Gubernur DIY: Pelestarian Purbakala Merawat Kesadaran Asal Usul Bangsa
Gubernur DIY – Dalam upaya memperkuat identitas nasional, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, kembali menekankan pentingnya pelestarian warisan purbakala. Acara deklarasi Mahasabha Purbakala yang berlangsung di Pasar Klangenan, Kotagede, Yogyakarta, menjadi momentum untuk menyadarkan masyarakat tentang nilai-nilai sejarah yang membentuk akar bangsa. Melalui kegiatan ini, Gubernur DIY mengajak seluruh elemen masyarakat untuk merawat dan menghargai kekayaan budaya yang telah berusia ratusan bahkan ribuan tahun.
Makna Pelestarian Purbakala dalam Pembentukan Kesadaran Nasional
Menurut Sri Sultan Hamengku Buwono X, pelestarian purbakala bukan sekadar menjaga situs sejarah atau artefak berusia ratusan tahun, melainkan cara untuk membangun kesadaran kolektif tentang asal-usul bangsa. “Merawat purbakala berarti merawat kesadaran tentang asal-usul, arah perjalanan, dan nilai yang harus dibawa menuju masa depan,” ujar Sultan HB X melalui sambutan yang dibacakan Dian Lakshmi Pratiwi, Kepala Dinas Kebudayaan DIY. Hal ini menggambarkan bagaimana warisan budaya menjadi fondasi dalam menumbuhkan rasa bangga dan kepedulian terhadap peradaban Indonesia.
Pernyataan dan Tindakan Nyata untuk Menghidupkan Warisan Budaya
Deklarasi Mahasabha Purbakala dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk pegiat budaya, arkeolog, seniman, dan pemerhati kebudayaan. Mereka sepakat menegaskan bahwa warisan purbakala adalah bagian tak terpisahkan dari identitas nasional dan harus dipertahankan secara bersama. Pernyataan tersebut mencakup 10 butir komitmen, seperti dukungan untuk menetapkan 14 Juni sebagai Hari Purbakala Nasional melalui Keputusan Presiden. Tanggal ini dipilih karena memperingati 113 tahun berdirinya lembaga kepurbakalaan di Nusantara, yang merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa.
Dalam deklarasi tersebut, para peserta menyoroti pentingnya pendidikan sejarah dan literasi budaya sebagai alat untuk mengawetkan nilai-nilai purbakala. Riris Purbasari, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X, mengatakan, “Harapan kami Hari Purbakala Nasional dapat ditetapkan agar peran serta masyarakat dalam pelestarian peninggalan dan kebudayaan secara umum bisa semakin meningkat dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.” Penetapan hari tersebut diharapkan mendorong partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk generasi muda, dalam mengenal dan menjaga warisan budaya.
Kotagede sebagai Pusat Budaya dan Tuan Rumah Deklarasi
Pemilihan Kotagede sebagai lokasi deklarasi Mahasabha Purbakala didasarkan pada status kawasan sebagai pusat budaya Kerajaan Mataram Islam. Kota ini dikenal sebagai kawasan yang menyimpan berbagai situs bersejarah, seperti Keraton Kasepuhan, Museum Kebudayaan, dan pusat pertukangan seni tradisional. Ketua Panitia Mahasabha Purbakala, Sigit Sugito, menjelaskan bahwa inisiatif ini bertujuan membangun kesadaran kolektif tentang kehidupan bangsa. “Kita upayakan hari ini bersama-sama, kita mencoba memperbaiki bangsa melalui apa yang bisa kita lakukan. Kita mulai dari situs dan artefak purbakala yang luar biasa yang ada di Indonesia,” katanya.
Kota Kotagede juga menjadi simbol kekuatan budaya lokal yang telah terbukti bertahan sepanjang berabad-abad. Sigit menegaskan bahwa kawasan ini memiliki kaitan erat dengan perjalanan kebudayaan Nusantara, sekaligus menjadi contoh bagaimana konservasi purbakala dapat menggerakkan ekonomi dan pariwisata lokal. Melalui deklarasi ini, Gubernur DIY berharap masyarakat lebih sadar akan pentingnya menjaga keberlanjutan warisan budaya, termasuk dalam konteks pembangunan modern yang tidak mengabaikan nilai-nilai tradisi.
Sebagai bagian dari komitmen ini, Sultan HB X menyoroti peran sejarah dalam memperkuat identitas bangsa. “Bangsa yang mampu merawat ingatan sejarah akan memiliki akar yang kuat dalam menghadapi perubahan zaman, sedangkan bangsa yang kehilangan ingatan sejarah perlahan akan kehilangan pijakan,” tegasnya. Pernyataan ini mengingatkan bahwa pelestarian purbakala tidak hanya tentang pengawetan fisik, tetapi juga tentang pengembangan kesadaran kolektif yang mampu menjawab tantangan zaman.
Dengan menetapkan Hari Purbakala Nasional, Gubernur DIY dan para peserta deklarasi berharap mendorong kebijakan-kebijakan yang lebih strategis dalam melindungi kekayaan budaya. Dalam konteks ini, Yogyakarta menjadi contoh nyata bagaimana daerah dapat memimpin upaya pelestarian warisan nasional. Kota yang dikenal sebagai kota budaya ini memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan purbakala, yang kemudian dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.
