan SI-Konseling Pro

Platform ini mengemas beberapa modul fungsional dalam satu antarmuka. Modul pertama menjalankan asesmen Depression Anxiety Stress Scales (DASS-21), instrumen standar untuk mengukur tingkat depresi, kecemasan, dan stres pada populasi sekolah. Modul kedua menyediakan kanal konsultasi BK daring sehingga siswa dapat mengakses pendampingan tanpa harus menunggu jadwal tatap muka. Modul ketiga memungkinkan pelaporan kasus kekerasan secara terstruktur dan anonim, mengurangi hambatan psikologis bagi siswa yang ingin menyampaikan pengalaman mereka. Modul keempat menampilkan analisis EEG sebagai data pendukung dalam fase prakonseling.

Hasil pembacaan EEG tidak disajikan sebagai angka mentah. Sistem menerjemahkannya ke dalam dashboard visual yang menyoroti dua indikator utama: tingkat konsentrasi dan kapasitas regulasi emosi. Dengan demikian, konselor memperoleh gambaran kuantitatif tambahan sebelum memulai sesi pendampingan, bukan sekadar mengandalkan observasi perilaku di kelas.

Tri Kaya Parisudha sebagai Jangkar Budaya

Yang membedakan SI-Konseling Pro dari aplikasi konseling generik adalah integrasi eksplisit nilai Tri Kaya Parisudha—prinsip keharmonisan pikiran (manacika), perkataan (wacika), dan perbuatan (kayika). Nilai ini tidak sekadar menjadi label estetis; ia dijahit ke dalam alur konseling agar siswa diajak membangun pola pikir, gaya komunikasi, dan perilaku yang selaras dengan norma sosial Bali.

Untuk memastikan interpretasi data EEG tidak mengabaikan konteks lokal, tim menetapkan baseline norma neurofisiologis dari 35 subjek yang berasal dari Bali. Baseline ini menjadi acuan ketika sistem membaca sinyal otak siswa, sehingga ambang interpretasi disesuaikan dengan profil neurologis populasi setempat, bukan dengan data populasi Barat yang lazim dipakai dalam literatur EEG.

Pengujian Lapangan dan Data yang Terkumpul

Sebelum dipublikasikan secara luas, platform telah melewati fase pengujian di sejumlah sekolah mitra di Denpasar dan Singaraja. Tim mengumpulkan data baseline DASS-21 dari 400 siswa yang tersebar di delapan sekolah. Selanjutnya, uji pre-post test dilakukan terhadap 65 siswa untuk mengukur perubahan skor sebelum dan sesudah intervensi melalui sistem.

“Harapannya, SI-Konseling Pro tidak berhenti sebagai prototipe, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi solusi yang memberikan manfaat nyata bagi sekolah, khususnya dalam memperkuat layanan konseling dan menciptakan lingkungan pendidikan yang aman bagi siswa.”

Implikasi bagi Ekosistem Pendidikan Bali

Kekerasan terhadap anak di sekolah bukan hanya persoalan disiplin; ia berkaitan dengan kesehatan mental, iklim kelas, dan kualitas layanan BK yang tersedia di setiap satuan pendidikan. Di banyak sekolah, rasio satu konselor terhadap ratusan siswa membuat deteksi dini menjadi hampir mustahil dilakukan secara manual. Platform seperti SI-Konseling Pro menawarkan jalan tengah: teknologi menandai anomali, manusia menafsirkan dan bertindak.

Dengan pendanaan dari Kemendiktisaintek dan dukungan pemerintah daerah, proyek ini juga menjadi contoh konkret bagaimana hilirisasi riset perguruan tinggi dapat diarahkan pada persoalan publik yang mendesak. Jika pengembangan lanjutan berjalan sesuai rencana, model serupa berpotensi diadaptasi untuk konteks daerah lain di Indonesia, dengan penyesuaian nilai budaya lokal masing-masing wilayah.

Bagi Undiksha sendiri, langkah ini menegaskan posisi institusi sebagai penggerak inovasi yang tidak berhenti di ranah akademik. Perpaduan EEG, kecerdasan buatan, dan kearifan lokal Tri Kaya Parisudha diharapkan menghadirkan layanan konseling yang modern, humanis, dan berakar pada konteks pendidikan Bali—sebuah formula yang sulit ditiru oleh solusi generik tanpa pemahaman mendalam terhadap budaya setempat.

Frequently Asked Questions

What is Akademisi Undiksha kembangkan aplikasi konseling cegah?

Akademisi Undiksha kembangkan aplikasi konseling cegah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Akademisi Undiksha kembangkan aplikasi konseling cegah matter?

Akademisi Undiksha kembangkan aplikasi konseling cegah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment