CORE Dorong Hilirisasi Kelapa Sebagai Fokus New Policy Perkebunan Rakyat
New Policy – Program perkebunan rakyat akan mengalami perubahan signifikan di bawah New Policy yang dicanangkan oleh Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia. Eliza Mardian, peneliti dari CORE, menyoroti bahwa hilirisasi kelapa, yaitu proses pengolahan bahan baku menjadi produk yang bernilai tambah, harus menjadi prioritas dalam upaya memperkuat sektor pertanian rakyat. Dalam wawancara dengan ANTARA di Jakarta, Senin, ia menekankan bahwa kelapa memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan petani jika diolah secara lebih intensif di dalam negeri.
Potensi Ekspor Kelapa Masih Terbuka
Menurut data Kementerian Pertanian, ekspor kelapa dan produk turunannya dari Januari hingga Oktober 2025 mencapai sekitar 2,48 miliar dolar AS atau setara Rp44,2 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa pasar ekspor untuk produk kelapa masih luas, terutama di negara-negara Asia seperti Tiongkok, Malaysia, Singapura, Belanda, dan Thailand. Eliza menambahkan bahwa peluang ini bisa dimaksimalkan jika pemerintah dan pelaku usaha bersama-sama mendorong hilirisasi melalui New Policy yang dirancang untuk mendorong transformasi industri.
“Ekspor kelapa bulat Indonesia masih dominan, namun nilai tambah dari produk olahan kelapa belum optimal. Hal ini menunjukkan bahwa kita masih bisa meningkatkan kinerja ekspor melalui hilirisasi yang lebih baik,” ujar Eliza dalam wawancara tersebut.
Perluasan hilirisasi kelapa akan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan baku mentah. Dengan mengolah kelapa menjadi produk seperti tepung kelapa, minyak kelapa, atau produk makanan, nilai ekonomi komoditas ini bisa meningkat secara signifikan. Eliza menyebutkan bahwa New Policy ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pengembangan industri hilir, termasuk memastikan bahwa keuntungan ekonomi berpindah ke masyarakat lokal.
Industri Hilir Kelapa Masih Menghadapi Tantangan
Saat ini, industri hilir kelapa di Indonesia masih menghadapi berbagai hambatan, seperti ketidakmerataan akses teknologi dan infrastruktur. Contohnya, ekspor kopra hanya mencapai sekitar 52 juta dolar AS per tahun, sementara ekspor minyak kelapa mentah mencapai 333 ribu ton pada 2024. Dalam konteks New Policy, Eliza menyoroti bahwa pemerintah perlu memberikan dukungan lebih besar kepada pengusaha kecil dan menengah (UKM) untuk mengembangkan pabrik pengolahan kelapa di daerah-daerah produksi.
Dukungan tersebut bisa berupa insentif pajak, akses ke pinjaman, atau pembinaan teknologi. Eliza menegaskan bahwa hilirisasi kelapa tidak hanya berdampak pada perekonomian nasional, tetapi juga membuka peluang kerja dan penghasilan bagi masyarakat pedesaan. Dengan New Policy, ia berharap program perkebunan rakyat bisa menjadi pendorong utama dalam transformasi industri kelapa menjadi sektor yang lebih berkelanjutan dan kompetitif.
Dalam konteks kebijakan luar negeri, permintaan pasar internasional terhadap produk olahan kelapa semakin meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa ada potensi untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia dalam kategori makanan dan bahan baku. Eliza menekankan bahwa New Policy perlu melibatkan kerja sama antara pemerintah, swasta, dan komunitas petani untuk menciptakan jaringan pasok yang efisien dan memastikan produk olahan bisa menjangkau pasar global.
Strategi Hilirisasi untuk Meningkatkan Daya Saing
Eliza mengungkapkan bahwa hilirisasi kelapa harus diintegrasikan dalam berbagai aspek kebijakan, mulai dari pendidikan teknis hingga pemasaran. Dalam New Policy, ia menyarankan pemerintah memperkuat program pelatihan kepada petani untuk mengenali proses pengolahan kelapa, serta mendorong pengembangan kebun rakyat yang terpusat pada produksi bahan baku berkualitas tinggi. Selain itu, pemerintah perlu memberikan fasilitas khusus bagi UKM untuk menurunkan biaya produksi dan meningkatkan kualitas produk.
Dalam jangka panjang, hilirisasi kelapa juga bisa membantu mengurangi risiko ketergantungan pada harga pasar bahan baku mentah. Eliza menyoroti bahwa produk olahan kelapa, seperti tepung kelapa atau bahan baku makanan, memiliki potensi untuk menciptakan nilai tambah yang lebih stabil. Dengan New Policy, ia berharap industri kelapa Indonesia bisa menyaingi negara-negara tetangga seperti Filipina yang telah lebih maju dalam pengolahan produk kelapa.
Program perkebunan rakyat yang diarahkan pada hilirisasi kelapa tidak hanya berdampak pada perekonomian, tetapi juga pada lingkungan. Eliza menekankan bahwa pengolahan kelapa secara lokal bisa mengurangi emisi karbon dari transportasi bahan baku mentah ke luar negeri. Dengan New Policy, ia berharap ekosistem perkebunan rakyat bisa menjadi model yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Selain itu, pengembangan industri hilir akan memastikan bahwa keuntungan dari pertanian rakyat bisa bertahan lebih lama dan merata.
