Politik

Main Agenda: Berdialog terbuka, KSP pastikan arah pembangunan ke ekonomi restoratif

KSP Berdialog Terbuka dengan Mahasiswa UB tentang Ekonomi Restoratif

Main Agenda Jakarta – Pertemuan terbuka antara Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman dengan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menjadi momen penting untuk mengupas arah kebijakan pembangunan menuju ekonomi restoratif. Diskusi yang berlangsung di Malang, Jawa Timur, pada Jumat (12/6) menyajikan tema “Pertanian Pendukung Ketahanan Pangan,” yang menjadi fokus utama Main Agenda dalam mendorong transformasi sektor pertanian. Dudung menggarisbawahi bahwa pendekatan ekonomi restoratif bukan hanya strategi jangka panjang, tetapi juga alat untuk menjawab tantangan lingkungan dan kebutuhan masyarakat.

Tema dan Tujuan Pertemuan

Pertemuan ini bertujuan menggali pandangan generasi muda tentang keberlanjutan lingkungan dan efektivitas sistem ekonomi di Indonesia. Mahasiswa UB mengajukan berbagai pertanyaan, termasuk peran teknologi modern dalam meningkatkan daya tarik sektor pertanian kepada generasi muda. Dudung menjelaskan bahwa keberhasilan ekonomi restoratif bergantung pada integrasi antara kebijakan makro dan pengembangan teknologi, yang diperlukan untuk mendorong partisipasi lebih besar dari kalangan muda. “Main Agenda” dalam upaya ini adalah memastikan bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya fokus pada pertumbuhan, tetapi juga pada regenerasi sumber daya alam dan kapasitas petani mandiri.

KSP menegaskan bahwa model ekonomi restoratif harus diukur berdasarkan kemampuan memulihkan ekosistem, bukan hanya pertumbuhan angka. “Ekonomi restoratif berarti menjadikan pertanian sebagai pilar utama, sekaligus mengurangi dampak negatif pada lingkungan,” ujarnya dalam

proses dialog

yang menegaskan kebutuhan penyesuaian sistem kritis. Hal ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, di mana ketersediaan pangan dan keberlanjutan lingkungan menjadi dua elemen yang saling terkait.

Strategi dan Tantangan Transformasi

Pertanyaan mengenai tantangan swasembada pangan hingga 2045 mendorong Dudung untuk menjelaskan bahwa regenerasi petani mandiri memerlukan waktu sekitar 10–12 tahun. Ia menekankan pentingnya investasi dalam infrastruktur dan teknologi pertanian, termasuk sistem digital untuk mempercepat distribusi hasil pertanian. “Main Agenda” dalam strategi ini adalah menciptakan ekosistem yang menarik dan menguntungkan bagi petani, sambil memastikan keberlanjutan ekologis.

Dudung juga menyebutkan bahwa keberhasilan swasembada pangan tidak bisa diukur hanya dari cadangan beras di Bulog, tetapi dari kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri. Ia menyoroti kebutuhan penyesuaian sistem perpajakan dan insentif bagi petani adaptif, sebagai bagian dari Main Agenda transformasi ekonomi.

Muhammad Ziyad Husaini, mahasiswa Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem, mengingatkan bahwa inovasi riset akademik sering kali tidak terealisasi dalam industri. “Main Agenda” yang diusung harus mengintegrasikan antara penelitian dan penerapan, agar hasil karya ilmiah benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Dudung menanggapi dengan analogi militer, menyatakan bahwa ide taktis harus diiringi aksi nyata untuk mencapai hasil yang berkelanjutan.

Farhan Fariz Rizqullah, mahasiswa keempat, menyoroti kritik konstruktif terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menekankan bahwa keberhasilan Main Agenda dalam menciptakan ketahanan pangan memerlukan evaluasi terhadap sasaran program, agar sesuai dengan kebutuhan realistis masyarakat. KSP menyetujui kritik tersebut dan menyatakan bahwa hasil diskusi akan dijadikan dasar bagi strategi kebijakan di tingkat nasional.

Dalam

ujarannya

, Dudung menegaskan bahwa dialog dengan generasi muda adalah bagian integral dari Main Agenda pemerintah. Ia menambahkan bahwa keberhasilan ekonomi restoratif bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. “Main Agenda” ini tidak hanya tentang pembangunan ekonomi, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan lingkungan, serta mengubah paradigma sektor pertanian menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan.

Diskusi yang berlangsung menunjukkan bahwa transformasi menuju ekonomi restoratif tidak bisa dipisahkan dari pengembangan teknologi, perubahan pola konsumsi, dan keterlibatan aktif masyarakat. Dengan Main Agenda yang jelas, KSP berharap mampu menciptakan kebijakan yang selaras dengan visi Indonesia Emas 2045, sekaligus meningkatkan daya saing sektor pertanian di tengah tantangan global. Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk mendorong integrasi antara aspirasi masyarakat dan kebijakan nasional yang berorientasi restoratif.

Leave a Comment