Key Strategy: Baznas Perkuat Zakat Produktif untuk Hadapi Krisis Global
Key Strategy – Dalam menghadapi tantangan krisis global, Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) menetapkan key strategy berupa penguatan zakat produktif sebagai pilar utama dalam membangun ketahanan ekonomi. Kebijakan ini diusung oleh Syarifuddin, ketua Baznas RI Bidang Riset, Pengembangan, Perencanaan, dan Inovasi, dalam seminar Islamic Economic Outlook 2026 yang diadakan di Jakarta. Menurutnya, key strategy ini tidak hanya mendukung keamanan sosial, tetapi juga menjadi alat untuk mendorong kekuatan ekonomi masyarakat dalam jangka panjang. Zakat produktif diharapkan mampu memperkuat kapasitas ekonomi individu dan kelompok, serta menciptakan ekosistem yang lebih inklusif.
“Zakat produktif adalah bagian dari key strategy yang menekankan pemberdayaan, bukan sekadar distribusi,” ujar Syarifuddin setelah menghadiri acara seminar tersebut. Ia menegaskan bahwa mustahik (penerima zakat) harus memiliki kesempatan untuk mengembangkan sumber daya mereka, meski ekonomi global sedang tidak stabil. Zakat yang dikelola secara efisien dapat menjadi motor penggerak bagi keberlanjutan perekonomian.
Krisis global yang terjadi saat ini, seperti kenaikan inflasi dan turunnya daya beli masyarakat, memaksa Baznas untuk mengoptimalkan key strategy ini. Syarifuddin menjelaskan bahwa sektor riil mengalami tekanan signifikan, sehingga perlu ada inisiatif yang lebih proaktif untuk mengubah zakat menjadi alat penguatan ekonomi. Zakat produktif diharapkan mampu berperan dalam mempercepat peningkatan kapasitas produksi dan distribusi, serta memperkuat ekonomi lokal melalui pengelolaan yang lebih tepat.
Strategi Digital untuk Memperkuat Zakat Produktif
Sebagai bagian dari key strategy, Baznas RI tengah mendorong transformasi zakat melalui digitalisasi. Langkah ini bertujuan meningkatkan transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas dalam distribusi zakat. Dengan sistem digital, program pemberdayaan ekonomi dapat diukur secara real-time, serta mendorong partisipasi masyarakat yang lebih luas. Digitalisasi juga memungkinkan kolaborasi lintas sektor untuk mengembangkan solusi zakat yang lebih inovatif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Syarifuddin menambahkan bahwa key strategy digitalisasi zakat merupakan langkah strategis untuk menjawab dinamika pasar yang semakin cepat. Dengan memanfaatkan teknologi, Baznas dapat mengakses data yang lebih akurat, mengidentifikasi mustahik yang paling membutuhkan, serta mengoptimalkan alokasi dana zakat. Hal ini juga memperkuat kemampuan Baznas dalam menghadapi perubahan ekonomi global yang mempercepat kebutuhan transformasi struktural.
Di samping itu, key strategy ini didukung oleh upaya hilirisasi industri halal yang menjadi bagian dari pembangunan ekonomi nasional. Febrian Alphyanto Ruddyard, Wakil Menteri PPN/Bappenas, menyoroti bahwa ekonomi Islam, termasuk zakat produktif, adalah elemen penting dalam mewujudkan ketahanan ekonomi. Ia menekankan bahwa penguatan sektor ini akan memberikan dampak jangka panjang, karena menawarkan kerangka yang menggabungkan pertumbuhan, keadilan, dan keberlanjutan. Dengan key strategy yang terpadu, Indonesia dapat menjadi contoh keberhasilan dalam perekonomian berbasis zakat.
Baznas juga berupaya mengintegrasikan key strategy zakat produktif dalam berbagai program pemberdayaan ekonomi, seperti pelatihan keterampilan, pengembangan usaha mikro, dan pembentukan ekosistem keuangan syariah. Tujuannya adalah menciptakan peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat, terutama dalam situasi krisis. Selain itu, Baznas mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berpartisipasi aktif dalam membangun sistem zakat yang lebih produktif dan efektif. Dengan key strategy ini, zakat diharapkan bisa menjadi pilar utama dalam pembangunan ekonomi nasional.
