Bisnis

New Policy: Ekspor ikan segar Kaltim ke China tembus 56 ton per Bulan

Ekspor Ikan Segar Kalimantan Timur ke Tiongkok Melalui Rute Langsung Meningkat

New Policy – Dalam upaya meningkatkan daya saing produk perikanan daerah, New Policy yang diterapkan oleh Kalimantan Timur (Kaltim) berhasil mempercepat proses ekspor ikan segar ke Tiongkok. Sejak berlakunya kebijakan ini, kuantitas ekspor ikan segar ke kota Wenzhou, Tiongkok, mencapai 56 ton per bulan. Perubahan ini diakui oleh Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Penguatan Daya Saing Produk Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim, Irma Listiawati, yang menjelaskan bahwa efisiensi waktu menjadi faktor kunci dalam menjaga kualitas produk perikanan segar.

Manfaat Rute Udara Langsung untuk Perikanan Segar

“Penerbangan langsung ini menjadi kunci untuk mempertahankan kualitas kesegaran produk perikanan unggulan daerah, sehingga dapat tiba di negara tujuan dalam kondisi optimal,” kata Irma.

Dengan adanya New Policy, rute ekspor ikan segar Kaltim ke Tiongkok kini lebih cepat dan efisien. Layanan kargo udara khusus yang mulai beroperasi pada 14 Mei 2026 melalui Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, Balikpapan, mengatur jadwal penerbangan dua kali seminggu, yakni Senin dan Kamis, dengan kapasitas muatan antara 7 hingga 12 ton per penerbangan. Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan kecepatan pengiriman, tetapi juga mengurangi risiko kerusakan produk selama transportasi.

Rute udara langsung ini terbukti sangat efektif dalam menjaga kelembapan dan suhu produk ikan segar, yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Sebelumnya, produk perikanan segar Kaltim harus melewati jalur transit domestik yang memakan waktu lebih lama, sehingga berpotensi menyebabkan penurunan kualitas. Dengan New Policy, perikanan segar Kaltim kini bisa mengakses pasar Tiongkok secara lebih langsung, memberi kesempatan bagi petani dan pengusaha lokal untuk meningkatkan nilai tambah.

Strategi Ekspor yang Berkelanjutan dengan New Policy

Kebijakan baru ini tidak hanya fokus pada peningkatan volume ekspor, tetapi juga pada pengembangan infrastruktur dan sistem logistik yang lebih modern. Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltim bekerja sama dengan pihak berwenang di Tiongkok dan perusahaan ekspor lokal untuk memastikan pengiriman tetap terjaga. Selain ikan segar, produk seperti belut, kepiting bakau, dan berbagai jenis perikanan hidup juga mendapat perhatian khusus dalam New Policy.

Adanya New Policy juga mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah dengan eksportir seperti CV 3A dan PT Atlas Agung Abadi. Kedua perusahaan ini berperan penting dalam memastikan komoditas khas Kaltim memenuhi standar pasar internasional, sekaligus memperkuat rantai pasok yang terintegrasi. Kebijakan ini mengakui keberhasilan sektor perikanan dalam menghadapi tantangan global, termasuk persaingan dengan daerah lain di Indonesia Timur.

Kinerja Ekspor Perikanan Kaltim Awal Tahun 2026

Dari Januari hingga Mei 2026, ekspor perikanan Bumi Etam mencapai 1.262 ton, dengan nilai ekonomi mencapai Rp230 miliar. Angka ini menunjukkan pertumbuhan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Udang windu (black tiger shrimp) tetap menjadi komoditas paling dominan, dengan volume 769,9 ton dan kontribusi nilai penjualan Rp173,3 miliar. Namun, New Policy juga membuka peluang bagi komoditas lain, seperti ikan segar dan perikanan hidup, untuk mendapatkan pangsa pasar yang lebih luas.

Ekspor perikanan Kaltim pada masa ini diiringi peningkatan kualitas pengemasan dan pelacakan produk. Dengan New Policy, pemerintah daerah dan perusahaan ekspor bersama-sama mengadopsi standar internasional yang lebih ketat, termasuk penggunaan bahan baku lokal yang layak dan pengurangan jejak karbon melalui pengoptimalan jaringan distribusi. Kebijakan ini tidak hanya meningkatkan ekspor, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dengan menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan penghasilan para pelaku usaha perikanan.

Keterlibatan Pemerintah Daerah dalam New Policy

Pemerintah Kaltim secara aktif terlibat dalam pengembangan New Policy, termasuk melalui pendanaan infrastruktur bandara dan pelatihan petugas pengemasan. Dukungan dari pemerintah daerah memastikan bahwa kebijakan ini tidak hanya menjadi kenyataan, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang. Konsistensi kerja sama dengan eksportir lokal, seperti CV 3A dan PT Atlas Agung Abadi, menjadi fondasi utama keberhasilan New Policy dalam meningkatkan daya saing produk perikanan Kaltim.

Kebijakan baru ini juga mengintegrasikan aspek lingkungan dan sosial. Dengan mempercepat ekspor, Kaltim dapat mengurangi pemborosan energi yang terjadi selama transportasi transit. Selain itu, New Policy membantu meningkatkan kualitas hidup para nelayan dan petani perikanan dengan memastikan akses ke pasar yang lebih luas dan harga jual yang kompetitif. Peningkatan ekspor ini menjadi bukti bahwa pengelolaan sumber daya perikanan di Kaltim telah mencapai tingkat yang lebih profesional.

Peluang dan Tantangan di Masa Depan

Dengan keberhasilan New Policy dalam meningkatkan ekspor ikan segar, Kaltim kini memiliki peluang besar untuk menjadi pusat logistik perikanan utama di Indonesia Timur. Namun, tantangan seperti fluktuasi harga pasar internasional dan persaingan dengan daerah lain tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Pemerintah daerah dan industri perikanan terus berupaya mengoptimalkan New Policy melalui inovasi teknologi dan penguatan kemitraan antar-sektor.

Ekspor perikanan Kaltim pada masa ini diharapkan dapat terus tumbuh, terutama seiring peningkatan permintaan pasar Tiongkok yang stabil. New Policy menjadi salah satu langkah strategis yang mendukung ekspor dan memperkuat posisi Kaltim sebagai pelaku utama dalam industri perikanan nasional. Dengan integrasi rute udara langsung dan pengelolaan jalur laut yang terus ditingkatkan, Kaltim berpotensi menjadi contoh sukses dalam transformasi sektor perikanan melalui kebijakan yang inovatif dan terencana.

Leave a Comment