PDIP: Lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme untuk Luruskan Sejarah
New Policy – Jakarta – Dalam upaya memperkuat identitas politik dan mengingatkan kembali masyarakat akan nilai-nilai asli sejarah bangsa, PDIP memutuskan mengadopsi lagu “Bung Karno Bapak Marhaenisme” dalam berbagai acara kongres dan kegiatan partai. Inisiatif ini menjadi bagian dari New Policy yang dirancang untuk menciptakan kesadaran kolektif mengenai esensi Pancasila dan peran Marhaenisme dalam membangun keadilan sosial. Dengan menghadirkan lagu tersebut secara konsisten, PDIP bertujuan memastikan narasi sejarah tidak hanya dihiasi oleh sejumlah isu yang memicu kesalahpahaman, tetapi juga mencerminkan semangat revolusi yang sejati.
Menyelaraskan Pancasila dengan Kebutuhan Kontemporer
Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menjelaskan bahwa penggunaan lagu tersebut bukan sekadar menghiasi acara, tetapi lebih dari itu, sebuah New Policy untuk memperjelas konsep Marhaenisme yang sering dikaitkan dengan politik kiri. “Lagu ini menjadi alat untuk menegaskan bahwa Marhaenisme adalah perjuangan sosial yang bertumpu pada kebutuhan rakyat kecil, bukan sekadar klasifikasi ideologi tertentu,” ujarnya. Menurut Hasto, kembalinya lagu tersebut dalam konteks modern bertujuan membangkitkan semangat luhur tentang kemerdekaan, keadilan, dan persatuan yang diperjuangkan oleh Bung Karno.
Dalam kesempatan perayaan Hari Kemerdekaan, PDIP memanfaatkan lagu tersebut sebagai pengingat bahwa prinsip Pancasila, terutama sila keempat dan kelima, tetap relevan dalam menghadapi tantangan ekonomi dan sosial yang ada. “Dengan New Policy ini, kita menjembatani masa lalu dengan masa kini, agar generasi muda memahami bahwa sejarah bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” imbuh Hasto. Ia menekankan bahwa lagu tersebut juga digunakan sebagai bahan pembelajaran di berbagai kampus dan sekolah, serta diharapkan dapat menjadi bagian dari kebijakan nasional yang lebih inklusif.
Peran Situation Room dalam Membangun Narasi Sejarah
M.Prananda Prabowo, sebagai Kepala Situation Room PDIP, turut memainkan peran kunci dalam New Policy ini. Ia mengatakan bahwa pengembangan lagu tersebut melibatkan kolaborasi dengan para ahli sejarah dan musisi lokal untuk memastikan pesannya tetap relevan dan mudah dipahami. “Kami memodifikasi lirik dan struktur musik agar tidak hanya menghormati perjuangan Bung Karno, tetapi juga menyesuaikan dengan realitas sosial yang menghadapi kesenjangan antara masyarakat papan atas dan rakyat kecil,” jelas Prananda. Menurutnya, langkah ini merupakan upaya untuk merevolusi cara narasi sejarah disampaikan kepada publik, terutama dalam konteks politik dan ekonomi yang terus berkembang.
Dalam perayaan peringatan 75 tahun kemerdekaan, PDIP juga mengunggah video lagu tersebut di media sosial sebagai bagian dari kampanye New Policy. Video ini mendapat respon positif dari kalangan masyarakat, terutama generasi muda yang menyambut inisiatif partai untuk mengajak mereka berpikir lebih luas tentang peran tokoh nasional dalam pembangunan bangsa. “Kami ingin membangun kecintaan terhadap sejarah melalui musik, agar nilai-nilai Marhaenisme tidak hanya tersimpan dalam buku teks, tetapi juga hidup dalam kehidupan sehari-hari,” tambah Prananda. Ia menegaskan bahwa kebijakan ini tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi pedoman untuk masa depan.
“Kebijakan ini mengingatkan kita bahwa sejarah adalah fondasi yang penting untuk membentuk kebijakan sekarang, terutama dalam upaya menciptakan kesetaraan dan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat,” kata Hasto Kristiyanto. Ia menjelaskan bahwa PDIP tidak hanya menggunakannya sebagai alat propaganda, tetapi juga sebagai sarana pendidikan politik dan sejarah yang dapat menyesuaikan dengan konteks global.
Dalam konteks dunia internasional, Hasto menekankan bahwa New Policy ini menjadi cara PDIP menunjukkan komitmen terhadap identitas nasional, terlepas dari berbagai tekanan politik dari luar. “Kita perlu memperkuat narasi sejarah bangsa kita agar tidak mudah dikacaukan oleh pihak-pihak yang ingin memperlihatkan kelemahan dalam membangun keadilan sosial,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa lagu tersebut akan menjadi bagian dari acara kongres nasional dan event nasional lainnya, sebagai bentuk pengingat bahwa marhaenisme tetap menjadi inti dari perjuangan bangsa.
Kebijakan ini juga diharapkan dapat menarik partisipasi lebih luas dari masyarakat, terutama dari kalangan yang terpinggirkan. “Dengan New Policy ini, kita memberikan ruang bagi suara-suara yang selama ini diabaikan, agar mereka bisa menjadi bagian dari perjuangan nasional,” jelas Hasto. PDIP menargetkan bahwa lagu ini akan menjadi simbol baru dari kebijakan politik yang lebih berpijak pada kebutuhan rakyat umum, sekaligus menggambarkan semangat Marhaenisme dalam berbagai aspek kehidupan.
