Politik

Seskab: Pertamax BBM nonsubsidi – harganya ikut harga minyak dunia

Seskab: Pertamax BBM nonsubsidi – harganya ikut harga minyak dunia

Seskab membuka pembahasan soal harga Pertamax BBM nonsubsidi dengan menegaskan bahwa harga bahan bakar ini selalu disesuaikan langsung dengan pergerakan harga minyak dunia. Menurut penjelasan Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet, Pertamax termasuk jenis BBM nonsubsidi yang tidak diberi subsidi oleh pemerintah. Hal ini berbeda dengan BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, yang harganya tetap stabil meski harga minyak internasional mengalami kenaikan signifikan. Seskab menjelaskan bahwa kebijakan penyesuaian harga Pertamax adalah langkah yang diambil untuk menjaga keberlanjutan pasokan bahan bakar dan mengurangi defisit neraca energi Indonesia.

Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi oleh Pertamina

Sejak awal tahun 2026, Pertamina melakukan penyesuaian harga Pertamax sebagai respon atas fluktuasi harga minyak dunia. Seskab menyatakan bahwa keputusan ini tidak hanya didasarkan pada perubahan harga internasional, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik dan kebutuhan pemerintah untuk mengoptimalkan pendapatan dari sektor energi. Dalam wawancara terbaru, Teddy menegaskan bahwa harga Pertamax yang baru ditetapkan di Rp16.250 per liter, naik dari Rp12.300 per liter sebelumnya, menjadi bagian dari upaya ini. Ia menjelaskan bahwa BBM nonsubsidi seperti Pertamax memiliki mekanisme harga yang lebih fleksibel dibandingkan BBM bersubsidi, yang terus menikmati subsidi hingga kini.

“Kenaikan harga Pertamax bukan sekadar ikut naiknya harga minyak dunia, tetapi juga mencerminkan upaya pemerintah untuk meratakan biaya produksi dan distribusi bahan bakar,”

kata Teddy dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh Seskab. Pernyataan ini berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), yang menunjukkan bahwa inflasi terkait bahan bakar memang meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Seskab menekankan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk mencegah ketergantungan terlalu besar pada subsidi dan menjaga stabilitas harga BBM secara jangka panjang.

Seskab juga menyebutkan bahwa harga Pertamax di Indonesia masih lebih terjangkau dibandingkan BBM RON 92/95 di sejumlah negara Asia Tenggara. Dalam laporan yang diunggah ke situs resmi pemerintah, Seskab membandingkan harga Pertamax dengan BBM nonsubsidi di Filipina (Rp22.158 per liter), Laos (Rp31.945), Thailand (Rp28.910), Myanmar (Rp25.085), dan Singapura (Rp42.971). Meski terjadi penyesuaian, harga Pertamax di Indonesia tetap berada di bawah rata-rata harga BBM nonsubsidi di negara-negara tersebut. Seskab menyatakan bahwa kebijakan ini tidak hanya memperhatikan kenaikan harga minyak, tetapi juga mencerminkan strategi pemerintah dalam menyeimbangkan kebutuhan ekonomi masyarakat dan keuntungan perusahaan.

Konteks Aksi Demonstrasi Mahasiswa

Aksi unjuk rasa mahasiswa yang berlangsung di Bundaran HI, Jakarta, pada Jumat (10 Juni 2026) menjadi momentum untuk mendiskusikan kebijakan harga BBM. Dalam aksi tersebut, peserta demo membagikan informasi tentang kenaikan harga Pertamax dan menuntut pemerintah untuk menyesuaikan kebijakan harga bahan bakar. Seskab menanggapi keberatan ini dengan menyebutkan bahwa kenaikan harga Pertamax adalah hasil dari kebijakan yang telah diterapkan sejak beberapa bulan sebelumnya. Seskab menjelaskan bahwa BBM nonsubsidi adalah satu-satunya jenis bahan bakar yang mengalami penyesuaian harga, sementara BBM bersubsidi tetap dipertahankan dalam harga yang stabil untuk meringankan beban masyarakat.

Menurut Seskab, kebijakan penyesuaian harga Pertamax juga diikuti oleh perusahaan minyak lainnya, seperti Shell dan ExxonMobil, yang juga menyesuaikan harga BBM mereka sesuai dengan kenaikan harga minyak dunia. Pernyataan ini menjadi bahan perdebatan di media sosial, di mana sebagian masyarakat mengkritik kebijakan tersebut karena dinilai tidak memberi dampak signifikan terhadap kebutuhan sehari-hari. Namun, Seskab berargumen bahwa perubahan harga BBM nonsubsidi adalah langkah wajib untuk mengikuti dinamika pasar global dan menjamin keberlanjutan ekonomi sektor energi.

Menyikapi kritik terhadap kebijakan harga BBM nonsubsidi, Seskab menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga stabilitas harga bahan bakar subsidi. Dalam sesi wawancara, Teddy menyebutkan bahwa kebijakan ini tidak diambil secara impulsif, melainkan setelah analisis menyeluruh terhadap kondisi pasar dan kebutuhan masyarakat. Seskab juga menyampaikan bahwa kenaikan harga Pertamax tidak berdampak langsung pada masyarakat umum, karena penggunaan BBM nonsubsidi lebih banyak diperuntukkan bagi sektor industri dan transportasi yang beroperasi secara komersial. Namun, Seskab tetap berupaya untuk meminimalkan dampak sosial melalui kebijakan subsidi yang terus dijaga.

Leave a Comment