Visit Agenda: Wagub Tinjau Warga Terdampak Gempa Bumi di Sigi, Sulteng
Visit Agenda yang dilakukan oleh Wagub Sulawesi Tengah, Reny A. Lamadjido, menjadi langkah penting dalam upaya mengevaluasi kondisi warga yang terkena dampak gempa bumi tektonik berkekuatan 6,7 skala magnitudo. Gempa tersebut terjadi pada Selasa, dan memberikan dampak signifikan di Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi. Visit Agenda ini bertujuan untuk memastikan bahwa kebutuhan mendesak masyarakat terpenuhi, serta meninjau langsung kondisi infrastruktur dan layanan bantuan yang telah diberikan.
“Kehadiran kami di lapangan adalah untuk melihat langsung kondisi warga, mendengar keluhan mereka, dan memastikan bahwa proses penanganan darurat berjalan optimal,” ujarnya saat berkunjung ke lokasi terdampak, Selasa.
Visit Agenda ini juga memberikan kesempatan bagi Wagub untuk berinteraksi dengan warga secara langsung, termasuk memastikan koordinasi antara pemerintah provinsi, kabupaten, dan lembaga terkait berjalan selaras. Dalam sesi dialog yang dilakukan, Wagub mendapatkan masukan mengenai prioritas bantuan dan kendala yang dihadapi warga dalam pemulihan.
Upaya Penanganan Darurat Pasca-Gempa
Setelah Visit Agenda di Kecamatan Nokilalaki, pemerintah daerah telah mengambil sejumlah langkah untuk menangani situasi darurat. Pengerahan alat berat menjadi salah satu fokus utama dalam mengevakuasi warga dari area yang berisiko, sementara tenda darurat dan dapur umum telah didirikan untuk memenuhi kebutuhan makanan dan tempat tinggal. Selain itu, bantuan logistik seperti beras, minyak, dan perlengkapan kebutuhan dasar juga terus didistribusikan kepada korban gempa.
Wagub menyampaikan bahwa Visit Agenda ini bukan hanya sebagai bentuk kepedulian pemerintah, tetapi juga untuk mengawasi efektivitas respons darurat yang dilakukan. “Kami memastikan bahwa bantuan yang diberikan tepat sasaran dan efisien, karena warga butuh dukungan segera untuk pulih,” tambahnya. Koordinasi dengan tim darurat, relawan, dan organisasi penyantunan menjadi kunci dalam mempercepat proses pemulihan.
Kerusakan dan Dampak Gempa di Sigi
Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa bumi tersebut menyebabkan satu korban meninggal dunia dan 312 warga terdampak. Kabupaten Sigi menjadi wilayah terparah, dengan 272 jiwa atau 89 kepala keluarga (KK) yang mengalami kerusakan rumah. Tambahan 22 warga mengalami luka ringan, sedangkan 13 lainnya mengalami cedera berat. Visit Agenda Wagub bertujuan untuk memahami kebutuhan spesifik masyarakat yang terkena dampak, termasuk kondisi rumah dan fasilitas umum.
Kerusakan terbesar terjadi di area yang menjadi sentra kehidupan masyarakat. Dari total 47 rumah yang rusak, 23 unit mengalami kerusakan ringan, enam unit sedang, dan 12 unit parah. Selain itu, enam fasilitas ibadah, dua gedung perkantoran, satu jembatan, serta satu usaha mikro kecil menengah (UMKM) juga mengalami gangguan. Dampak gempa ini tidak hanya terbatas pada infrastruktur, tetapi juga berpengaruh pada aksesibilitas dan keselamatan warga, sehingga Visit Agenda ini menjadi penting untuk meninjau semua aspek yang perlu diperbaiki.
Visit Agenda yang dilakukan Wagub juga menyoroti kerja sama antar sektor dalam merespons bencana alam. Pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten, institusi keamanan, dan tim penanggulangan bencana terus berupaya menyelaraskan kebutuhan warga dengan alokasi sumber daya yang tersedia. Wagub mengakui bahwa keberhasilan penanganan darurat bergantung pada sinergi semua pihak, dan Visit Agenda menjadi cara untuk memastikan koordinasi tersebut berjalan optimal.
Dalam Visit Agenda ini, Wagub juga mengunjungi beberapa titik lokasi yang berisiko tinggi, seperti daerah rawan longsor atau gempa susulan. Ia menegaskan bahwa pemantauan terus dilakukan untuk mencegah dampak lanjutan dari bencana. “Kami tidak hanya fokus pada kebutuhan saat ini, tetapi juga memastikan bahwa langkah-langkah preventif telah diperhitungkan,” jelasnya. Dengan demikian, Visit Agenda ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam menghadapi bencana alam di daerah rawan seperti Sulteng.
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa berada di darat pada koordinat 1,03 derajat lintang selatan dan 120,24 derajat bujur timur dengan kedalaman 10 kilometer. Episenter berada sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu, 54 kilometer timur laut Kabupaten Sigi, 70 kilometer barat laut Kabupaten Poso, serta 81 kilometer tenggara Kabupaten Donggala. Gempa ini terjadi sebagai bagian dari rangkaian gempa yang telah melanda wilayah Sulawesi Tengah dalam beberapa bulan terakhir, memperkuat kebutuhan untuk Visit Agenda yang berkelanjutan.
