PLN EPI: CBG perkuat transisi dan kemandirian energi nasional
PLN EPI, singkatan dari PT PLN Energi Primer Indonesia, menegaskan peran strategis gas biometana terkompresi (CBG) dalam mempercepat proses transisi energi dan meningkatkan kemandirian energi nasional. Dalam sebuah wawancara di Jakarta, Senin, Hokkop Situngkir, Direktur Biomassa PLN EPI, menyampaikan bahwa CBG berpotensi menjadi solusi efektif untuk mengurangi emisi metana serta mengatasi ketergantungan pada gas alam cair (LNG). Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, seperti limbah sawit, PLN EPI berupaya mengintegrasikan energi terbarukan ke dalam sistem listrik nasional.
Kontribusi CBG terhadap dekarbonisasi
Menurut Hokkop, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengubah limbah sawit menjadi sumber energi rendah karbon. “Limbah cair kelapa sawit, yang selama ini dianggap sebagai sampah, dapat menjadi bahan baku alternatif yang ekonomis dan ramah lingkungan,” jelasnya. Teknologi pengolahan CBG dipandang sebagai alat penting untuk mendukung target dekarbonisasi nasional, karena sumber bahan baku, teknologi, dan finansial sudah tersedia. Yang dibutuhkan adalah skema bisnis yang inovatif agar adopsi CBG dapat ditingkatkan secara signifikan.
PLN EPI menekankan bahwa proyek CBG tidak hanya berdampak lingkungan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi ekonomi. Dengan mengubah limbah menjadi energi, perusahaan ini membuka peluang baru bagi industri kelapa sawit untuk berperan dalam transisi menuju energi bersih. Selain itu, penggunaan CBG bisa mengurangi risiko ketergantungan pada bahan bakar impor, yang menjadi tantangan utama dalam sektor energi.
Potensi limbah sawit dan emisi metana
Indonesia memiliki sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit yang menghasilkan limbah cair sebanyak 130 juta meter kubik per tahun. Sayangnya, hingga kini sebagian besar limbah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Limbah POME, yang berasal dari proses pengolahan kelapa sawit, merupakan salah satu penyumbang emisi metana terbesar di sektor pertanian. PLN EPI memperkirakan, emisi karbon dari limbah sawit mencapai sekitar 20 juta ton CO2e setiap tahun.
Dengan adanya CBG, limbah sawit bisa diubah menjadi energi yang bermanfaat. Hokkop menjelaskan bahwa teknologi ini mampu mengurangi dampak lingkungan sekaligus mengisi celah dalam pasokan energi. “CBG tidak hanya mendukung penurunan emisi, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem energi yang lebih mandiri,” ujarnya. Dalam konteks keberlanjutan, PLN EPI berupaya memastikan bahwa setiap unit produksi CBG berkontribusi pada pengurangan emisi sebesar 500 ribu ton CO2e per tahun.
Pelaksanaan proyek cofiring di PLTGU Belawan
Sebagai contoh nyata, PLN EPI tengah mendorong proyek cofiring CBG di PLTGU Belawan, Medan, Sumatera Utara. Proyek ini menargetkan penggunaan 450 MMBTUD bio-CBG per turbin gas berkapasitas 130 megawatt (MW), yang berasal dari 330.000 meter kubik limbah POME per tahun. Untuk melayani empat turbin di lokasi tersebut, PLN EPI membutuhkan empat fasilitas CBG dengan total investasi sekitar 20 juta dolar AS.
“Implementasi cofiring CBG di PLTGU Belawan diprediksi mampu mengurangi emisi hingga 500 ribu ton CO2e setiap tahun,” tutur Hokkop. Proyek ini menunjukkan bahwa PLN EPI tidak hanya fokus pada pengembangan energi terbarukan, tetapi juga mendorong penggunaan sumber daya lokal secara efisien.
Strategi jangka panjang dan dampak ekonomi
Dalam roadmap pengembangan energi, PLN EPI menargetkan peningkatan kapasitas produksi CBG dari 1.000 MMBtu pada 2026 menjadi 2.957 BBTU pada 2030. Simulasi yang dilakukan menunjukkan bahwa satu proyek CBG bisa menciptakan nilai ekonomi hingga Rp1,7 triliun serta mengurangi emisi sekitar 700 ribu ton CO2e per tahun. Target ini mencerminkan komitmen PLN EPI untuk mengintegrasikan energi terbarukan ke dalam sistem listrik nasional secara bertahap.
“Bioenergi menjadi jembatan antara transisi energi, ketahanan energi, dan ekonomi kerakyatan. Limbah yang selama ini menjadi sumber emisi dapat diubah menjadi sumber energi yang bernilai tambah sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional,” tambah Hokkop.
Pengembangan CBG menunjukkan bahwa transisi energi bisa berawal dari sumber daya lokal, seperti limbah sawit. Selain menekan emisi metana, solusi ini juga membantu mengurangi ketergantungan pada LNG serta mendorong sistem energi berkelanjutan berbasis sumber daya dalam negeri. Dengan pendekatan ini, PLN EPI berharap dapat mempercepat proses decarbonisasi tanpa mengorbankan kebutuhan energi masyarakat.
