Bisnis

New Policy: Kearney: Literasi AI dan energi bersih kunci daya saing RI

Kearney: Literasi AI dan Energi Bersih Menjadi Kunci Daya Saing Indonesia

New Policy – Dalam konteks New Policy yang semakin mendesak, Kearney, konsultan manajemen global, mengemukakan bahwa penyebaran literasi kecerdasan buatan (AI) dan pengembangan akses ke energi bersih adalah dua elemen utama dalam meningkatkan daya saing Indonesia di perekonomian era digital. Presiden Direktur Kearney Indonesia, Shirley Santoso, dalam sebuah wawancara terbaru menggarisbawahi bahwa keberhasilan Indonesia dalam menghadapi transformasi ekonomi berbasis AI tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kemampuan masyarakat dalam memahami dan mengaplikasikannya secara efektif. Dengan New Policy yang diusung pemerintah, diperlukan langkah konkret untuk memperkuat kedua aspek ini sebagai kekuatan kompetitif nasional.

Transformasi Digital: Peluang dan Tantangan yang Tidak Bisa Dihalangi

Menurut laporan Kearney, transformasi digital memaksa negara-negara untuk mengubah paradigma pengembangan ekonomi. Sektor yang sebelumnya bergantung pada keunggulan biaya tenaga kerja, modal, dan infrastruktur fisik kini bergerak ke arah penguasaan kecerdasan buatan dan keunggulan inovasi. Hal ini menimbulkan peluang besar bagi Indonesia, tetapi juga tantangan dalam menyesuaikan sumber daya manusia dan infrastruktur digital. New Policy dalam bidang AI, yang saat ini sedang dijalankan, bertujuan untuk mengatasi kesenjangan antara kemajuan teknologi dan siapnya tenaga kerja.

“Tantangan utama dalam perekonomian AI adalah jarak antara penerapan teknologi dan kesiapan SDM. New Policy harus menjadi jembatan untuk mempercepat transformasi ini,” kata Santoso.

KLASIFIKASI EKONOMI DUNIA DAN STRATEGI New Policy untuk Indonesia

Laporan Kearney yang berjudul “How the Economic Development Model Is Being Rewritten by AI” membagi 67 perekonomian global ke dalam lima kategori, termasuk kelompok negara berkembang. Indonesia berada di kategori ini, sehingga New Policy harus menekankan penguatan SDM, infrastruktur digital, dan ekosistem inovasi sebagai prioritas. Menurut Santoso, kesiapan ekonomi Indonesia dalam memanfaatkan AI sangat berkaitan dengan keberhasilan dalam mengubah teknologi menjadi keunggulan kompetitif. New Policy yang diusung pemerintah, dengan pendekatan yang holistik, dapat menjadi fondasi untuk mencapai hal tersebut.

POTENSI EKONOMI AI DAN DAMPAK New Policy pada Sektor Riset

Kearney memproyeksikan bahwa AI generatif bisa memberikan nilai ekonomi global hingga 4,4 triliun dolar AS per tahun. Dengan New Policy yang mendukung penerapan teknologi di berbagai sektor, seperti layanan pelanggan, pemasaran, pengembangan perangkat lunak, hingga riset dan inovasi, Indonesia bisa mengejar potensi tersebut. Tomoo Sato, partner Kearney dan penulis laporan, menekankan bahwa New Policy bukan hanya tentang adopsi teknologi, tetapi juga tentang perubahan cara berpikir dalam pembangunan ekonomi. “Negara yang sukses di era AI bukan lagi yang menawarkan biaya tenaga kerja murah, melainkan yang mampu membangun kemampuan, infrastruktur, dan ekosistem untuk menghasilkan nilai ekonomi dari AI secara besar-besaran,” tutur Sato.

INFRASTRUKTUR DAN PENDIDIKAN: PERAN New Policy dalam Memperkuat Daya Saing

Penerapan AI secara masif memerlukan kebutuhan listrik yang signifikan. Diperkirakan, konsumsi energi untuk pusat data global akan meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 415 TWh pada 2024 menjadi 945 TWh pada 2030. New Policy harus mencakup strategi pengembangan energi bersih sebagai komponen kritis dalam memastikan keberlanjutan perekonomian AI. Selain itu, kebutuhan talenta digital diperkirakan mencapai 12 juta pada 2030, sementara pasokan saat ini hanya sekitar 9,3 juta. Kesenjangan ini bisa diatasi melalui pendidikan dan pelatihan yang terstruktur dalam kerangka New Policy nasional.

PERAN INDUSTRI SEMIKONDUKTOR dan New Policy dalam Rantai Pasok Global

Kearney menyoroti peluang Indonesia dalam memperkuat posisi sebagai bagian dari rantai pasok AI global. Pemerintah melihat potensi pengembangan industri semikonduktor sebagai strategi penting dalam New Policy. Sumber daya mineral strategis seperti nikel, kobalt, timah, pasir silika, dan seng menjadi dasar untuk menciptakan ekosistem yang mendukung inovasi teknologi. New Policy juga harus mencakup kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan akademisi untuk meningkatkan kemampuan produksi komponen AI, sehingga meminimalkan ketergantungan pada impor.

STRATEGI New Policy: Langkah Kritis dalam Menghadapi Perubahan Ekonomi

Pemerintah Indonesia sedang menyiapkan Peta Jalan AI sebagai bagian dari New Policy yang dijalankan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Peta Jalan ini mencakup sejumlah inisiatif, seperti penguatan talenta digital, infrastruktur komputasi, dan pengembangan ekosistem inovasi. Menurut Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, adopsi AI di Indonesia sudah mencapai 92 persen pada Februari 2026, tetapi New Policy harus menjadi penggerak utama agar adopsi ini diimbangi dengan peningkatan kapasitas nasional. Dengan demikian, New Policy bisa menjadi jaminan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga pengembang dan pionir teknologi di tingkat global.

Leave a Comment